CHAPTER 1

SUNDAY

10.08 am

“Katharine, aku yakin kau tak ingin jalan cerita ini.”

“Tak lain denganmu, George. Namun, tak dapat dipungkiri lagi, kita tak dapat…”

“Bersatu? Karena alasan itu? Karena takdir, kau katakan? Persetan dengan takdir!”

“Tidak. Tidak, George. Semua telah digariskan. Kau, seorang pangeran Gyrol… Gyron… ergh…” kalimat terputus, cukup lama. Lalu terdengar teriakan seorang cowok dari bangku penonton.

“Selalu! Selalu di bagian yang sama! Gyrone-Lyon! Apa susahnya, Irena?!”

Seorang cewek yang berdiri di atas panggung yang salah mengucapkan nama kerajaan itu menoleh jengkel, sambil mengubaskan rambut hitam panjangnya yang dikucir.

“Robin, sudah aku minta untuk menyederhanakannya sedikit! Artinya, tanpa pengucapan a la Perancis!” Lalu, cowok lawan mainnya yang berperan sebagai Pangeran George dari Gyrone-Lyon, menyahut,

“Buatku gak masalah. Gyrone-Lyon. Gampang.”

“Oh, ayolah, KC! Kamu memang ambil kursus bahasa Perancis! Gak bakal susah!” KC (Key-Si, baca seperti itu), si cowok mengangkat bahu, kemudian berkata,

“Gyrone-Lyon bahkan gak sepenuhnya berbahasa Perancis. Oke, gak semua penonton bakal memperhatikan apa nama kerajaanku. Jadi, take it easy dan mulai latihan lagi. Akan buang-buang waktu kalau kita terhenti begitu lama cuma karena pengucapan Gyrone-Lyon.” Robin, cowok yang duduk di bangku penonton mengangguk, dan berteriak penuh syukur.

“KC, terima kasih sudah membuat tugasku lebih mudah. Terutama, saat adegan pemberian kalung berlian, aku tekankan sekali lagi, jangan sampai salah! Salah satu sponsor kita sudah dengan berbaik hati mau meminjamkan kalung berlian asli. Jadikan itu adegan terbaik kita!! Nah, semua siap?! Ulangi dari line 31! Vania!” lalu cewek agak-gendut berambut coklat-ikal-sebahu yang bernama Vania menoleh,

“Ya?”

“Masuk!” komando Robin cepat seraya meluruskan topi baseball lusuh yang dikenakannya. Menunggu perintah selanjutnya, di backstage, Irena mengambil botol minum berwarna biru-laut miliknya.

“Ugh, aku grogi.” Keluh Irena sebelum menenggak beberapa teguk. KC, yang baru saja minum, menyeka sisa air dengan lengan T-shirt-nya.

“Ini baru latihan biasa. Gak ada yang grogi.”

“Aku tahu, harusnya aku gak grogi! Tapi, kalau kamu jadi aku, apa kamu gak grogi saat kamu latihan disaksikan oleh saudaramu?”

“Ada saudaramu di pertunjukan ini? Siapa?” Irena mengangguk mendengar pertanyaan KC itu, tapi sebelum menjawab, Robin keburu berteriak, “MULAI!”. Sedikit gelagapan, Irena melangkah masuk ke panggung, dan mulai beradu akting dengan Vania sebagai salah satu pelayan Putri Katharine.

Irena Crosshale, gadis berumur 17 tahun yang cantik dan berkepribadian menarik, dan juga bintang utama drama ini. Irena diterima sebagai aktris utama setelah mengalahkan – kira-kira – 20 gadis lain. Konsekuensinya, ia harus rela mengerjakan beberapa paper sebagai ganti pelajaran-pelajaran yang tertinggal dari high-school-nya. Sementara itu, KC – yang sampai saat ini menolak mentah-mentah dipanggil Karel Collinette – berumur 17 tahun juga, harus rela meninggalkan kegiatan klub sepak-bola-nya atas ancaman Robin. Padahal dia kapten. Ah, Robin, sang sutradara. Jangan terkecoh dengan namanya, dan jangan sekalipun punya bayangan atas Robin Hood maupun Robin partner dari Batman. Hanya penyesalan yang akan didapat begitu tahu bahwa… Ehem, jauh dari perkiraan.

Drama yang akan ditampilkan di Teater Wingsdale berjudul ‘Prince and Princess’. Rumor yang beredar terus mengatakan bahwa walikota, beberapa pejabat penting, dan wakil dari universitas akan hadir di premier drama ini. Jadi, bagi beberapa pemeran, bermain bagus di drama ini sangatlah penting bagi kelanjutan studi mereka. Ya, apalagi yang mereka harapkan selain beasiswa?

16.39 pm

“Terus, Kel! Sedikit lagi sampai!! AYO!!” Teriak Irena menyemangati Kelly, sohibnya, yang sedang berlatih berenang-gaya-bebas. Namun, tak sanggup lagi, Kelly berhenti di tengan kolam.

“Argh, aku capek!” keluh Kelly. Dari tepi kolam, kali ini Irena yang berenang, gaya bebas juga. Dengan sukses ia berhenti di seberang tanpa berhenti. Kemudian Irena menatap Kelly yang sedang berjalan menghampirinya.

“Kel, aku ajak kamu berenang gak cuma untuk main-main.” Irena mengingatkan.

“Iya, aku tahu. Tapi kamu harusnya juga tahu aku belum semahir kamu berenang. Selain itu, kamu gak capek? Kamu baru aja selesai latihan, ‘kan?” tanya Kelly agak heran.

“Ini ‘kan refreshing. Selama kita menikmati, gak bakal bikin capek!” jawab Irena mantap.

19.04 pm

Di depan kamar Irena, Kelly beberapa kali mengetuk pintunya.

“Iiiirnaaaa… Buka, dong! Ayo cari makan…!” dok-dok-dok. Kelly kembali mengetuk. “Irna… Aku masuk, nih!” Lalu Kelly membuka pintu kamar Irena. Tampak Irena sudah terlelap pulas. Kelly tersenyum sendiri.

“Ya, bener-bener gak bikin capek.” Komentarnya pelan.

19.07 pm

Kriiiing! Trek,

“Halo? McTryle di sini!”

“Ergh, bisa bicara dengan Andriy?”

“Dari siapa?”

“KC.”

“Oke, tunggu ‘bentar,” lalu cewek yang mengangkat telepon itu berteriak memanggil Andriy. Beberapa detik kemudian,

“Ya, ada apa?”

“Andriy? Gimana latihan tadi?” tak membuang waktu, KC bertanya to the point.

“Bagus juga kamu tanya.” Jawab Andriy kesal.

“Ada masalah?”

“Selain mereka mogok latihan…”

“Mogok latihan?”

“Gak ada kapten, gak ada latihan. Itu yang mereka pikirkan.”

“Kamu kapten ke-2. Apabila ada halangan, kapten ke-2…” belum selesai KC berkata, dipotong cepat oleh Andriy.

“…berhak mengambil alih apa pun yang biasa dilakukannya. Aku tahu peraturan itu. Tapi itu semua cuma teori. Kamu kapten utama, dan skuad cuma patuh sama perintahmu.”

“Perintah? Aba-aba.”

“Apa bedanya? Mungkin aku gak sepintar kamu, tapi aku tahu bahwa aba-aba adalah sinonim dari perintah.”

“Andriy, ini serius. Aku besok ikut latihan.”

“Ya, dan keesokan harinya akan ada namamu di headline koran akibat pembunuhan yang dilakukan Robin. Atau bahkan breaking news hari itu juga. Gak usah. Mungkin besok skuad bakal nurut.”

Mungkin bukan kata yang meyakinkan. Besok aku ikut latihan.”

“Tapi…”

“Gak ada yang bisa larang! Aku kapten utama!”

“Oke-oke. Lakukan sesukamu. Aku cuma kapten ke-2, soalnya.”

“Ayo-lah! Aku cuma bercanda, sobat!”

“Ha-ha. Cukup menenangkan. Besok jam 2, di lapangan. Jangan telat.”

“Beres. Jangan kasih tahu yang lain, biar jadi kejutan.”

“Yap, kejutan yang mengejutkan.”

CHAPTER 2

MONDAY

12.58 pm

“Sudah jam segini, tapi anak itu belum datang?! Mau apa, dia?!!” gerutu Robin di Wingsdale. Marty, cowok ceking berkacamata yang mendengarnya menyahut santai,

“Kena macet, kali…”

“MACET SAMPAI 3 JAM?!” gerung Robin tak dapat menahan amarah. Ia memandang sekeliling, mendapati Irena tak jauh darinya.

“Irena! Kamu lawan mainnya! Ke mana KC?!” Irena mengangkat bahu,

“Dia bilang, sih, agak terlambat. Tapi aku sendiri gak tahu terlambatnya KC jam berapa.”

“YANG BENAR AJA!! Kita pentas hari Minggu!! Tinggal berapa hari lagi?!”

“6. 6 hari lagi.” Jawab Marty, yang ternyata makin membuat Robin korslet.

“NAH!!” teriakan Robin makin keras.

“’Nah’ apa?” komentar Marty yang gak tanggap situasi menyebabkan keempat taring Robin keluar. Ia pun segera ngacir mencari perlindungan.

13.47 pm

“Andriy!” panggil KC dari kejauhan. Andriy yang sedang menyiapkan bola menoleh.

“Hoi!” balasnya keras. KC segera berlari mendekati Andriy, lalu saling membenturkan kepalan tangan satu-sama-lain.

“Datang juga.” Andriy menyapa.

“Sudah aku bilang, ‘kan?” jawab KC. “Mana anggota tim?”

“Belum jam 2. Mungkin masih ganti baju. Mungkin masih makan siang.” Tukas Andriy. Mendadak ada seorang cewek berambut ikal coklat panjang berseragam SMA 7 yang datang dan langsung memekik senang.

“KC?! Sejak kapan…”

“Hei, Valerie. Sejak 5 menit yang lalu.”

“Andriy kok gak bilang ke aku kamu balik lagi? Kalau tahu kamu balik lagi, aku ‘kan juga bakal bawakan handukmu!” protes cewek bernama Valerie itu.

“KC cuma ikut hari ini. Itupun gak sampai selesai.” Kali ini Andriy yang jawab, mematahkan semangat Valerie.

“Oh, gitu,” Valerie berkomentar sedikit sedih, “kalau gitu biar aku panggil yang lain!” Sebelum Valerie sempat membalikkan badan, baik Andriy maupun KC berteriak serempak.

“JANGAN!” jelas, Valerie langsung terlonjak kaget.

“Pertama, jangan-bikin-aku-kaget!! Kedua, kenapa gak boleh?!” tanya Valerie sedikit kesal, seraya membenahi rambutnya.

“Pokoknya jangan. Sana beresi… Apalah, handuk, minum, terserah!” tukas Andriy kehabisan akal, mendorong Valerie ke arah ruang ganti baju. Mendadak Valerie memetik jarinya.

“Ah, aku jadi ingat sesuatu! Aku habis menempelkan kertas di papan pengumuman. Ada pertandingan, lho.” Segera saja KC menyahut bersemangat.

“Pertandingan apa? Kapan? Di mana? Siapa yang menyelenggarakan?”

“Pemerintah kota dan instansi yang terkait.”

“Apa? Kapan? Di mana?”

“Stadion Phoenix.”

“Apa? Kapan?”

“Penyisihan mulai hari Sabtu.”

“Apa?!” tanggapan kaget bercampur kecewa ini keluar dari mulut KC dan Andriy berbarengan.

“’Soccer Vagz’. Itu nama kompetisinya.” Jawab Valerie gak tanggap. Sementara, KC dan Andriy bertukar pandangan.

“Sabtu… Apa kamu bisa ikut, K?” tanya Andriy ragu.

“Jum’at gladi kotor, Sabtu gladi resik, Minggu pentas. Kalaupun dimulai hari Jum’at aku tetap gak bisa ikut.” KC mengingatkan.

“Oh, iya.” Andriy mengangguk setuju. Mendadak Valerie memekik histeris.

“Kamu gak bisa pimpin skuad kita?!”

“Menurutmu?” KC balas bertanya. Lalu ia menepuk bahu Andriy, “nah, rasanya pertandingan-pertandingan besok bakal jadi panggungmu. Aku punya panggung sendiri. Panggung ini untukmu, Kapten.”

Mendengar kata terakhir, Andriy nyengir lebar. Lalu ia mulai tergelak,

“Kapten. Aku suka kata itu, K.”

14.51 pm

“JANGAN CUMA GARA-GARA KAMU AKTOR UTAMA, KAMU BISA BERLAKU SEENAKNYA!! DATANG TERLAMBAT 4 JAM, PADAHAL KITA TAMPIL 6 HARI LAGI!!” Robin melampiaskan segala amarahnya pada KC yang akhirnya datang juga.

“Maaf.” Jawab KC singkat.

“Ya sudah! Sana latihan lagi! Yang lain sudah nunggu kamu! Jangan pernah datang terlambat lagi!!”

“Iya.” Barulah Robin berbalik, meninggalkan KC, yang segera menghela nafas lega. Kemudian ia buru-buru menghampiri Marty.

“Latihan sudah sampai line berapa?”

“98.” Jawab Marty cepat.

“98?”

“Ya. Belum hafal?”

“Enak, aja! Aku cuma heran, kok cepet banget. Pasti kalian latihannya gak serius!” ujar KC semena-mena. Marty langsung protes keras,

“Kamu ini sudah datang telat, seenaknya main tuduh!”

“Ah, Marty kamu sudah kedengaran persis seperti Robin! Kecuali kamu memang mau mengikuti jejaknya, aku dukung, bung.” KC berkata sok bijaksana.

“Diam, plankton. Jadi kamu mau mulai latihan dari line berapa?”

“Dari line 1, zooplankton. Kalau gak salah, zooplankton lebih kecil dari plankton, ‘kan?” tanya KC memastikan, dan ditanggapi sinis oleh Marty.

“KC, aku anak IPS.” Untunglah, Irena segera mendekati mereka,

“Ayo, mulai latihan serius! Sebentar lagi aku mau pulang, nih! KC, antarin aku pulang, yah?” mendengar permintaan Irena, KC cuma mengangguk, karena memang tempat mereka tinggal gak begitu jauh.

Ada rumor yang beredar bahwa KC dan Irena sudah lama jadian. Tapi, dengan tegas KC mengatakan kalau dia dan Irena cuma teman biasa. Irena pun mengiyakan statement itu kuat-kuat. Walaupun begitu, sebagian anak bertaruh bahwa mereka akan jadian suatu hari nanti. Mungkinkah??

Sebelum semua pemeran dibolehkan pulang, Robin memberi pengumuman.

“Pokoknya, besok sudah harus ada di teater ini jam 10! Semua jelas?!” KC angkat tangan.

“Kenapa jam 10? Biasanya jam 11.”

“Latihan semakin intensif! Apalagi hari ini gak maksimal karena ada yang terlambat!!” jawab Robin memberi penekanan pada beberapa kata terakhir. KC meringis malu. Sekali lagi Robin mengingatkan – yang lebih mirip ancaman,

“Jam 10! Lebih dari jam 10, siap terima resikonya!!”

19.48 pm

Tak terasa, latihan yang melelahkan. Irena berbaring di tempat tidurnya dengan tenang. Radio di meja belajarnya memutarkan lagu-lagu dari album Jesse McCartney. Sementara itu, laptop Irena dalam keadaan tertutup, masih di-charge. Mendadak Irena merasakan ada suatu sensasi aneh. Perutnya berbunyi keras, mengingatkannya bahwa dia belum makan malam.

Irena pun bangkit, sedikit malas. Kemudian ia menyambar jaket biru yang tergantung di belakang pintu. Ia berencana mengajak Kelly untuk mencari makan malam di luar dekat apartment mereka. Setelah menutup pintu kamarnya, ia berbalik dan mendapati dua orang menghadangnya. Irena tersenyum, lalu menyapa mereka,

“Hai, ada ya – AAAARRRGGH!!!!”

CHAPTER 3

TUESDAY

10.07 am

KC segera memarkir motornya dengan buru-buru di lapangan rumput sebelah teater Wingsdale yang tak terurus dan akhirnya sekarang dipakai untuk tempat parkir. Secepatnya ia masuk tanpa mengetuk terlebih dulu, dan segera mendapati dirinya berdiri di tengah hiruk-pikuk anggota drama yang gak wajar. Semua orang mondar-mandir, memegang ponsel, dan berwajah tegang. KC melihat ke jam tangan hitam di lengan kirinya. Pukul sepuluh pagi lebih sepuluh menit. Dia cuma terlambat 10 menit. Apa ini hukumannya?? Didiamkan sepanjang hari??

Mencoba keberuntungannya, ia mendekati Jane, yang cemas.

“Jane? Ada apa, sih?” tanya KC pelan. Jane menjawab lirih,

“Irena gak ada…”

“Mungkin datangnya terlambat.” Ucap KC menenangkan. Jane menggeleng-geleng, menyangkal ucapan KC. Kemudian terdengar suara Robin memanggil KC.

“KC! KC!!”

“Ya?” jawab KC segera berlari ke hadapan Robin, rambut Robin lebih acak-acakan dari biasanya.

“Irena gak berangkat bareng kamu?”

“Gak. Memangnya ada apa, sih? Wajar ‘kan, kalau Irena datang terlambat?!” tukas KC sedikit heran. Anehnya, Robin langsung menatapnya tajam.

“Sangat gak wajar! Kamu pikir yang setiap hari membereskan teater sebelum dipakai siapa? Siapa yang menyiapkan air minum dan properti sebelum latihan? Siapa yang selalu datang paling gak setengah jam sebelum yang lainnya?! Siapa??”

“Irena?” tebak KC ragu.

“TEPAT! Nah, sekarang di mana dia?? Bukankah sudah jelas ada apa-apanya kalau Irena sampai terlambat?!!”

“Jangan mengada-ada, Robin. Coba hubungi ponselnya.” Ujar KC, mencoba berpikir rasional. Tanpa peringatan, Robin meledak marah.

“Kamu pikir dari tadi kita semua ngapain?!!! Sudah puluhan kali kita coba hubungi dia! Telepon apartment tempat dia tinggal, kirim sms, sampai langsung telepon ke ponselnya, gak ada satupun yang berhasil!!” setelah puas menyiprati KC dengan amarahnya, Robin berlalu, meninggalkan hentakan-hentakan kakinya. KC melongo. Tanpa Irena, apa jadinya drama ini? Mendadak KC merasakan ada gebukan dari belakang. Ia menoleh, mendapati Marty berdiri dan bertampang serius.

“Kita harus cek apartment Irena.” Kata Marty datar. KC tidak langsung menjawab, “Siapa tahu di apartment-nya ada pesan untuk kita.” Kata Marty lagi. KC pun mendongak, lalu mengagguk, dan berkata,

“Secepatnya kita harus temukan Irena.”

10.31 am

Irena mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali sebelum terbiasa pada keremangan ruang ia berada. Irena mengamati ruangan ini diamana ia sadar bahwa ia sedang duduk di kursi kayu dan… tangannya diikat kebelakang dengan tali kasar, kuat sekali. Irena menyentak-nyentakkan tangannya, cukup ribut. Mendadak ada seleret cahaya, tampaknya ada yang membuka pintu. Sedetik kemudian, muncul sesosok cewek berdiri di hadapan Irena.

“Selamat pagi, Irena.” Sapanya ramah – ada suatu nada aneh dibalik keramah-tamahannya.

“Siapa kamu? Aku di mana? Buat apa kamu ikat aku seperti ini?” pertanyaan bertubi-tubi dari Irena segera meluncur keluar. Cewek bertubuh semampai itu tersenyum minta maaf, tak meninggalkan kesan sinis.

“Gadis cerewet… Nah, daripada menjawab pertanyaanmu itu, lebih baik dengarkan aku,” lalu cewek itu mendekat, memegang dagu Irena dan mengarahkan ke hadapannya sehingga tidak ada lagi yang bisa dilihat Irena kecuali tatapan mata cewek itu, “Jangan-pernah-kembali-ke-Wingsdale.” Tegas, tak main-main, cewek itu mengecam Irena.

Untuk sejenak Irena terpaku. Itu sama artinya menggagalkan drama yang akan ditampilkan hari Minggu. Kemudian, dengan tak kalah tegas, Irena menggeleng.

“Sayangnya aku mau sekali dan harus kembali.”

“Ini semua untuk kebaikanmu sendiri.” Bujuk cewek itu. Lagi-lagi Irena menggeleng.

“Mungkin ini untuk kebaikanku, tapi bukan untuk kebaikan yang lainnya. Gak. Aku mau kembali ke Wingsdale.” Mendengar jawaban keras kepala Irena, cewek itu menghela nafas kesal, lalu berkata,

“Aku tahu. Dan sepertinya aku gak bakal bisa ubah keputusanmu itu. Tapi… Kalau ada orang bernama Bradd datang, katakan sebaliknya. Dan – aku gak percaya aku bilang ini – mungkin George bisa membantumu.”

“Ya, dan aku gak percaya kamu bilang kamu gak percaya bilang itu. Siapa George?”

“Kamu akan tahu George kalau kamu mau turuti apa yang aku katakan tadi.”

“Tentang Bradd?”

“Ya. Seriously, aku gak suka ada kamu di sini, jadi lebih cepat kamu pergi, lebih baik mood-ku. Aku bisa pegang janjiku tentang orang bernama George itu.”

“Wow, senangnya bisa memegang sesuatu tanpa terhalang tali. Baiklah, apapun kemauanmu. Toh, aku gak kenal kamu dan benci tempat ini juga.” Akhirnya Irena menyetujui keinginan si cewek – siapapun dia. Puas, cewek itu tersenyum dan membalikkan badan pergi.

“Baiklah, aku akan tinggalkan kamu lagi. Oh, ya, aku akan sangat berterima kasih jika kamu gak bilang siapa-siapa kalau aku pernah datang menengokmu.” Sebelum Irena sempat berkata apa-apa, pintu terbanting dan lagi-lagi kini Irena menggerutu sendirian.

10.47 am

Marty dan KC melepas helm saat sampai di depan apartment Irena. Dengan canggung kedua cowok itu menuju meja resepsionis untuk bertanya di mana kamar Irena. Saat itu di meja resepsionis, selain si petugas ada seorang cewek yang sedang membaca headline news koran pagi itu.

“Ergh, selamat pagi?” sapa KC ragu, “bisa kasih tahu kamar Irena Crosshale?” saat itu juga cewek yang membaca koran menoleh.

“Kalian siapa?” tanyanya heran, tapi dengan nada ramah.

“Kita teman teaternya Irena.” Jawab Marty. Si cewek langsung mengangguk mengerti.

“Oh, anggota Wingsdale. Aku Kelly, teman dekatnya Irena. Ada yang bisa dibantu?”

“Aku KC, dan ini Marty. Irena ada di kamar?” tanya KC straight to the point. Kelly mengangkat bahunya.

“Gak tau, ya. Seharusnya gak ada, dia latihan teater sama seperti kalian seharusnya. Memangnya kenapa?”

“Irena belum ada di Wingsdale. Jadi kami pikir dia masih ada di apartmentnya. Apa kita bisa lihat kamarnya?” Marty bertanya setengah ragu. Kelly terlihat berpikir sejenak, kemudian berujar,

“Aku rasa gak apa-apa. Tapi aku pikir kamarnya pasti dikunci kalau Irna – aku memanggilnya begitu – sedang pergi. Ayo, ikuti aku. Thanks korannya, Bill.” Kelly mengembalikan koran itu pada lelaki tua dengan seragam di balik meja resepsionis. Lalu ia menaiki tangga diikuti KC dan Marty.

“Aku dan Irna bersebelahan. Nah, ini kamar Irna.” Kelly menunjuk pintu dengan sticker Donald Duck, “dan itu kamarku.” Menunjuk pada kamar dengan sticker Maroon5 cukup besar. Marty mencoba membuka kamar Irena, dan ternyata tidak terkunci, langsung terbuka. Kelly mengerucutkan bibirnya, bingung.

“Irna…! Kamu di mana??” seru Kelly langsung memasuki kamar Irena. Sementara itu KC dan Marty mengikutinya, dan mengedarkan pandangan pada ruang apartment Irena yang rapi dan bersih. Tak ada tanda-tanda yang aneh.

“Irna kok gak ada, ya??” komentar Kelly, “di ruang tidurnya juga gak ada. Bahkan dia gak bawa ponselnya!” Mendengar penjelasan Kelly, KC mengerutkan dahinya. Ada yang aneh.

“Gak bawa ponsel?” ulang Marty juga merasa ada kejanggalan.

“Ada lagi yang hilang atau gak ada di tempatnya?” tanya KC.

“Rasanya jaket yang kita beli kembaran tahun lalu juga gak ada. Biasanya dia gantung di belakang pintu.” Jelas Kelly.

“Cuma jaket? Seharusnya Irena gak pergi jauh-jauh.” Gumam KC gak jelas. Kemudian ia menghela nafas sebelum berkata,

“Sepertinya lebih baik kita kembali ke Wingsdale untuk latihan lagi. Siapa tahu Irena sudah di sana.” Marty mengangguk setuju.

“Tolong jaga kamar Irena. Kalau dia kembali atau ada sesuatu yang mencurigakan, hubungi kami. Ini nomorku, dan ini nomor KC.” Marty menuliskan nomor ponselnya dan KC pada sembarang kertas yang ditemukannya di saku celananya dengan bolpoin hitam yang ada di meja di kamar apartment Irena dengan tangan kirinya, lalu menyerahkannya pada Kelly.

“Oke. Nanti aku missed-call-kan nomorku. Aku akan cari Irena di sekitar apartment.”

“Wonderful. Nah, kita balik dulu.” Pamit KC. Ia dan Marty pun pergi dengan kepala penuh spekulasi dan harapan.

13.55 pm

Latihan perdana Andriy sebagai kapten akan segera dimulai. Sedikit gugup, ia mengambil seragamnya di loker.

“Hei.” Seseorang menonjok bahunya. Andriy menoleh,

“Hei, Luke, Brekin.”

“Sepak bola?” tanya orang yang tadi menonjoknya.

“Ya. Kita mau ada pertandingan, Luke.”

“Pertandingan?” ulang Brekin sedikit heran.

“Hari Minggu. Well, bukan maksudku gak mau ngobrol, tapi aku harus siapkan lapangan. Sampai nanti.” Andriy balas meninju bahu Luke setelah menutup pintu lokernya, lalu segera berlari ke arah lapangan, meninggalkan Luke dan Brekin yang mendadak terdiam penuh intrik.

PRIIIIIT!!! Andriy meniup peluit, terlalu bersemangat, sehingga membuat beberapa anggota tim yang sudah ada di lapangan menutup telinga kaget. Tak sampai semenit, ke-25 pemain sudah berkumpul, siap untuk latihan dengan semangat. Terlebih bagi Andriy, yang dalam hatinya telah terukir sebuah kata : KAPTEN.

“Selamat siang, semua!! Sudah baca pengumuman yang ada di ruang ganti, ‘kan? Valerie sedang mendaftarkan tim kita. Satu hal yang harus diperhatikan di sini, kita gak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini, terutama bagi kelas 3, yang berarti termasuk aku sendiri. Ini adalah kali terakhir kita ikut pertandingan di high school.” Andriy memulai pidato dengan lancar. Semua pemain diam, memperhatikan perkataannya. Sesaat ia berhenti menarik nafas, lalu melanjutkan,

“Aku sadar, seharusnya KC yang memberi pidato, sebagai kapten utama. Tapi, dia harus ‘bertanding’ di ‘lapangan’ lain, jadi untuk saat ini, aku yang menggantikannya. Dan, aku butuh bantuan kalian semua. Nah, karena KC jelas gak bisa mendukung skuad, kita perlu cari pemain yang bisa menggantikan perannya sebagai penyerang tengah. Ada yang mampu menggantikan KC? Atau ada yang bisa kasih usul?” tanya Andriy pada akhirnya. Forum menjadi penuh dengungan.

Lalu ada seorang cowok bertubuh tinggi berdada bidang kelas 3 yang angkat tangan dari barisan belakang.

“Levin?” panggil Andriy sedikit bingung karena dia sudah masuk tim utama.

“Aku usul. Rio.” Segera saja, semua kepala menoleh pada Rio, kelas 2. Lincah dan luwes menggiring bola, tinggal menambah keakuratan tendangan dan kecepatan lari, ia akan jadi penyerang yang tangguh dan invincible.

“Usulan diterima. Ada lagi?” tanya Andriy, dan kali ini Rio yang bicara,

“Joey?” 25 pemain SMU 7 makin ramai. Joey, teman sekelas Rio, biasanya memang dipasangkan dengan Rio. Bisa dibilang mereka tak-terpisahkan. Skill-nya kurang lebih sama, tapi lebih akurat dalam memberi assist. Sayangnya amarahnya kurang terkontrol.

“Kita voting! Siapa pilih Rio?” beberapa anak mengangkat tangan, sementara Andriy menghitung dengan cepat. “Oke, yang pilih Joey?” tangan-tangan lainnya mengacung. Lalu Andriy berkata,

“Rio dapat 10 suara, Joey 11, dan aku belum ikut voting. Ada 4 orang yang abstain. Siapa, dan kenapa.” Serentak, 4 cowok kelas 3 menyeruak maju.

“Kita.” Jawab Derrick, diikuti anggukan kepala Jesse, Sam, dan Ryan.

“Itu karena kita yakin kita sudah kalah sebelum pertandingan dimulai.” Sambung Jesse, lalu diikuti Sam,

“Tanpa KC, tim ini gak ada artinya.”

“Jadi, karena kami gak ikut, lebih baik pulang sekarang.” Ryan menutup penjelasan mereka, lalu mereka berempat berbalik keluar lapangan. Andriy sejenak terdiam, sebelum berteriak,

“Ya! Silakan pulang, pengecut!” walaupun gertakan itu tampaknya membuat Derrick dkk. terpukul, Andriy segera memimpin tim-nya pemanasan, menganggap tak ada hal yang sebenarnya lebih membuatnya terpukul. Apalagi Rio menyeletuk,

“Pertandingan tanpa 5 pemain inti?”

15.43 pm

Beberapa jam belakangan, sikap beringas Robin berubah jadi orang yang mudah sekali kaget. Ditambahi lagi super-cemas-yang-menjengkelkan akibat KC dan Marty menghilang juga – yah, sebenarnya yang dikhawatirkan terutama adalah KC. Memang, sih, sebelumnya KC dan Marty pergi ke apartment Irena belum pamit Robin.

Maka, saat pintu Wingsdale terbuka, dan muncullah KC dan Marty, Robin langsung mendatangi mereka dengan nafsu membara. Sedikit takut, KC malah mundur beberapa langkah sebelum Robin memasuki wilayah pertahanannya, dan…

“KC!! Terima kasih masih membantu teater ini!! Aku akan perlakukan kamu dengan baik, apapun mau kamu aku turuti!! Jangan tinggalkan teater ini lagi, oke??” setelah itu, masih dengan tampang linglung, Robin duduk di kursi depan panggung, terbengong-bengong sendiri. Gak tahu apa-apa, KC menaikkan satu alisnya ke arah Veli, cewek berambut coklat lurus yang tadi ada di sebelah Robin, minta penjelasan. Veli mengangkat bahu, lalu berbisik acuh,

“Depresi.” KC mengangguk-angguk mendengar kata itu.

16.22 pm

“Andriiiy?!!” panggil Valerie keras dari luar ruang ganti baju yang ada di sisi lain lapangan sepak bola SMU 7.

“Yo?!! Tunggu ‘bentar!” jawab Andriy, suaranya teredam oleh dinding yang membatasi mereka. Tak lama kemudian, Andriy keluar dengan memakai t-shirt Chelsea bernomor punggung 8, Lampard, dan juga menyandang tas ranselnya.

“Ada apa?” tanyanya saat menemui Valerie.

“Latihan sudah selesai, ‘kan? Yang lain sudah pulang semua?” Valerie malah balas bertanya.

“Sudah selesai sejak 20 menit yang lalu, otomatis tinggal aku sendirian buat membereskan lapangan dan bola. Ada apa, sih?” tanya Andriy lagi.

“Ehm… Mau aku kunci.” Jawab Valerie agak kurang meyakinkan.

“Dasar cewek, gak usah menutupi. Ada apa?” Andriy kembali mendesak.

“Ehm… Bukan masalah besar, kok… Cuma… Apa KC sudah positif, negatif ikut pertandingan?” walaupun terkesan canggung, akhirnya pertanyaan sebenarnya terlontar.

“Hah? Positif negatif apa?” Andriy melongo gak paham.

“Ugh, susahnya bicara sama kamu. Apa KC benar-benar gak bisa ikut pertandingan?” ulang Valerie sabar.

“100% yakin gak bisa. Ada apa, sih?” pertanyaan sama kembali ditanyakan Andriy, sambil berjalan keluar mengunci semua pintu dan memastikannya benar-benar terkunci.

“Yah… Jadi gak bisa liat dia main, ‘kan??” jawab Valerie melamun sedih.

“Kenapa harus lihat dia main…? Aaaah, aku tahu.” Mendadak Andriy menjentikkan jarinya, lalu nyengir jahil, dan bertanya lagi, “Sudah sejak kapan?”

Tak dapat menyembunyikan lagi, Valerie mencoba mengelak, tapi malah gelagapan,

“Se-sej-jak kapan apa, sih?”

“Mungkin aku bukan yang dapat nilai 95 di fisika, tapi aku gak bodoh, Valerie. Jawab saja.” Goda Andriy, masih memasang seringai usilnya itu. Valerie menghela nafas, pipinya berwarna merah, malu.

“Kelas 1. Jangan bilang, ya?” pinta Valerie, eh Andriy malah tertawa super-jahil, dan gak mengiyakan permintaan Valerie. Ia segera berbalik meninggalkan Valerie yang berteriak-teriak meminta janji Andriy.

Setelah cukup jauh meninggalkan Valerie, mendadak Andriy dikagetkan dengan kehadiran dua orang di hadapannya.

“Andriy, bisa bicara?”

“Brekin, Luke, kalian belum pulang? Sekolah sudah akan dikunci, karena…”

“…latihan bola sudah selesai, ya, kami tahu.” Brekin memotong pemberitahuan Andriy cepat. Andriy menyipitkan matanya, menangkan gelagat buruk.

“Bicara apa? Buat apa kalian ke sini?” tanya Andriy curiga.

“Buat bergabung dengan tim sepakbola.” Jawab Luke mantap. Seketika itu juga Andriy tertawa terbahak.

“Lucu. Kalian gak mungkin serius, ‘kan?” Sayangnya ekspresi Luke dan Brekin belum juga berubah. Sudah berhenti tertawa, Andriy bertanya sekali lagi, “Kalian gak mungkin serius, ‘kan?”

“Kita gak pernah seserius ini sebelumnya.” Tegas Luke.

“Kenapa baru sekarang? Kalian adalah tim inti basket. Sangat gak masuk akal kalau kalian masih mau gabung-“

“Andriy, kita butuh masuk ke tim inti yang akan turun di Soccer Vagz.” Tukas Brekin tak sabar. Andriy mengerutkan dahi – benar-benar gak percaya. Apa ini cuma perbuatan iseng mereka? Apa MTV Punk’d datang ke SMU 7??

“Gak mungkin. Kalian 100% gak mungkin langsung diterima di tim inti.” Kata Andriy pada akhirnya.

“Ayolah, gak sesulit itu, ‘kan?” bujuk Luke.

“Aku baru dimasukkan dalam tim setelah bergabung selama satu tahun penuh. Nah, jelasnya, bagaimana bisa kalian yang baru bergabung kurang dari setengah hari, bisa – zap! – menjadi tim inti?! Dan, tanpa alasan yang jelas,” Andriy memberi argumen, mulai menaikkan volume suara.

“Kita punya alasan.” Brekin membela diri.

“Apapun alasannya, keputusanku tetap satu. Kalian ditolak!” Andriy menjawab keras. Setelah itu ia segera berbalik dan meninggalkan mereka.

“Tinggal satu kesempatan.” Gumam Brekin, diiringi anggukan setuju Luke.

CHAPTER 4

WEDNESDAY

11.10 am

Suasana Wingsdale yang biasanya ceria dan penuh semangat berubah 180°, dan ditandai dengan raut masam Robin yang tak kunjung berteriak galak menyuruh para pemain untuk bersiap latihan. Sekalipun KC dan Marty sudah ikut latihan dengan sungguh-sungguh, Robin bergeming di tempatnya. Kemudian Veli mendadak saja sudah berdiri di hadapan Robin, tangannya terlipat di depan dada.

“Robin, aku perlu bicara.” Ujar Veli.

“Gak sekarang.” Jawab Robin sedikit kasar. Perlahan Veli menghela nafas.

“Terserah, aku tetap akan bicara sekarang. Kita sedang ada di masa stagnasi, dan aku gak mau hal ini berjalan terus-menerus karena walaupun aku cuma memerankan tokoh Rosemary yang notabene bukan tokoh utama, ingatlah bahwa aku datang dari luar kota. Daripada menjalani hal-hal tidak berarti ini, akan lebih baik jika aku kembali.”

Mendengar celotehannya, Robin menoleh patah-patah.

“Apa intinya?” Robin bertanya tanpa semangat.

“Bukankah sudah jelas? Kita terhenti berlatih drama karena gak ada tokoh Katharine!” jawab Veli setengah berteriak.

“Jadi, kamu mau ambil peran itu karena Irena gak ada?”

“Kurang-lebih begitu.”

“Hampir gak ada yang bisa menandingi Irena.” Ujar Robin menerawang jauh. Veli mendengus kesal.

“Apapun.” Komentarnya judes. Mendadak Robin berkata,

“Kamu diterima. Latihan yang baik, ya.” Jawaban Robin membuat Veli tersenyum.

“Baik, semua urusan selesai, terima kasih.” Lalu Veli berbalik, berjalan a la model menuju backstage untuk mengambil naskah dialog miliknya. Melihat hal itu, KC menaikkan satu alisnya sambil melihat ke arah Marty.

“Ada apa?” tanya KC.

“Hei, aku bukan mind-reader.” Tukas Marty cepat. Louis yang kebetulan lewat langsung menyahut.

“Veli dapat peran Kat. Bersiaplah, KC.” Walaupun Louis sudah menghilang dari pandangan mereka, KC masih melongo.

“Lawan mainku, Veli??” KC bergumam lemas menanyakan hal yang gak perlu ditanyakan. Marty menjawab bijak,

“The show must go on.” KC makin melongo.

“Aku akan bunuh orang yang mencetuskan kalimat itu. Dan, jangan ucapkan kalimat itu lagi!” KC memperingatkan Marty keras. Marty tertawa geli.

“Ayolah, K, Veli juga gak kalah cantik dari Irena!”

“Oh, ya, dia menang jauh soal peran antagonis di drama – dan nyata.” Jawab KC pahit. Lalu seorang anggota teater bernama Jane memanggil KC,

“K, teleponmu bergetar, nih!”

“Oh, oke, aku ke sana, tolong angkat dulu!” secepat mungkin KC berlari di antara kursi-kursi menuju deretan depan. Mendekati tempat Jane berdiri, KC mengulurkan tangan,

“Thanks, Jane.”

“Yah, sudah ditutup. Maaf ya?” Jane meminta maaf seraya memberikan telepon selular KC.

“Gak pa-pa,” lalu KC melihat sederetan nomor belum tersimpan terpampang di menu log. Bingung sendiri, KC mengembalikan teleponnya, kemudian menuju panggung lagi untuk latihan gerak. Yang tidak diketahuinya, tadi bukanlah missed-call.

11.20 am

Bel istirahat sudah berbunyi beberapa menit yang lalu. Jesse tengah berjalan menuju lokernya saat Rio mendadak mendekatinya.

“Selamat siang, Kak.” Sapa Rio sopan.

“Siang. Ada perlu apa?” jawab Jesse, ingin secepatnya menyelesaikan obrolannya dengan Rio.

“Kami kemarin berlatih dengan formasi baru.” Lapor Rio. Jesse menyandarkan tubuh di lokernya. Memberikan pandangan aneh yang sulit ditebak.

“Kenapa kamu pikir aku akan antusias karenanya?”

“Karena formasi itu adalah formasi ciptaan Kak Andriy, dan menurutku – dan semua pemain – sempurna.”

Mendadak Ryan datang,

“Jes, rapat klub, semua wajib datang.”

“Selamat siang, Kak.” Sapa Rio pada Ryan.

“Siang,” balasnya tak acuh, “cepat, Jes.”

“Oke, aku datang 5 menit lagi. Aku selesaikan… urusanku dulu.” Jawab Jesse diplomatis. Ryan mengangguk kaku, lalu berbalik dan pergi.

“Nah, seperti yang kamu lihat – mungkin bisa kamu laporkan juga pada siapapun yang mengirimmu – aku dan lainnya sudah punya klub baru yang sama ‘sibuk’nya denganmu. Selain itu, aku pikir akan mudah bagi kalian jika bisa mengajak KC masuk kembali dalam tim kalian. Jadi, selesaikan apa yang akan kamu sampaikan dalam waktu kurang dari 2 menit.”

“Baiklah… Pertama, gak ada yang mengirimku. Kedua, biasanya di tahun terakhir seseorang punya keinginan untuk memberikan ‘sesuatu’ pada sekolahnya. Ketiga, dan terakhir, hanya beberapa lembat pamflet yang ingin kusampaikan.” Rio menutup perbincangan dengan menyerahkan beberapa lembar kertas berisi garis dan coretan-coretan yang difotokopi.

“Apa ini?” Jesse bertanya. Namun, tak menghiraukan pertanyaan Jesse, Rio mengedikkan kepalanya,

“Siang, Kak.” Rio pun melanjutkan berjalan pergi. Penasaran, Jesse membaca isi pamflet itu ketika berjalan menuju ruang klub football. Memasuki ruang klub, kertas itu dilipat, kemudian ia memanggil Sam, Ryan, dan Derrick.

“Harus lakukan sesuatu.”

14.48 pm

“Untuk menghemat waktu, gak usah banyak teori. Kita sudah pemanasan, sekarang bagi jadi dua tim. Akan ada tersisa satu orang, aku harap dia mau jadi wasit. Siapa sukarela jadi wasit?” Andriy bertanya sebelum memulai latihan sepak bola.

“Aku.” Jawab Rash, anggota kelas satu.

“Tolong, ya, Rash. Nah, segera pakai rompi biru bagi tim lawan. Cepat! Sesuai formasi yang aku beri tempo hari!” Andriy memerintahkan lagi, sementara ia sendiri juga segera memakai rompi biru. Setelah itu, baik ‘tuan rumah’ maupun lawan mengambil posisi masing-masing. Rash meniup peluit panjang, bola ditendang oleh Rio dari tim tuan-rumah, permainan dimulai.

Tendangan-tendangan ke arah gawang terus dihalau oleh masing-masing kiper, tapi sampai menit ke-15 belum ada gol yang dapat diciptakan. DI menit ke-20, Rash meniup peluit panjang. Half-time. Andriy segera menyuruh tim SMA 7 berkumpul untuk pengarahan.

“Aku mau dengar komentar kalian.” Ucap Andriy. Matt, sayap kiri kelas 2, langsung berbicara keras,

“Pertandingan akan berat tanpa pemain inti. Formasi ini bagus, tapi toh pizza gak akan enak tanpa pepperoni.”

“Salah, pizza gak akan enak tanpa lapisan roti. Bahkan namanya bukan lagi pizza.” Bantah Joey spontan, membuat pemain tertawa. Tak terkecuali Andriy.

“Baik, fokus. Siapa yang mau komentar lagi?” Pertanyaan ini ditanggapi oleh Zach, kiper utama walaupun masih kelas 2. Pemain kelas 3 memang sudah banyak yang mengundurkan diri, terutama bagi murid yang mengincar beasiswa prestasi.

“Aku tahu aku cuma kiper, dan sebenarnya aku gak pantas bilang ini. Tapi, rasanya… kalian kurang kompak. Kadang Kak Andriy – maaf – sendirian membawa bola dari tengah lapangan sampai depan gawang, padahal banyak pemain lain yang kosong. Selain itu, tandem Rio dan Joey juga terlalu mendominasi bila mereka telah mendapat bola. Aku harap bisa membantu. Sekali lagi, maaf kalau menyinggung. Ini…” lalu dipotong Rio,

“Tenang, Zach. Gak ada yang tersinggung. Iya, ‘kan?” Rio menambahi, sedikit takut Joey menggebuknya.

“Ya, gak bakal ada yang tersinggung, buddy.” Joey menimpali, membuat Rio menghembuskan nafas lega.

“Semua clear kalau begitu. Nah, main 20 menit lagi. Rash, biar aku gantikan.” Andriy meminta peluit yang dikalungkan Rash, lalu melepas rompi birunya. Peluit dibunyikan, babak kedua berjalan dengan pergantian pemain di tim lawan.

Tanpa disadari, ada beberapa pasang mata yang memperhatikan mereka bermain di tempat terpisah satu sama lain.

16.17 pm

Irena tertidur selama beberapa jam belakangan. Sejak kedatangan cewek misterius kemarin, belum ada lagi yang mendatangninya, kecuali seorang cowok jangkung untuk memasukkan piring berisi makanan. Tapi toh sama saja, tangannya terikat kencang.

Namun, suara pintu terbuka keras membuat Irena langsung terbangun. Dilihatnya kali ini yang mendatanginya ada dua orang. Cewek misterius, dan cowok berbadan sedang yang berjalan tegap, tapi Irena tak dapat melihat wajahnya dengan jelas karena gelapnya kamar tempat ia diikat ini.

“Jadi ini, tawanan kita. Lebih muda dari yang aku bayangkan.” Si cowok berkata keras, mengejek.

“Siapa kalian? Di mana aku sekarang? Buat apa aku diikat seperti ini?” tak membuang waktu, Irena segera menghujani mereka dengan pertanyaan.

“Diam!! Aku di sini bukan untuk menjawab pertanyaan konyolmu itu!! Malah, seharusnya aku katakan kalau karena kamu sendirilah kamu ada di sini!”

“Hah? Bahkan aku gak pernah lihat tampangmu. Bagaimana bis-…”

“Jawab ini, Irena. Kenapa tidak kau balas suratku?!” si cowok mendadak mendekat, mencengkeram leher Irena.

“S-rat-pa??” Irena masih menanggapi susah payah.

“Jangan pura-pura tak tahu!!” cowok itu berteriak marah, mendorong kepala Irena, hampir menyebabkannya jatuh.

“Buat apa aku bohong kalau aku tahu aku ada di ujung tanduk?” Irena menukas dengan berani. Si cowok menggeram marah.

“Star!! Kau bilang surat itu sudah sampai di tangannya!” si cewek misterius menjawab tegas.

“Ya. Aku yang memastikannya.”

“Sekarang, jelaskan!!”

“Aku tak tahu.”

“APA?!! Kenapa aku pekerjakan orang sepertimu?!!!” si cowok kembali berteriak marah, besar. Lalu, ia memunggungi Star, “sekarang, untuk menebus kesalahanmu, jaga anak itu. Korek informasi sebanyak-banyaknya. Sebelum kau mendapatkannya, kau hanya bernasib sama seperti dia!!” Setelah itu, si cowok keluar dari ruangan, membanting pintu dengan gusar, meninggalkan Star dan Irena di dalam.

Di dalam, setelah beberapa menit, Star yang pertama memecah keheningan.

“Great. Situasi yang sangat menyenangkan, bukan? Uh-huh, akan kutukarkan semua Ferrari-ku seandainya dengan itu bisa membebaskanku dari dia.” Cewek misterius yang kelihatannya bernama Star itu bergumam kesal yang ditujukan untuk dirinya sendiri.

“Hei, masih bisakah kamu pegang janjimu?” Tanya Irena. Star menoleh, dan membentak Irena.

“Diam!! Dengarkan aku! Aku bukanlah cewek yang tahan berdiam diri di tempat kotor, gelap, dan kecil tanpa hiburan seperti ini! Mana compo dan koleksi CD musikku?? Mana laptop dan TV plasma-ku?? Yang aku punya sekarang tinggal telepon seluler butut ini tanpa fasilitas blackberry…” racauan Star segera Irena potong.

“Ponsel kamu bilang?”

“Ya, ponsel biasa tanpa blackberry…”

“Astaga, kenapa gak bilang dari tadi?? Gunakan ponselmu untuk telepon seseorang!” pekik Irena gak habis pikir. Star memelototinya, tak senang.

“Oke, silakan pakai kalau itu yang kamu mau!!” sentak Star seraya melemparkannya ke arah Irena.

“He-he-hei, tanganku terikat!! Awaas!!” TRAK!! Terdengar bunyi berderak Sepertinya ponsel Star sudah jatuh dan terbagi jadi 3 bagian. “Ponselmu jatuh.”

“Uuugh, dasar gak berguna!” Star mengeluh lagi, seraya melepaskan tali yang mengekang Irena sedari tadi. Setelah bebas, Irena menggosok-gosokkan kedua belah tangannya lega.

“Trims. Mana tadi ponselmu?” Selama beberapa lama Irena berkutat dengan ponsel Star. Memasang baterainya kembali, menutup, dan menyalakannya lagi. O-oh, ada password.

“Apa passwordnya?” Tanya Irena.

“1412.” Jawab Star ketus. Irena memencet sambil merasa ada yang familiar. Mendadak ia tersadar.

“Hei!! Ini… Tanggal lahirmu, ‘kan?”

“Kalau iya, kenapa?”

“Kita punya tanggal lahir yang sama, ya?!” Celetuk Irena senang sekaligus heran. Dan anehnya Star pun merasa heran, hanya saja ia tidak menyuarakan keheranannya. Semenit kemudian Irena sudah memencet-mencet keypad ponsel glamor itu.

“Apa yang kamu lakukan?” Star bertanya.

“Aku sedang coba menghubungi Mom-ku. Kau tahu ini di mana, ‘kan? Kenalan Mom ada di mana-mana. Nah, aku cuma punya perkiraan ini adalah wilayah Drakell. Apa benar?” Irena menjelaskan pada Star. Dengan enggan Star mengangguk.

“Ya, ini teritori Drakell.”

“Sweet.” Irena tersenyum, dan kembali memencet keypad. Tak menunggu lama, ada jawaban dari seberang.

“Selamat siang, kediaman Crosshale.”

“MOM!!”

“Irena! Kamu dimana? Sedari tadi teman-teman teatermu telepon…”

“Mom, itu nanti saja kuceritakan. Mom tahu wilayah Drakell, ‘kan? Aku butuh jalan tercepat yang bisa membawaku ke teater.”

“Drakell? Ada urusan apa kamu di sana, Irena?!”

“Mom, please-please-please, aku buru-buru…”

“O-oke. Er… Pertama-tama, jalan ke arah Corner Street. Di sana ada kafe kecil agak kumuh yang namanya Bitecorner. Jalanlah ke belakang Bitecorner, di sana ada gerombolan semak.”

“Ke Corner Street, kafe Bitecorner, di belakangnya gerombolan semak. Sip, terus?”

“Diantara gerombolan itu kamu sibakkan semak sebelah kiri bawah. Ada lubang yang Mom yakin cukup buat kamu lewati. Masuk, dan terus ikuti jalan yang sudah ada. Setelah itu kamu akan tiba di Sweetcorner Street. Tepatnya di balik kafe Streetcorner Symphony. Ketuk pintu yang berwarna oranye. Katakan Earthroot butuh bantuan.”

“Siapa?”

“Earthroot. E-A-R-T-H-R-O-O-T. Selanjutnya, katakana namamu, dan tujuanmu. Mengerti?”

“Totally. Makasih, Mom.” Telepon ditutup. Irena menarik nafas, lalu menyerahkan ponsel itu pada Star.

“Nih, kupikir kamu juga perlu menghubungi George – atau siapapun itu. Kemudian kita bisa kabur bareng!” Irena berkata menggebu-gebu. Star masih saja memandangi Irena dengan pandangan meremehkan.

“Oke.”

16.55 pm

“Kita menjelang pertandingan!” Valerie memberi pengumuman pada seluruh pemain usai latihan, seraya membagikan kertas berwarna kuning, “jadi, perlu diperhatikan bahwa pola makan dan kebutuhan istirahat kalian harus seimbang dengan latihan sepakbola ini. Nah, di kertas ini sudah aku tuliskan jam berapa kalian harus makan dan tidur, serta menu-menu yang harus kalian makan dan harus dihindari! Ada pertanyaan??” Valerie mengakhiri, berdiri di depan masih membawa beberapa lembar kertas. Segera banyak tangan terangkat,

“Tidur jam 9?! Nanti malam ada Chelsea vs MU!!” Evan protes keras.

“Seharusnya kita semua memang tidur jam 9!” bantah Valerie.

“Bangun jam setengah lima?!!” teriak Joey gak percaya.

“Ya, lalu jogging atau semacamnya.” Tukas Valerie santai.

“Gak ada makanan manis atau junk food. Contohnya?” tanya Matt.

“Contohnya? Gampang. Cokelat, kripik, fast food, permen, soda, dan banyak hal lainnya.”

“Makan malam tak lebih dari jam 6, dan setelah itu gak boleh makan apa-apa lagi?!! Daftar apaan ini?!!” Levin berteriak gusar.

“APA?!!” serentak seluruh tim berteriak.

“Ya, agar makanan kalian bisa dicerna sempurna!!” sebelum anggotanya mengeluh lebih lama, Andriy segera mengatasi keriuhan.

“Hey-hey, guys, ini semua untuk kebaikan kita! Dan menurutku gak ada salahnya kita coba pola-hidup-sehat ini. Oke?” perlu waktu 10 detik sebelum semua pemain berkata ‘ya’ pelan.

“Oke, semua ganti baju, dan silakan pulang. Terima kasih sudah datang latihan hari ini.” Andriy menutup latihan hari itu. Saat semua anak sudah berbalik, Andriy merasa ada yang memasuki lapangan. Maka, ia berbalik, dan mendapati Jesse, Sam, Derrick, dan Ryan berdiri canggung.

“Yo.” Sapa Ryan samar.

“Yo.” Balas Andriy, hampir seperti bergumam. Lalu Jesse berkata, mengakhiri suasana diam yang janggal.

“Rasanya kita gak akan keberatan gak makan fast food sampai Soccer Vagz selesai.” Lalu, terjadi sebuah keheningan lagi, sebelum Valerie berjalan mendekati mereka berempat, dan berujar,

“Tepati daftar ‘Dos’ dan ‘Don’ts’ ini. Kalian akan sama berenerginya dengan yang lain.” Selanjutnya, Valerie tersenyum senang, “terima kasih sudah kembali, guys.”

“Jadi, apa kita bisa tempati posisi yang ada di kertasmu?” tanya Derrick, ditujukan pada Andriy.

“Kertas yang mana?” Andriy balik bertanya.

“Kertas yang ini.” Jawab Sam, memberikan beberapa lembar kertas. Andriy mengamati kertas-kertas itu, lalu berkata,

“Ini adalah kertas-kertas yang sudah aku buang kemarin. Bagaimana bisa ada di kalian?”

“Rio yang memberikannya padaku.” Sahut Jesse. Andriy menoleh ke arah Rio yang nyengir lebar, lalu ia segera berlari ke ruang ganti menghindari tatapan Andriy. Kemudian Andriy kembali lagi pada gerombolan itu. Ia nyengir kecil, dan mengangguk.

“Tentu.”

Advertisements