been a long time since i wrote something rather good, no?

 

good.

 

bagus.

jelek.

baik.

buruk.

 

pernah berpikir, gak, dari mana datangnya penilaian seperti itu? dari mana kita bisa menilai bahwa sesuatu adalah bagus? bagaimana bisa kita mengatakan “orang itu jahat” ?

 

ketika kita mendapat nilai A di suatu mata kuliah, kita tahu nilai itu bagus. sementara kalau dapat D, itu artinya nilai kita jelek. kok bisa tahu? karena tertulis di buku panduan akademik. A = 4, B = 3, C= 2, D = 1, E = 0. semakin tinggi nilainya, semakin bagus jadinya IP kita nanti.

 

tapi, ketika kita bisa mengatakan, “orang ini baik” atau “orang ini jahat”…

 

where did it come from?

 

pernah tanya jawab sendiri seperti ini gak?

 

bagaimana awalnya, sih, kita tahu sesuatu itu ‘baik’ atau ‘buruk’?  –> sebelum masuk pendidikan awal, seperti playgroup/TK… dari orang tua, ‘kan? bapak dan ibu…

 

bagaimana kalau apa yang kita anggap sebagai ‘baik’ selama ini adalah kebalikannya? –> lho, ‘kan, bapak sama ibu mengajarkannya begitu, sekolah juga. jadi, sepertinya… gak mungkin ah.

 

nah, bagaimana kalau, KALAU, apa yang selama ini diajarkan turun temurun, dari jaman dahuluuuuuuuu kala, itu salah? bagaimana kalau ternyata, pada jaman sangaaaat dahuluuuuuuuuuu kala, apa yang kita anggap baik saat ini dianggap buruk, vice versa? –> saya stuck untuk menjawab yang ini.

 

sering kali kalau di tengah malam – atau kapanpun lah, gak mesti tengah malam juga – pemikiran ini terlintas lagi di kepala, saya kemudian akan membuat rasionalisasi seperti ini. “kita manusia memiliki yang namanya conscienceseperti tokoh dongeng Jiminy Cricket, conscience selalu melakukan hal yang benar”.

 

put it on pause

 

lagi-lagi, terbentur dengan pertanyaan, “bagaimana bisa conscience kita tahu mana yang benar, mana yang salah?”

 

dari pengalaman empirik, ‘kah?

bagaimana kalau pengalaman empirik itu secara turun temurun sudah salah kaprah mengenali mana yang baik dan mana yang buruk?

 

lagi pula, dengan membicarakan pengalaman empirik, berarti kita membicarakan tentang sejarah. sejarah dituliskan dan diceritakan berulang-ulang kali. terkadang dengan versi yang berbeda.

 

tapi sadarkah kalian bahwa ketika sesuatu diceritakan kembali, kecil kemungkinannya hal itu akan diceritakan lengkap 100%?

 

misalnya saja, aku bercerita bahwa aku jatuh dari motor di depan rumah karena lantai licin. bisa saja saat aku menceritakan hal ini, aku sengaja melewatkan bagian bahwa ternyata, gak cuma jatuh dari motor, aku juga menabrak pot bunga sampai pecah.

 

nah,

 

saat ini, siapa yang tahu KALAU dulu ada hal yang terlewat – atau sengaja dilewatkan – yang kemudian mengubah persepsi baik vs buruk ini?

 

rasionalisasinya lemah, aku tahu itu. tapi entah mengapa terasa masuk akal.

ingat, saya bilang masuk akal. gak berarti kalian semua lantas harus ikut-ikutan berpikir seperti ini. malah kalau ada yang mau mem-oppose dan mendebat saya boleh lho 😉

 

akhir kata, entah post yang dengan sengaja atau tidak sengaja ini kalian baca benar atau tidak benar…

 

does a truth is truly true?

 

-aga-

Advertisements