umm

sebenarnya aku sudah pengen menulis posting satu ini sejak lamaaa sekali. namun entah kenapa baru memutuskan untuk benar-benar menulis dan mem-publish-kan malam ini

kronologis dari postingan ini bakal kacau balau. anggap saja alurnya maju-mundur.

aku pernah menulis di Twitter yang kemudian nyambung ke Facebook juga, seperti ini bunyinya:

fragile. it doesn’t mean it’s easily broken. it means it’s able to be broken.

entah kata-katanya terlalu mbulet atau memang orang-orang tidak sepaham dengan filosofiku, tapi yang pasti gak ada retweet maupun jempol like.

yeah whatever, like i need it

sebetulnya kalimat tersebut menyambung pada tweet/status sebelum-sebelumnya. yang berbunyi:

one person who looks like the strongest person is probably one of the weakest

silakan berspekulasi tapi sebelum kalian berspekulasi lebih jauh, okay i’ll admit it, pada saat itu mungkin adalah titik-titik terendah dalam hari-hariku di tahun 2012.

i wouldn’t refer that i’m that strongest person i wrote about, but i consider myself as one. if you’re not considering yourself as the best or at least better than anyone else, how are you supposed to have control over yourself?

then again,aku membuat kalimat dengan kata-kata yang mbulet. yah maaf ya, ini akibatnya maraton House M.D.

di tengah kondisi dalam titik terendah itu, apapun, siapapun, bisa jadi motivasi. tidak peduli siapa, kata-kata yang sedikit melambungkan harapan bisa paling tidak membuat kita merasa ada di titik keseimbangan, di tengah-tengah. di manapun lebih baik daripada di paling bawah.

di saat itulah, “Sheldon” – yes, it’s another alias – mengutarakan satu statement yang lumayan buat aku sadar bahwa i matter in the least way.

pernah gak ada orang yang bilang ke kalian seperti ini:

“kamu adalah alasanku untuk melakukan ini”

you are the reason why i wanna do this”

mungkin bagi orang-orang yang sudah punya pencapaian besar, kalimat itu terasa biasa saja. misalnya aku mengatakan bahwa aku ingin jadi novelis karena Darren Shan dan JK Rowling. ya mereka sudah menghasilkan banyak sekali novel yang ngetop dan mereka memang role model gitu loh.

buat aku yang yah begini ini, kalimat itu WOW banget.capitalized WOW.

***

di lain pihak…

i hate hierarchy in this country. most of the times.


aku ingat betapa santainya aku dulu sewaktu les bahasa Inggris di EF. memanggil guru native ku langsung dengan namanya. Darren, Jon, Phil. memanggil teman-teman sekelas yang jelas-jelas lebih tua dariku tanpa embel-embel mas mbak. Adit, Ahda, Tian, Like, Chy, Rista.

menyederhanakan bahwa kami semua sederajat dan dalam satu tingkat: belajar.

dengan begitu pun menyederhanakan hierarki sosial.

i know this doesn’t make sense to most of you

tapi pernah sadar gak kalau beda satu-dua tahun itu SEMU banget.

ya, seperti berat badan naik-turun satu-dua kilogram yang juga SEMU.

saking semunya, bisa jadi hanya karena secara hierarki kita lebih tua, padahal secara umur kita sepantaran. bahkan bisa saja terjadi orang itu justru lebih tua. AWKWARD

AAAAARGH

***

hierarki sosial di masa sekolah-kuliah adalah kelas atau tingkat. hierarki sosial di tempat kerja adalah jabatan. kita terperangkap dalam hierarki sosial.

screw you hierarchy. screw you whoever discovered hierarchy.

selain itu salah kita juga sih kebanyakan pertimbangan. tapi mau gimana lagi. kita semua punya 2 pertimbangan.

hati dan otak.

following your heart is easy. following your brain is tough. – Gregory House, House M.D.


***

entah deh ya apa ada yang menangkap maksudku dari postingan ini atau tidak. yang pasti aku makin gila ._. there, i also admit that i’m kinda crazy.

you lift my feet off the ground and spin me around. you make me crazier, crazier. – Taylor Swift

akhir kata

how can you write love songs if you never be in love?

-aga-

Advertisements