you know when i’m writing in mixed language between English-Indonesian means i’m going to write something rather serious

 

atau kalian gak sadar. well, gak masalah sih hahaha 😛

 

jadi, seperti biasa, setia hari Selasa, jadwal kuliah Semester 7 saya di FKG ini adalah Agama Islam II jam 7.00-8.00 dilanjut Konservasi IV jam 08.00-09.00. renungan malam ini diawali dari kuliah Agama Islam II tersebut.

 

jujur saja, saya sendiri gak begitu ngerti materi tadi pagi apa. yang jelas, secara tiba-tiba semua menjadi berubah menarik ketika sang dosen menyinggung sebuah hal yang pasti juga mengusik pikiran semua mahasiswa/i tingkat akhir.

 

jodoh.

 

the one.

 

dosen saya bilang dalam bahasa Jawa, “bojo karo jodho itu berbeda”

“pasangan dengan jodoh itu berbeda”

“the spouse and the one is different”

 

kemudian muncul pertanyaan-pertanyaan yang makin mengusik tentang takdir Tuhan yang tidak bisa diubah-ubah dan takdir yang masih bisa manusia ubah.
jodoh, sesungguhnya adalah sesuatu yang tidak bisa diubah karena sudah semacam disegel oleh Yang Maha Kuasa. sekalipun seseorang sudah menikah selama puluhan tahun sampai mereka meninggal pun, belum jaminan bahwa yang dinikahi itu adalah jodohnya!

 

nahloh!

 

kemudian saat rehat, ngobrol-ngobrol sedikit dengan Sari dan Gita. mereka semacam bertanya-tanya sendiri.

kalau, ada orang A yang harusnya jodohnya adalah B tapi ternyata dia menikah dengan C dan punya anak.

apa itu artinya Tuhan sudah menggariskan bahwa A memang nggak akan ketemu jodohnya di dunia? lha terus, anak hasil pernikahan mereka itu sebenarnya sudah ditakdirkan untuk lahir juga, begitu, walaupun mereka sebenarnya bukan jodoh? terus nanti kalau si anak juga menikah bukan dengan jodohnya juga? terus punya anak juga?

 

yeah, first of all, we’re not God. we don’t know what The Big Guy has for us.

 

kemudian Dosen saya juga semacam mengungkapkan bahwa kita menikah tidak boleh ada dasar memuaskan keinginan pribadi.

 

terus saya mikir.

apa ini artinya kita gak boleh menikah dengan orang yang kita sukai? ‘kan kita “ingin”.

ah pokoknya terus saya jadi bingung pol.

berasa keluar dari kelas Filsafat. tapi memang kebetulan Dosen ini juga mengajar Filsafat, sih, jadi kuliahnya jadi 11-12 sama Filsafat…

 

anyway…

 

sambil saya berusaha menyelesaikan tugas-tugas malam ini, saya sambil memutar CD The Click Five, TCV. ada satu lagu yang sangat mengena, dan ajaibnya berkaitan sekali dengan apa yang barusan dibahas hahaha.

 

"Good As Gold"
 
 Two birds taking flight
 One rest, the other guides them home
 They love but they don't know...
 
 Two bricks, lay in line
 Weathered but the red and white still show
 They love but they don't know
 
 One can make a heartache
 While another makes it strong
 Settle up before it's gone
 
 Tell me what you want
 Tell me what you want
 Cuz our time is made of gold
 And we can spend it all night if we spent it right
 Let's take as much as we can hold
 Now I'm reaching out an empty hand
 Hold it there until it's full
 Make it last, cause this is all we have
 A love as good as gold
 
 Some days turn us down
 Shaking up all out doubting bones
 We love but we don't know
 
 Some nights keep us up
 The turnaround is always touch and go
 We love but we don't know
 
 One voice makes a heart race
 While the others just made noise
 Settle up before it's gone?
 
 Tell me what you want
 Tell me what you want
 Cuz our time is made of gold
 And we can spend it all night if we spent it right
 Let's take as much as we can hold
 Now I'm reaching out an empty hand
 Hold it there until it's full
 Make it last, cause this is all we have
 A love as good as gold
 
 A love as good as gold
 
 So Tell me what you want
 Tell me what you want
 Cuz our time is made of gold
 And we can spend it all night if we spent it right
 Let's take as much as we can hold
 Now I'm reaching out an empty hand
 Hold it there until it's full
 Make it last
 
 Oh, tell me what you want
 Tell me what you want
 Cuz our time is made of gold
 And we can spend it all night if we spent it right
 Take as much as we can hold
 Now I'm reaching out an empty hand
 Hold it there until it's full
 Make it last, cause this is all we have
 A love as good as gold
 
 A love as good as gold
isn’t it sweet? how  they picture love when both sides don’t know that they’re in love?
we love but we don’t know
jadi bertanya-tanya sendiri. jangan-jangan…
saya pernah – atau bahkan sedang – mengalami hal ini?
we love but we don’t know?
bertolak belakang dengan lirik di atas…
manusia dan rasionalisasinya.
humans and their rationalization.
kita hanya membuat suatu rasionalisasi ketika kita tahu bahwa apa yang hendak kita lakukan adalah salah.
we only make rationalization when we know what we’re about to do is actually wrong.
rasa suka atau bahkan cinta, bisa jadi adalah sesuatu yang berbahaya. karena dengan perasaan itu, kita bisa dipaksa untuk merasionalisasi segala hal yang sebenarnya salah.
hal ini baru saya sadari setelah saya sendiri memaksakan diri untuk merasionalisasikan sebuah hal.
saya sempat bergumam,
“padahal aku sudah siap untuk merasionalisasikan segala sesuatu!”
“i was ready to rationalize things!”
di situ saya sadar.
buat apa saya melakukan rasionalisasi kalau hal yang akan saya lakukan adalah benar?
nggak ada alasan lain kecuali, bahwa hal itu sebenarnya salah dan tidak sepatutnya dilakukan.
there’s no other reason to make rationalization except that what you’re going to do is plain wrong.
sudah pusing?
sudah berhenti baca post ini dari baris keberapa? hahaha 😀
this is why it’s named ‘afterthought’, cause we think over after something or few things happened.
-aga-
Advertisements