setiap hari selama 23 tahun (kurang 1 hari), sosok ini kupanggil ‘papa’, bukan ‘bapak’ atau ‘ayah’ apalagi ‘ayahanda’.

sudah 23 tahun (kurang 1 hari) aku jadi anak pertama papa.

berarti selama 23 tahun (kurang 1 hari) pula aku ada dalam naungan papa, berpotongan dengan semua sifat dan karakter papa, yang baik maupun yang kurang baik.

***

 

at some point, it sucks so badly being the first born, moreover being a first born daughter.

 

aku punya seorang adik laki-laki, yang mana menghabiskan 1 tahun terakhirnya di SMP jauh dari papa karena saat itu dia ada di Malang, sementara papa ada di Yogyakarta; juga melewati masa SMA-nya lagi-lagi jauh dari papa (dan mama) karena dia diwajibkan tinggal di asrama di Magelang.

 

sementara untukku, rekor terlama jauh dari papa mungkin 3 bulan awal di masa kuliah ketika sempat tinggal di kos. cih, rekor apaan tuh.

 

sekarang si adik sudah gede, sudah kuliah tingkat 2.

weirdly enough, hingga detik ini, somehow ketika papa menemui kesulitan dalam menggunakan laptop, printer, mencari ini, itu di rumah, dan lain-lainnya, papa masih saja memanggil:

“mbak aga?”

bukannya

“dek tomi?”

 

padahal toh aku cukup yakin bahwa tomi juga bisa membantu papa. padahal mungkin tomi sedang tidak lebih sibuk dariku.

***

 

//menghela nafas//

not that i’m ungrateful. tapi dengan menjadi anak pertama, seolah-olah papa sudah merencanakan semua hal besar yang akan kujalani. besok aku akan begini, begitu, memiliki ini itu, menjadi seseorang yang mengepalai ini itu.

 

seolah dalam kepala papa: no, my first born won’t get married. what? what’s wrong with the fact that my first born is a girl? she will always be my daughter, i’m obliged of her life, her future.

***

 

sahabat baikku pernah berkata:

“coba bilang aja sama papimu tentang apa yang benar-benar ingin kamu lakukan.”

 

well, the thing is, my dad isn’t an easy one.

ini satu hal yang beliau wariskan padaku. i’m not an easy one either. however i’m trying so hard to be reasonable.

di sisi lain, most of the times my dad won’t even try to be reasonable. hal ini sering membuatku tenggelam dalam depresi untuk memenuhi ekspektasi berlebihnya.

 

bukannya aku ingin mengingkari bahwa ini sudah merupakan kewajibanku sebagai anak pertama untuk memberi contoh yang baik bagi adikku. tapi toh sekarang aku dan adikku mengambil jurusan yang jauh berbeda. kurasa sudah habis masaku untuk dijadikan some kind of panutan baginya.

 

dan kalau boleh, kalau bisa, ingin sekali aku mengatakan pada papa:

“don’t you consider it’s time to let me make my very own decision, as a girl instead of as your first born?”

 

***

 

bapak, bapak.

mereka ingin tidak kurang dari terbaik untuk anak(-anak)nya.

 

tapi kapan kira-kira para bapak bisa meluangkan sedikit waktu untuk mendengarkan apa yang diinginkan anak(-anak)nya?

 

i guess boys will always be boys, huh?

lelaki dengan kacamata kudanya, terfokus hanya pada pemikirannya yang mereka anggap paling baik untuk semua pihak.

 

ah, bapak, bapak.

 

-aga-

Advertisements