kalau menurut penerjemah Trilogi The Hunger Games ke bahasa Indonesia, Hetih Rusli, may the odds be ever in your favor diartikan sebagai semoga nasib baik selalu berpihak padamu.

 

iseng-iseng memasukkan serangkaian kata itu ke GoogleTranslate… dan yang keluar adalah – tahan tawa kalian: mungkin kemungkinan akan pernah menguntungkan Anda

 

dalam waktu mepet, memang GoogleTranslate merupakan alat bantu yang berjasa sekali. tapi jangan, dan sekali lagi, jangan sekali-kali mengandalkannya di tugas besar.

 

GoogleTranslate is like Mundungus Fletcher or Haymitch Abernathy.

 

aku yakin lebih dari setengah penduduk di seluruh dunia adalah Potterheads, jadi pasti tahu siapa dan bagaimana sifat Mundungus Fletcher. sedangkan para Tributes… aku kurang tahu ada berapa banyak, tapi sepertinya tidak sebanyak Potterheads.

 

aku sendiri baru mendeklarasikan diri menjadi salah satu Tributes kemarin, setelah menyelesaikan buku terakhir trilogi The Hunger Games, yaitu Mockingjay, dan menonton adaptasi filmnya.

 

kemudian seperti biasa. menyerap isi dari ketiga bukunya dan membanding-bandingkan dengan hidupku sendiri. bertingkah seolah-olah aku ada di posisi mereka, atau lebih konyolnya lagi, berada sebagai salah satu pemeran dalam cerita tersebut.

 

bagaimana rasanya jika aku hidup di negara Panem, di mana aku harus memasukkan namaku sejak umur 12-18 tahun untuk meregang nyawa, bersiap-siap setiap tahunnya untuk dipanggil dan bertarung hingga mati di arena Hunger Games?

bagaimana rasanya jika aku hidup di Distrik 12, sebagaimana yang dikutip dari kata-kata Katniss Everdeen, where you can starve to death in safety” ?

bagaimana rasanya jika aku adalah tulang punggung keluarga beranggotakan 5 orang seperti Gale Hawthorne yang tiap tahun harus memasukkan nama berkali-kali lipat lebih banyak daripada sebagian besar orang untuk diundi karena harus menukar tessera, sehingga kemungkinanku untuk dipanggil ke arena pun juga sangat besar? bagaimana rasanya disia-siakan?

bagaimana rasanya jika aku adalah putra tukang roti, Peeta Mellark, yang terpilih untuk maju ke arena tapi Ibuku sendiri tak percaya aku akan kembali sebagai pemenang – dan hidup-hidup? bagaimana rasanya mencintai seseorang sepenuh hati dan cukup yakin ia memiliki rasa yang sama, tapi ternyata ia hanya berpura-pura? bagaimana rasanya jika ingatanku akan orang yang aku cintai diubah sehingga aku membencinya bahkan ingin membunuhnya? bagaimana rasanya jika aku bahkan tidak bisa membedakan kenyataan dengan kebohongan?

bagaimana rasanya jika aku adalah Katniss Everdeen yang harus menjadi penjaga keluargaku sejak berusia 11 tahun? bagaimana rasanya jika seluruh keluarga dan orang-orang yang kusayangi terancam jiwanya karena hal sepele yang bahkan secara tak sadar aku lakukan? bagaimana rasanya jika aku harus dilempar ke arena Hunger Games dua kali? bagaimana rasanya dijadikan pion pemberontakan padahal aku sendiri tidak tahu mana yang benar dan salah? bagaimana rasanya mengerti bahwa aku mencintai seseorang setelah sekian lama aku tidak tahu bagaimana rasanya mencintai?

 

Trilogi The Hunger Games bukan sekadar cerita cinta antara 3 remaja. ketiga novel ini memberi kerumitan akan setiap keputusan dalam hidup yang kita ambil. betapa setiap orang memiliki sisi kontradiktif ingin bebas namun harus tetap ada pemimpin yang membimbing. dan melihat bahwa cinta berjalan dengan caranya sendiri.

 

love runs on its own speed

 

belakangan aku jadi sadar.

meskipun kita tidak berada di hutan arena Hunger Games dan tidak harus ‘literally’ saling membunuh untuk bertahan hidup…

 

everyday we live on, is Hunger Games.

 

kita hidup, memiliki tujuan. untuk meraih tujuan itu ada penghalang-penghalang. sesekali kita tertahan, kemudian terus berjalan. kita membuat kesalahan, kita menyusun rencana, kita membayangkan kemungkinan terburuk, kita berharap yang terbaik, dan pada akhirnya…

 

kita menghadapi realita yang ada.

 

may the odds be ever in our favor.

 

-aga-

 

Advertisements