percakapan kecil ini terjadi pada siang hari ini ketika jatah asistensiku selesai.

 

“eh dek… cuma tanya aja, niih. kira-kira tahun depan ada yang mau daftar jadi asisten biokimia nggaaak? *nyengir*”

 

“aku, aku mbak, pengen deh. hehehe.”

“iya, mbak, aku juga…”

 

“waa. kenapa, nih, kok pengen daftar asisten?”

 

“habis aku suka aja mbak, campur-campurin larutan gitu.”

“iya, mbak, sama.”

 

“ooh… yaa semoga keterima, deh, yaa. hati-hati lho, ya, kerja di sini berat.”

 

“ah masak, mbak? bukannya cuma begini aja, ya?”

“‘kan kalau sudah praktikum juga cuma jagain praktikum aja, mbak?”

 

“*diem* yaa makanya kalian besok pas seleksi yg bagus ya, biar keterima terus rasain sendiri kerjanya asisten gimana..”

 

***

 

yaa yang begini ini yang membuat saya ingin dan terus mengajak adik-adik tingkat untuk daftar jadi asisten. semi-pekerjaan ini ternyata dianggap enteng sekali oleh para adik-adik praktikan. jujur, sih, ketika adik tersebut bilang ‘bukannya cuma beginian aja, ya?’ jadi lumayan sedih.

 

apa, yaa. ya, sedih gitu.

 

berarti mungkin selama ini, saya ngamuk-ngamuk setiap mereka ribut saat mau ngerjain pretest murni dianggap “cih, mbaknya cuma bisa galak doang.”

 

berarti mungkin selama ini, kami siap-siap buat menyelenggarakan praktikum, bikin peraturan segala macam, hanya dapat komentar “halah paling juga larutan sisa, terus nanti percobaannya gagal gara-gara sudah kadaluwarsa.”

 

enggak, kami gak gila hormat, terima kasih atau gimana kok.

 

kerja kami cukup dihargai saja sudah seneeeng banget.

 

ihik.

 

-aga-

Advertisements