mamah: kamu itu yaa, mau jadi dokter gigi kok sukanya makan coklat. bolong-bolong lho giginya.

 

aga: lho mamah tau nggak.. makan coklat itu bikin tubuh ngeluarin hormon dopamin yang sama seperti saat orang jatuh cinta.. yaa lagi belum jatuh cinta ini, jadi yaa makan coklat aja hahaha

 

mamah: emang kamu pernah jatuh cinta?

 

aga: ……

 

***

boleh percaya boleh gak, percakapan di atas terjadi saat ceramah tarawih, kekeke. jangan ditiru, ya 😛

untuk pertanyaan itu, memang pada saat itu tidak langsung saya jawab. diam dulu selama beberapa saat, kemudian inilah yang saya katakan.

aga: yaa pernah, mah. hehehe. tapi jatuh cintanya diem-diem.

well, that wasn’t all the truth.

i once fell in love but made it too quick so it ended that quick too.

tapi, ya, selama sisa hidup setelah jatuh cinta yang terlalu cepat itu, rasanya saya habiskan dengan jatuh cinta diam-diam.

sampai saat ini?

truth be told,

i have darn no idea but indefinite answer.

rasanya sih sudah tidak lagi. karena toh berkomunikasi saja jarang. jadi terlalu naif juga kalau mau mengatakan “i’m still kinda waiting for him

the problem is…

namanya saja jatuh cinta diam-diam. biasanya, kesadaran bahwa sedang dalam keadaan jatuh cinta baru tiba di akhir – hampir mirip dengan penyesalan, ya?

Dear, Lord…

tolong kali ini jangan jatuh cinta diam-diam (lagi).

-aga-

Advertisements