jaman SMP dulu, album kompilasi SuperFresh2 adalah salah satu album wajib punya. apakah aku punya? sebagai anak baru kenal musik, secara ajaib, aku punya album itu dalam bentuk KASET.

 

yes, people.

 

KASET. cassette.

 

aku punya banyaaaaaak sekali kaset. dari kaset kompilasi seperti SuperFresh2, BIG, dan beberapa lainnya, album Backstreet Boys, Maroon5, OneRepublic, sampai kaset-kaset kosong yang aku gunakan untuk merekam lagu dari radio, di mana saat itu, aku lagi heboh-hebohnya suka telepon ke radio, request lagu, dan – tentu saja – titip salam.

 

“salamnya buat temen-temen aku: tasha, yudis, tata, tika; salam semangat aja. buat mas jo (nama penyiarnya), selamat siaran yaaa”

 

ckckck

 

dasar anak SMP ya.

 

kembali ke album SuperFresh2, karena album kompilasi, maka album ini terdiri atas banyak artis. salah satunya adalah Simple Plan dengan lagu Welcome to My Life.

 

jaman SMP, bahasa inggris saya masih segitu-segitu aja tuh. belajar bahasa inggris demi terlihat keren – nggak yes banget motifnya. nyari lirik lagu pun nggak paham juga sebenernya artinya apa.

 

lagi-lagi, ckckck.

 

dasar anak SMP.

 

setelah tahu bahwa Simple Plan itu nama grup band, mulai tahu bahwa lagu-lagunya Simple Plan bagus. setelah Welcome to My Life, ada Untitled yang mellow, dan ada juga Crazy yang cukup menghentak.

 

saat itu, apakah aku tahu arti dari liriknya?

 

enggak. pokoknya asal bisa ikut nyanyi.

 

Tell me what’s wrong with society
When everywhere I look, I see
Young girls dying to be on TV
They won’t stop till they’ve reached their dreams

 

agak keterlaluan juga ya kalau dari SMP sampai sudah koas gini masih belum tahu arti lirik lagu Crazy. makin ke sini, makin terasa: really, what is wrong with society?

 

permasalahan yang kurasakan saat ini sudah tidak lagi terbatas pada orang-orang yang makin individualis, apalagi dengan gadget canggih yang ada di genggaman masing-masing, rasa insecure yang kelewat batas sampai-sampai bertukar senyum saja diartikan creepy bukannya ramah, dan sifat orang-orang yang terlalu fanatik pada satu hal.

 

plis ya aga, emangnya situ punya hape biar masih symbian apa nggak dikategorikan smart phone juga?

situ sendiri juga yang bilang situ insecure.

dan situ juga bukannya ngefans cinta mati ya sama Kimi Raikkonen?

 

okay, guilty as charged.

 

aku memang melakukan semuanya itu. namun, kembali ke kalimat sebelumnya. permasalahan yang kurasakan lebih dari sekadar hal-hal tersebut.

 

apa jadinya kalau semua orang berpikir bahwa teman terdekatmu bisa saja adalah musuh terbesarmu.

 

seriously, that SUCKS as hell

 

emangnya kita apa, agen FBI CIA NCIS 007 spionase yang saling menutupi dan menjatuhkan, gitu?

sejak kapan terminologi ‘pertemanan’ bergeser menjadi double agent?

mau punya temen susah amat sih, ya, bok ._.

gimana mau ketemu jodoh dong #eh

 

kadang, yaa meskipun namanya temen sendiri juga ngeselin. lha wong suami-istri aja juga kadang bisa ngambek-ngambekan, temen pasti ada kalanya lah ya ngeselin, ngebetein gitu.

 

ya lihat aja Sherlock dan Watson. mereka bff banget tapi bukan berarti Watson nggak pernah mutung gara-gara Sherlock yang emang minta dijitak.

 

tapi toh Watson sayaaang banget sama Sherlock, dia sebisa mungkin menghargai hubungan pertemanannya dengan Sherlock. Watson nggak tergiur iming-iming uang yang awalnya ditawarkan Mycroft demi informasi tentang Sherlock – yang roaming, silakan tonton serial BBC Sherlock.

 

so, what i’m trying to say is:

dear society, apa sih yang salah dengan ‘kamu’? dengan sistem’mu’?

yang mana kalau sudah menyinggung masalah sistem, tidak jauh dari yang menyusun sistem tersebut, ‘kan?

berarti, lebih khususnya lagi dari ‘what’s wrong with society’ adalah:

 

what’s wrong with human being?

 

masih merasa bagian dari ‘human being‘?

nggak mau kan, society makin corrupt karena human being-nya yang rusak, padahal ya kita ini human being yang dimaksud.

 

-aga-

Advertisements