saya sedang berpikir-pikir…

film itu enak ya?

kalau sudah selesai, tinggal memunculkan layar hitam atau sebelumnya melayangkan tulisan “the end“. tamat.

lagu juga enak.

kalau sudah selesai, tinggal mem-fade out musik atau membunyikan chord utama sebagai gong-nya. tamat.

yang lebih enak lagi adalah dongeng atau fairytale.

tamat. dan berakhir bahagia alias happy ending.

***
if happy ever after did exist, i would still be holding you like this~
#Maroon5, Payphone
***
sebetulnya saya bosan setengah mati dengan lagu itu. terlalu sering diputar, sih. tapi sepotong lirik yang saya kutip itu benar sekali.
apa sih, dongeng itu?
i like fairytale. but to believe it… no, i don’t believe in fairytale at all. it’s overrated. it’s too good to be true.
***
saya kagum dan salut dengan para pembuat film, cerita, lagu. mereka bisa mengakhiri apa yang mereka buat dengan sangat apiknya. selain kagum dan salut, saya juga iri setengah mati.
ada apa?
saya iri setengah mati karena saya sangat buruk dalam mengakhiri segala sesuatunya.

kecuali hafal partiturnya, saya mengakhiri permainan piano sebuah lagu dengan jeda cukup panjang.

saya bingung bagaimana mau mengakhiri sebuah telepon atau sms.

saya hampir gak pernah bisa menulis cerpen kurang dari 8 halaman.

dan yang paling parah, saya gak bisa menghadapi perpisahan dengan proper.

 

***

 

perpisahan dengan David. didn’t end well. sekarang saya gak tahu dia ada di belahan dunia mana. saya gak tahu kabar dia bagaimana. siapa yang mengakhiri?

saya.

 

perpisahan dengan Tudgeman. awkward for months. saya menyalahartikan apa yang dia lakukan. dia menyalahartikan apa yang saya lakukan. percakapan biasa jadi luar biasa karena luar biasa awkward-nya. siapa yang mengakhiri?

saya.

 

rasa-rasanya, saya tahu bagaimana akan memulai. saya tahu bagaimana situasi akan berjalan.

 

but, God, i have no idea how to end something. i have no pattern to face an end. a goodbye.

 

“oh, halo… aku aga. oh, kuliah di fakultas X yaaa? kenal sama ini, nggak? bla bla bla bla…”

“eh, kamu yang kemarin! gimana kabarnyaaa? bla bla bla…”

 

^ contoh untuk memuli percakapan.

 

“er… oh, iya, selamat tidur, ya..”

dalam hati bergejolak pertanyaan perlukah menambahkan ‘mimpi yang indah’ atau ‘sampai jumpa besok’ atau tidak perlu berkata apa-apa lagi?

“wah filmnya bagus. terima kasih ya..”

berkecamuk apa yang sebaiknya dilakukan: mengikuti di belakang dan bertanya ‘setelah ini mau ke mana?’ atau langsung saja pulang atau hanya terpaku bingung melihat orang-orang bergerak keluar ke segala arah?

 

Goddamnit, i don’t know what to do

 

awkward?

buat orang-orang yang terbiasa dengan perpisahan saja awkward, apalagi pada saya yang nol besar dalam goodbye moments.

 

sungguh, menghadapi perpisahan itu seperti memarkir mobil. kalau gak perlu, lebih baik gak usah aja deh ada acara parkir mobil, gak usah aja deh ada acara perpisahan. kalau ada yang bisa memarkirkan mobil, sekalian deh tolong buatkan skenario terbaik untuk perpisahan-perpisahan yang akan saya hadapi.

 

nah.

‘kan?

sekarang saya bingung bagaimana harus mengakhiri post ini.

 

tell me how to do a proper goodbye.

 

bye (?).

 

-aga-

 

Advertisements