hey hey, ini proyek baru saya yang sebenarnya sudah dimulai setahun yang lalu tapi pending lama banget -_-”

 

here’s the sneak peek. 🙂

 

***

INCOMPLETE PROPHECY

What if your dream is something that’s never going to happen?

CHAPTER I

You must Know Jamie, Selena, Tim

6.43 am. Pada akhirnya cowok ini benar-benar membuka mata setelah berulang kali menekan ‘snooze’ pada ponsel yang semestinya membangunkan dirinya – setidaknya – tiga puluh menit yang lalu. Ritual seperti biasa: bangun à ambil ponsel à buka web browser à Twitter – meskipun dia sendiri tidak berencana meng-update apa-apa.

Jamie memperhatikan timeline. Masih berbaring, hanya mengubah posisi kepala sambil sesekali menggosok mata. Ah, ini ada tweet terbaru dari temannya yang kebetulan adalah anak dosen yang mengajar di angkatan mereka. Rupanya sudah beberapa kali di-retweet juga.

anette: kuis Histologi pukul 7 tepat, terlambat dihitung absen! #FYI

6.45 AM via Twitter for Android

Retweeted 2 times.

Melirik jam di dinding, pukul 6.50 am. Jamie tinggal punya waktu 10 menit untuk mandi, sarapan dan pergi ke kampus secepatnya supaya bisa mengikuti kuis dadakan Histologi itu.

“Oh, sial, sial!” Jamie mengumpat keras, kemudian tak menghiraukan betapa berantakan tempat tidur yang ditinggalkan, ia menuju kamar mandi. Sikat gigi, cuci muka dan sedikit merapikan rambut. Lalu menyambar kemeja putih bergaris yang tergantung di balik pintu kamar mandi dan merangkapi kaos tidurnya. Mengganti celana tidur lusuh dengan celana jeans – yang secara menyedihkannya juga gak kalah lusuh, memasukkan sembarang buku di atas meja beserta satu pena – entah berfungsi atau tidak – ke dalam backpack hitamnya – satu-satunya tas yang dimiliki Jamie, dan… pukul 6.54 am Jamie sudah membanting pintu apartmentnya. Mandi dan sarapan? Forget it.

Untuk kali ini Jamie mengutuki apartmentnya yang berada di lantai 3. Sembari menuruni tangga super cepat, masih sempat Jamie mengirimkan pesan singkat pada Selena.

Jagakan tempat duduk & aku minta contekan kuis histo. tx

Langsung menjejalkan ponselnya ke saku celana dalam-dalam, begitu keluar dari apartmentnya Jamie lari sekencang-kencangnya, menghindar menabrak orang-orang, lalu memotong lewat taman yang penuh bangku. Namun tak masalah baginya karena dengan begini ia bisa sekalian mempraktekkan kemampuan Parkournya. Jika waktunya cukup – dan ada orang yang menonton – Jamie akan dengan senang hati melompati bangku-bangku itu dengan reverse vault; lompatan dengan rotasi badan 180°. Saat ini dia harus puas dengan monkey vault, lompatan di mana kedua kaki ditekuk dan melewati tumpuan kedua tangan, agar lebih efisien dan cepat, yang merupakan esensi dari Parkour.

Setelah melalui hutan bangku, Jamie mendapati pintu yang menghubungkan taman dengan gedung kuliahnya belum dibuka. Dari kejauhan, Jamie menambah kecepatan dan berkonsentrasi untuk melakukan rocket vault. Begitu berhadapan dengan pagar terakhir itu, dengan tangan kanan ia bertumpu pada pagar dan mengangkat seluruh badan hingga ia mendarat di seberang. Hup, mendarat dengan menekuk kaki, Jamie lanjut berlari hingga tiba di kelasnya.

Seraya mengatur nafas dan mengusap keringat di dahi dengan lengan kemejanya, Jamie melirik jam tangan di tangan kirinya. 7.02 am. Kalaupun terlambat, baru dua menit pasti tak apa. Jamie membuka pintu kelas, mendapati belum ada dosen di depan kelas, bahkan baru seperempat kelas terisi. Selena menengok ke arahnya dan melambai, menyuruhnya mendekat.

“Pasti gak lihat balasanku,” ujar Selena, mengibaskan rambut coklatnya. Jamie menggeleng, masih terengah-engah. Begitu duduk, Jamie merogoh saku dan mengambil ponselnya dengan breathing lamp yang berkedip cepat, menandakan ada pesan masuk. Dan… beginilah balasan Selena

tweetnya Anne, ya? dia kelas sebelah, lho, kita ‘kan Fisiologi *wink*

“Sempat terpikir untuk telepon?” tanya Jamie setengah mengerang. Selena menatapnya dan menaikkan alis. Bibirnya mengerucut.

“Gak!” jawab Selena singkat. Jamie memberi pandangan kurang puas. Kemudian Selena melanjutkan. “Hey, memangnya kalaupun aku telepon akan kamu angkat?”

“Pertanyaan retoris,” tukas Jamie.

“Sekalipun saat kamu sedang lari?” Selena mendesak Jamie, tidak mau kalah. Tidak segera dijawab.

“Mungkin gak,” jawab Jamie pada akhirnya. “Tapi mungkin juga akan kuangkat. Makanya, seharusnya tadi kamu telepon aku.”

“Aaargh, sudahlah, Jamie,” Selena terdengar kesal. “Yang penting, ‘kan, kamu gak terlambat! Dan, gak ada kuis Histologi!” Selena masih mengomel untuk beberapa lama lagi tapi Jamie sudah tidak memperhatikan.

Jamie malah mengamati dosen Fisiologi yang sudah uzur mempersiapkan slide presentasi untuk kuliah hari itu. Tentu saja hanya dua hal yang dinanti Jamie, 1) jumlah slide yang tertera di pojok kiri bawah layar untuk memperkirakan lama kuliah, dan 2) slide ‘Terima kasih’. Setelah mengetahui ada 57 slide, Jamie menghela nafas bosan, mengeluarkan earphone dan ponselnya.

Saat sang dosen mulai mengajar, Jamie malah mengetik #nowlistening PATD 1st album untuk Twitternya. Beberapa menit mengecek e-mail, saat kembali ke home Twitter, ternyata ada mention yang masuk.

msmoony: @jmanlee strange, I’m right beside you and I’m #nowlistening to homeostasis 😉

“Pantas tingkat sosial manusia makin buruk,” bisik Jamie pelan, mendekatkan kepalanya ke arah telinga Selena.

            “Berisik. Bagi earphonenya, dong,” balas Selena. “Aku mulai menjamur.” Jamie yang duduk di kanan Selena memberikan earphone sebelah kanan untuk Selena. Sisa kuliah Fisiologi mereka habiskan dengan berbagai musik di ponsel Jamie dan… bermain Hangman.

(end of chapter 1 sneak peek 😉 )

CHAPTER II

“That” Happened

“Mencari ini?” Jamie menegakkan badannya, duduk dengan kaki lurus dan mengambil botolnya dari tangan Selena.

“Yeah, thanks.” Sementara Jamie minum banyak-banyak, Selena ikut duduk, menyamankan diri di atas rumput. Ia masih mengenakan topi biru Tim, menyembuyikan rambut ikalnya. Menyeka air di sudut mulut dengan punggung tangannya, sekilas Jamie juga memperhatikan asesoris baru di kepala Selena tapi tidak ada rencana untuk menyinggungnya. Kemudian Jamie bertanya, “kamu belum pulang? Di mana Kyoko?”

“Tadinya, sih, ingin lihat kalian ber-Parkour. Kyoko, seperti yang ia katakan, gak yakin kalian masih hidup jadi dia pulang duluan. Ternyata dugaan Kyoko benar, ya? Kamu saja sudah tergeletak gak berdaya begini,” cerocos Selena diselingi seringai geli. Jamie berdecak tidak setuju.

“Jangan asal bicara. Aku cuma istirahat. Kamu mau lihat trik Parkour apa? Aku bisa praktikkan saat ini juga,” tantang Jamie, sekejap sudah berdiri. Selena menengadah, berpikir keras.

“Er… aku gak tahu nama-nama gerakannya. Hm… Begini saja,” Selena tersenyum penuh makna sebelum berdehem. “Terserah kamu mau lakukan apapun, selama itu akan meyakinkan aku bahwa Parkour adalah olahraga keren yang tidak sia-sia dilakukan.”

“Itu saja?” tanya Jamie percaya diri sembari merentangkan tangannya. Selena mengangguk mantap. “Oke. Gak ada properti yang bisa digunakan untuk gerakan vault ataupun lompatan, jadi aku akan memanfaatkan gerakan seadanya.”

Jamie mengambil jarak dari Selena. Kemudian sambil mengambil ancang-ancang, ia menjelaskan sedikit tentang gerakan yang akan dilakukan. “Ada suatu gerakan, yaitu jump atau lompat. Jump ini ada yang disebut presicion jump, misalnya kamu mau melompat tapi tidak ada banyak ruang untuk mendarat. Seperti, kalau kita terjebak di gunung berapi dan di bawah mengalir lava, untuk menyelamatkan diri harus melewati bebatuan sempit. Kita gunakan presicion jump ini.”

Selena tergelak geli melihat Jamie mempraktekkannya, seolah-olah ia ada di tengah lautan lava.

“Apa yang lucu?”

“Apa mungkin kita terdampar begitu saja di tengah lava?” Selena balik bertanya, masih tertawa. “Tunjukkan yang lain, Jamie! Gak mungkin Parkour yang kamu dewakan ini hanya melompat-lompat seperti bocah playgroup.”

“Pertama, aku tidak begitu mendewakan Parkour. Kedua, yeah memang absurd tiba-tiba ada di tengah lava,” desah Jamie menyesal. “Oke. Oke. Aku tidak akan membuatmua terkesan dengan gerakan handstand dan meroda, ‘kan?” Selena menggelengkan beberapa kali. “Baiklah.”

Jamie mengambil jarak lebih jauh kemudian melangkah dua kali, diikuti dengan meroda. Setelah itu kedua kakinya menjejak keras lalu melakukan back handspring dua kali, setelah itu diakhiri dengan salto di udara ke belakang. Barulah ia mengakhiri gerakannya. Seketika tawa Selena terhenti, ia menganga kagum.

“OMG, itu keren banget. Kamu gak apa-apa? Gak ada otot yang tertarik, tulang retak?” Selena bertanya khawatir seraya menghampiri Jamie, menyentuh lengan Jamie dan memperhatikannya seksama. Yang dikhawatirkan hanya nyengir.

“Zaman otot tertarik sudah lewat. Tadi adalah gerakan Back Handsprings. Bisa digunakan untuk dapat nilai A+ di pelajaran olahraga,” kata Jamie. Selena akhirnya ikut nyengir, melepas pegangannya pada lengan Jamie.

“Kita gak ada pelajaran olahraga,” balas Selena, lalu mendorong Jamie pelan tapi dilebih-lebihkan oleh Jamie. Ia berpura-pura terdorong keras hingga jatuh telentang di atas rumput. Setelah itu ia menumpu berat badannya ke punggung, lalu dibantu dengan kedua tangannya, sekarang berat badannya dilempar ke kakinya hingga ia berjongkok, lalu dikembalikan lagi ke punggung dan tangannya, diulang sekitar dua kali kemudian terakhir ia langsung berdiri tegak.

“Power Ranger mengajarkan ini, biasa mereka gunakan untuk bangkit setelah terjatuh saat berkelahi melawan monster untuk menyelamatkan bumi. Namanya adalah Kip Up.” Mendengar penjelasan Jamie ini, Selena mendengus geli. “Terakhir…”

Jamie menarik Selena, keduanya berhadap-hadapan. Jarak di antaranya tidak sampai satu meter. Wajah Selena penasaran dan penuh tanda tanya. Dari jarak mereka saat ini, Selena bisa mendengar nafas berat Jamie, keringat menetes dari wajah tirus Jamie bahkan detak jantungnya yang sangat cepat. Hening sesaat.

“Baiklah, sekarang apa?” tanya Selena, lebih karena ingin memecah keheningan.

“Aku yakin kamu tahu Jonas Brothers?”

“Duh!”

“Aku akan melakukan trik seperti mereka, tapi aku butuh bantuanmu.” Seketika mata Selena membulat lebar, kaget. Ia mundur dua langkah. Kepalanya menggeleng-geleng dan kedua tangannya terangkat.

“Woah, gak, Jamie. Aku gak tahu apa-apa tentang Parkour!”

“Tenang, Sel, gerakan ini sering dipraktikkan oleh mereka. Meskipun tergolong advance, tapi aku yakin…”

Advance?!”

“Dengar dulu, Sel,” Jamie memegang pundak Selena, menyejajarkan pandangan mereka, lalu berbicara pelan-pelan. “Kamu tahu gerakan Joe memegangi kaki Nick kemudian ia angkat dan Nick salto di udara?” Selena mengangguk kecil. “Nah, kamu jadi Joe, dan aku Nick. Pada dasarnya kamu cuma perlu memegang kakiku dan melemparkannya ke atas sekuat mungkin. Oke?” Wajah Selena masih menunjukkan raut cemas dan takut.

“Kamu… sudah pernah mencobanya? Sebelum ini?” tanya Selena, suaranya sedikit bergetar. Jamie nyengir lebar, ambigu. “Serius. Sudah pernah, belum? Kalau ada apa-apa bagaimana?!”

“Kalau ada apa-apa, aku yang kena akibatnya, bukan kamu.”

“Tapi, ‘kan, salahku!”

“Bukan. Kalau kamu salah, aku gak akan terlempar, gerakan ini gagal. Tugasmu selesai saat kamu melemparkan kakiku. Selebihnya, itu tanggung jawabku.” Entah kata-kata Jamie yang begitu meyakinkan atau Selena yang memiliki kepercayaan lebih pada Jamie, akhirnya Selena setuju, ia menganggukkan kepala meski masih terlihat tegang.

Setelah itu, Jamie mulai mengatur posisi lagi. Ia dan Selena kembali berhadap-hadapan. Jamie mengangkat dan meluruskan kaki kirinya yang lalu dipegang Selena. Kemudian Jamie memberi penjelasan pada Selena.

“Beri aba-aba 1-2-3 sambil menai-turunkan kakiku – ke atas dulu.” Selena mencoba apa yang dikatakan Jamie sambil berkomat-kamit 1-2-3, 1-2-3. “Berikutnya, setelah hitungan ke-3, aku akan menjejak dan kamu lemparkan kakiku ke atas. Sekuatnya. Mengerti?” Mereka mencoba ancang-ancang ini beberapa kali terlebih dahulu. Kemudian… mereka siap.

Selena memegangi kaki kiri Jamie, lurus dan kencang. Menghitung sembari menggerakkan kaki kiri Jamie. Satu. Dua. Tiga. Dirasakan kaki kiri Jamie makin berat di kedua tangannya, sementara kaki kanan Jamie ikut menekuk. Dan… dilemparkanlah kaki kiri Jamie ke atas sekuat tenaga. Kedua tangan Jamie terangkat tinggi-tinggi. Setelah kaki kirinya dilempar oleh Selena, ia segera menariknya menempel ke dada, pada saat yang bersamaan, tubuhnya berputar ke belakang di udara.

Tunggu. Ketika ia berputar mendadak kepalanya kosong. Pandangannya kabur. Ia kehilangan rencana mendarat. Selama beberapa mili detik, seakan-akan Jamie ada di awang-awang. Ketika pandangannya mulai kembali, terlihat warna hijau rumput di bawahnya. Sekejap Jamie tersadar ia harus mendarat. Hanya tersisa waktu kurang dari 15 mili detik…

            Seharusnya Jamie mendarat mantap dengan kedua kakinya. Namun kaki kanannya menyentuh tanah duluan, tubuhnye limbung ke kiri… Kepalanya membentur tiang gawang.

(end of chapter 2 sneak peek 😉 )

well, sepertinya sneak peek nya 2 chapter saja ya 😛

enjoy, hope you’ll get interested in the rest of the story 😀

ps. it’s not going to end very happily 😛

-aga-