tidak pernah terlintas sama sekali bahwa aku akan berkecimpung di satu lingkup yang bernama ‘jurnalistik’, kalau saat SMP dulu tidak terpaksa ikut ekstrakurikuler Jurnalistik hanya karena harus menunggu sekian jam untuk mengikuti les di Primagama bersama Austin “Oris” Buya Oriza. awalnya hanya Oris yang menjadi anggota ekskul Jurnalistik, tapi dia dengan gigih menyeretku dengan alasan ‘daripada kamu plonga-plongo gak ada kerjaan cuma nungguin aku buat ke Primagama, sekalian ikut aja, sih!’

 

alhasil, dengan status anggota baru, aku terjerumus juga di ekskul ini. lumayan, lah, yaa. di tahun akhir SMP bisa ikut kunjungan ke Surabaya, bertandang ke Graha Pena – Graha Pena, cuy! GRAHA PENA! – serta ke SMA Santa Maria yang pada saat itu salah seorang jurnalis dan fotografernya berhasil menyabet juara pada salah satu kompetisi. sebetulnya aku sudah agak lupa kompetisi apa yang mereka menangkan, tapi yang aku ingat jelas adalah: fotografernya ganteng! tampaknya, tidak hanya aku yang merasakannya karena untuk beberapa bulan setelahnya, kawan-kawan ekskul Jurnalistik masih membicarakannya, hahaha :)) oh, iya. namanya Baskoro. hahahaha. gila, ‘kan, aku masih ingat namanya :))

 

akibatnya, hingga SMA dan kuliah, aku tidak tahu lagi ingin masuk ke kegiatan sampingan apa selain Jurnalistik. kronologisnya cukup rumit ketika aku ingin bergabung dengan – pada saat itu masih bernama – Departemen Jurnalistik, karena departemen ini bukan sekadar ekskul tapi merupakan kesatuan dari Badan Eksekutif Mahasiswa – Keluarga Mahasiswa (BEM-KM). hal ini berarti, aku harus mengikuti segala rangkaian yang mereka tetapkan untuk lolos kualifikasi menjadi anggota BEM-KM dahulu, barulah bisa memilih ingin menetap di departemen apa – itu pun kalau lolos uji. riweuh, rumit, tapi asyik, lah. kekeke

 

singkat cerita, aku diterima sebagai anggota magang di Departemen Jurnalistik, yeyeye~ satu semester setelahnya, aku ditawari untuk jadi Sekretaris Departemen. satu semester kemudian, ditawari untuk menjadi Pimpinan Redaksi, yang berarti satu hal: aku bertanggung jawab penuh atas buletin rutin fakultas yang bernama Dentisia.

 

pada saat itu Dentisia terbit dua kali dalam satu tahun. edisi perdanaku sebagai PimRed: FAILED alias GATOT, gagal total. aku benar-benar kecewa dengan hasilnya. dan hanya keledai yang jatuh ke dalam lubang yang sama dua kali. edisi kedua dan terakhir, aku gak mau salah langkah lagi. terlebih karena semester berikutnya aku sudah bisa dikatakan menjadi anggota inaktif, aku ingin meninggalkan suatu ‘warisan’ yang bisa dijadikan pedoman untuk membuat Dentisia bisa berkembang terus.

 

Dentisia yang awalnya hanya 3 lembar kertas folio hitam putih yang dilipat vertikal hingga jadi buletin 6 lembar, dan this-so-called buletin harus disebar ke semua fakultas – padahal buruk rupanya ya ampun tobat, deh – kuubah secara cukup drastis menjadi bentuk koran dengan halaman depan dan belakang berwarna dan terbatas untuk kalangan FKG saja. sayangnya, karena keterbatasan dana, kami hanya bisa membuat satu lembar kertas ukuran B3 yang lalu secara vertikal dilipat dua setelah itu dilipat dua lagi secara horizontal. sungguh tidak bisa disebut koran. namun, aku pertaruhkan semuanya di sini dengan harapan kelak, para penerus di departemen yang kemudian berganti nama menjadi Departemen Media Informasi ini bisa menambahkan lembar demi lembar dalam prototype peninggalanku ini. bisa lebih bagus lagi jika nantinya semua bisa berwarna!

 

Dentisia tampak depan sebelum dilipat

Dentisia tampak depan sebelum dilipat

Dentisia setelah dilipat vertikal

Dentisia setelah dilipat vertikal

Tadaa, Dentisia terakhir dilipat secara horizontal

Tadaa, Dentisia terakhir dilipat secara horizontal

 

berikut adalah gambar Dentisia secara lengkapnya. catatan: lembar depan berwarna, lembar dalam hitam putih. klik gambarnya untuk memperbesar.

Lembar Depan

Lembar Depan

Lembar Dalam

Lembar Dalam

 

dengan segala kekurangannya, secara pribadi saya cukup puas dengan hasilnya. Pimpinan Umum Departemen MedIn pada saat itu, Anggi, tampaknya juga tidak menyuarakan protes maupun komentar negatif. sampai tiba saatnya untuk Musyawarah Besar atau MuBes.

 

ini adalah MuBes pertama dan terakhir yang aku hadiri. pertama karena aku malas menghadiri MuBes sebelum-sebelumnya hahaha. MuBes kali ini dengan berat hati harus kuhadiri karena Anggi beberapa hari sebelumnya sudah mewanti-wantiku. kurang lebih yang dia sampaikan pada saat itu adalah seperti ini:

 

“Ga, ‘atasan’ gak suka dengan profil yang dimuat di Dentisia.”

“Hah? ‘atasan’ siapa maksudnya?”

“yaa, ketua-wakil ketua bem-km fakultas, ya dekanat…”

“serius?”

“kabarnya gitu, karena yang harapan mereka yang dimasukkan adalah profil dosen atau dokter atau mahasiswa berprestasi.”

 

responku yang pertama adalah: berang.

 

apa yang salah dengan kolom profil di Dentisia ini? apa kampus hanya bergantung pada dosen semata demi kelancaran aktivitasnya? tidak, kan? kolom profil ini bisa saja diisi oleh SEMUA orang yang ada di dalam kampus ini, ‘kan?

 

Profil Pak Mur

Profil Pak Mur

 

Pak Mur, satpam kampus yang mudah ditengarai dengan ciri-ciri “pokoknya yang pakai peci“, tidak ada kata lain yang bisa terucap selain baik. setiap kali menjumpai beliau di lahan parkir kampus, Pak Mur tidak pernah absen untuk berkata “hati-hati, yaa“. ah, kurang ramah dan baik apa lah Pak Mur ini.

 

kebetulan tadi siang, aku mampir cukup lama di kampus. baru akan pergi, satpam kampus lainnya yang bernama Pak Sugeng mendekatiku.

 

“eh, Pak Mur wis pensiun lho.” – “eh, Pak Mur sudah pensiun, lho.”

“hah? tenane, Pak? aku kok rangerti, Pak.” – “hah? betulan, Pak? aku kok gak tahu, Pak.”

“mangkane iki tak kandhani. wis ket winginane Selasa kuwi terakhir Pak Mur.” – “makanya ini saya beri tahu. sudah Selasa kemarin ini terakhir Pak Mur.”

 

kaget.

 

setelah sharing dengan beberapa teman, didapatlah bahwa kontrak kerja Pak Mur tidak lagi diperpanjang – karena beliau bekerja hanya sebagai Pegawai Honorer. padahal, kabarnya, Pak Mur masih memiliki anak yang masa studinya belum selesai.

 

sedih.

 

bahkan untuk berpamitan dengan Pak Mur saja tidak sempat. padahal salah satu teman pada hari Selasa lalu masih mengobrol dengannya tapi tidak terucap sedikitpun bahwa beliau akan pensiun.

 

sungguh aku gak tahu apa yang salah. namun tampaknya satu per satu orang baik di lingkungan kampusku entah dipindah ke tempat lain atau keluar menghilang begitu saja. dulu terjadi pada salah satu pustakawan yang kemudian dipindah ke Perpustakaan Pusat, padahal pustakawan ini sangat membantu kami dengan bersedia untuk mencarikan jurnal, sekalipun berbayar, dan kami hanya tinggal mengganti seribu rupiah saja per judul.

 

terlepas dari kegagalanku untuk memahami situasi ini, kami menyadari satu hal yang lebih penting. berapa, sih, gaji Pegawai Honorer dibanding dengan biaya pendidikan? man, itu gak sebanding. kok bisa-bisanya, kontrak kerja Pak Mur tidak diperpanjang, terlepas para ‘kanjeng’ tahu atau tidak tentang situasi keluarga Pak Mur. karena sepertinya kucuran dana tak terhambat untuk merayakan Dies Natalis tapi akan selalu ada alasan untuk tiba-tiba menghentikan kontrak kerja pegawainya.

 

salah satu tantangan menjadi jurnalis adalah terkadang – atau malah sering kali – apa yang kita beritakan akan ditentang mati-matian oleh pihak tertentu demi melindungi citranya. jika nanti tulisan ini terbaca oleh salah seorang, atau lebih, yang memiliki kaitannya dengan Pak Mur ataupun pihak terkait yang secara sengaja maupun tidak sengaja disebut, ketahuilah: tidak akan ada organisme tanpa atom penyusunnya. tidak akan ada pencakar langit tanpa pondasi. tidak akan ada penguasa tanpa pendukungnya.

 

dan tidak selalu kita harus melihat ke atas untuk bisa sukses, karena jatuh (ke bawah) lebih sakit dibanding berjuang untuk ke atas.

 

-aga-

Advertisements