what makes you ‘you’ and acceptable among your inner circle friends?

 

pernah terpikir, gak, sih betapa gak sempurnanya kalian tapi masih aja ada orang-orang yang rela disebut sebagai teman kalian?

kalian dengan segala kekurangannya dan begitu banyaknya kesalahan yang dilakukan per detiknya, tapi paling tidak akan ada satu orang yang dengan pasrahnya menganggukkan kepala kalau disindir, “temen kamu, tuh.”

ibaratnya, seperti anggota Avengers yang masih mengakui Hulk sebagai anggotanya. padahal Hulk itu ganteng enggak, temperamen iya, sekalinya kumat jadi destruktif dan salah-salah membuat yang lain kehilangan kesempatan untuk merayakan ulang tahun berikut dan selanjutnya.

 

well, i’ve been thinking a lot about that matter. and i’m truly grateful to those peeps, since i know most of my imperfections are hardly able to be changed, yet, they’re still around in my thick and thin. i love you guys.

 

Hulk dan aku mungkin memiliki kesamaan pada kebiasaan mengamuk – there, i said it.

bedanya, ketika Hulk marah, dia jadi raksasa mengerikan dan hijau. sementara aku cukup dengan mengerikan saja.

 

sebetulnya, capek juga lho marah-marah itu. kalau gak perlu marah, sih, ogah juga mengeluarkan tenaga ekstra. namun di beberapa kasus, marah jadi diperlukan.

 

as House said, “everything we do is dictated by motive”.

 

pada dasarnya, orang yang marah ingin agar orang lain bisa lebih memperhatikan apa yang ingin ia sampaikan, tunjukkan, utarakan.

 

nilaimu jelek, orangtuamu marah. orangtuamu ingin menyampaikan bahwa mereka kecewa.

kamu naik motor dengan pacarmu. kamu ngebut, hampir menabrak kambing, misalnya – entah juga kambingnya muncul dari mana. pacarmu marah, dia ingin kamu lebih hati-hati saat berkendara.

aku berdiri di ruang praktikum. para praktikan ribut saat mau di-briefing. aku mengamuk. padahal sebenarnya aku hanya ingin praktikum berjalan lancar, demi para praktikan juga.

 

bukannya mengimbau untuk marah-marah. orang yang marah itu menakutkan, iya. aku nyadar, kok, hahaha.

tapi, orang bakal marah 2 kali lipat ketika maksud kemarahannya itu gak ditanggapi dengan serius, seolah-olah Hulk yang jadi hijau itu cuma wahana permainan yang tidak berbahaya.

 

“kamu jangan ngebut, dong!”

“ih, sewot ya? sewot aja apa sewot banget nih? hahaha.”

 

^ itu ngeselin banget.

 

kalau udah begitu, orang yang lagi marah, bakal speechless. bukan karena gak jadi marah, tapi bakalan aneh kalau tetep marah. akibatnya, kemarahannya terpendam.

 

and trust me, buried anger is much worse.

 

bayangkan, bumi yang bisa membuat gempa kecil-kecil mengurungkan niatnya lalu suatu ketika sekaligus membuat gempa yang sangat besar.

jauh lebih parah, kan?

 

sekali lagi. aku tidak menganjurkan untuk sering-sering marah. kata orang, sering marah bikin cepet tua.

tapi, kalau sekiranya ada orang yang lagi marah… tolong, lah, dihadapi dengan semestinya. jangan dibawa sebagai becandaan. karena bahkan orang marah pun punya tujuan, punya motif. dan kalau sudah sampai marah, tandanya dia butuh untuk didengarkan. kalau masih belum sangat urgen, gak mungkin, ‘kan, pakai acara teriak-teriak ngamuk?

 

after all, Hulk’s anger is aimed to save the world ^^v

 

-aga-

Advertisements