So don’t you worry your pretty little mind
People throw rocks at things that shine
And life makes love look hard

-Ours, Taylor Swift-

 

sudah sekitar satu tahun lamanya sejak terakhir kali lagu itu ada di playlist ponsel, ketika mendadak sepotong liriknya berkelebat dalam pikiran. dengan koneksi internet yang cukup menaikkan emosi, akhirnya memacu kendaraan pulang dan segera mengaktifkan wifi rumah. ketik, ketik, ketik.

 

oh iya, judulnya Ours.

 

mengunduh video klipnya. mengunduh lagunya. membuka liriknya.

 

and life makes love look hard.

 

pertama-tama, life itself is hard. bagi yang belum pernah terlintas di benaknya untuk melakukan bunuh diri, biar kuberi tahu. bertahah hidup jauh lebih berat, jauh lebih menyakitkan daripada mecoba untuk mengakhirinya. karena itu artinya perjuangan; tidak ada perjuangan tanpa perlawanan; tidak ada perlawanan tanpa luka; tidak ada luka yang tidak sakit.

sementara love alias cinta, kondisi ketika level dopamin cukup tinggi, seharusnya memberikan sekian persen kebahagiaan dalam diri setiap manusia. kondisi yang secara kurang ajarnya akan diganggu oleh kewajiban mutlak seorang manusia: evolusi.

 

untuk berevolusi, waktu yang dibutuhkan tidak sebentar. untuk berevolusi, perkembangan yang perlu dikejar tidak sedikit. untuk berevolusi, life dan love harus bersinkronisasi sedemikian hingga untuk mencapai sebuah keseimbangan di mana Earthlings tidak hanya bisa berevolusi tapi tetap bahagia.

 

people throw rocks at things that shine

 

ada dua alasan mengapa manusia menyengajakan diri untuk duduk mengelilingi api unggun dan melempari api itu dengan batu kerikil, kayu, marshmallow. karena manusia suka dengan hal yang bercahaya, dengan hal yang mereka lihat bercahaya, maka mereka melemparinya dengan segala jenis barang karena:

1) untuk memadamkan cahayanya

2) untuk melihat selama apa, seterang apa api itu bisa bertahan

 

karena love katanya bahkan bisa membuat tai kucing terasa seperti coklat – yang mana adalah nggak mungkin, jelas ini adalah sesuatu yang bercahaya, sesuatu yang terasa bercahaya, sesuatu yang membuat orang-orang terkait bercahaya. maka life, secara alamiah, melemparkan segala jenis aral rintangan, keputusan, kesempatan, cobaan, ke arah love. dengan dua alasan yang sama seperti paragraf sebelumnya.

 

so don’t you worry your pretty little mind

 

siapa yang mengatur pikiran kita? ketika kita tidak percaya diri, kita bisa mengakali pikiran kita dengan berpikir bahwa kita percaya diri, dengan bersikap tegap, tidak defensif, dan eventually kita menjadi percaya diri dengan sendirinya. kita bisa mengakali pikiran kita. kalau pikiran kita sendiri saja bisa diakali, siapa yang mengakali?

wajar saja kalau apa yang sudah tertanam dalam pikiran kita akan tidak sulit untuk diotak-atik. dengan sedikit pertimbangan, dengan sedikit pengaruh dari life dan love, yang ada dalam pikiran bisa berubah. dengan catatan, setelah berubah, hal-hal tersebut juga tidak permanen: bisa berubah lagi, atau kembali ke keadaan sebelum diubah.

 

jadi ya wajar kalau pada titik tertentu kita perlu meyakinkan diri, meyakinkan si pikiran yang gojag-gajeg ini untuk tidak khawatir dengan keputusan-keputusan yang sudah, yang akan, yang belum diambil. khawatir, ragu, wajar. karena toh si pikiran memang labil.

sering ada kalimat “i’m gonna regret this, but, okay”. ini nih, salah satu bukti bahwa pikiran kita memang agak-agak. tapi itu hanya karena pikiran kita tahu, penyesalan datangnya memang di belakang, kalau di depan, namanya pemberitahuan. inilah yang menyebabkan manusia berani mengambil risiko, sedikit nekat dengan gambling dan menyilangkan jari berharap semesta akan mendukung.

 

renungan tengah malam. atau hanya sekadar cerita yang kalau tidak dituangkan akan segera hilang tapi masih menyisakan ganjalan seperti phantom pain: penyebab sakitnya sudah hilang tapi rasa sakitnya masih terasa.

 

-aga-

Advertisements