akhirnya, keingat juga apa yang sempat terlintas di kepala kemarin malam! tadi siang aku terdiam setengah jam sendiri, berusaha mengingat apa, eh ternyata begitu dilupakan, sore ini langsung muncul 😀

brain, you never know how this awesome organ works! subhanallah 🙂

ngomong-ngomong, ada yang BELUM nonton The Avengers? aaaaa cepet buruan nonton! nanti konfirmasikan pernyataan berikut benar atau salah ya! –> Aku pengen tiduran di dadanya Capt. America, kayaknya empuk, enak buat tiduran :3

kakakakakakak, sudah ada satu orang yang setuju ketika aku mengutarakan hal ini. siapa lagi kalau bukan Reina aka si Icil hihihihi. bahkan sore ini ketika dia aku sms soal tugas kuliah yang sangat tidak jelas dan bikin ketar-ketir, masih sempat-sempatnya aku menyelipkan kalimat:

aaa sebel, bikin betek aja *pukul2 dadanya capt america #eh :p

dan bukannya mengembalikan aku ke jalan yang benar, sms-sms Reina berikutnya berbunyi:

betul mamen, garai gregetan iku cul, iso mendal-mendal kayak airbag kali ya, uh pingin tak jiwit wit uuuuuu

ya, kami memang agak kurang waras hahahaahha :))

mimpi boleh lah yaaak 😀 mumpung masih gratis dan gak dilarang, sah-sah aja kan yaaa 😀

Namun, aku yakin kita semua sadar bahwa setiap hal ada batasannya. memang sekarang kita bisa terbang di angkasa, tapi toh Ironman yang serbabisa juga gak bisa terbang di luar angkasa. aku dan Reina bisa saja berangan-angan tiduran di dada Chris Evans, tapi kita semua tahu itu gak lebih dari candaan belaka. kita boleh bermimpi setinggi-tingginya, tapi setinggi apa akhirnya yang bisa kita gapai?

bukannya pesimis, tapi semakin hari semakin aku skeptis dengan kata optimis. ayolah, berapa banyak dari kita sekarang yang masih super optimis? semakin dewasa kita, semakin kita dihadapkan pada satu kenyataan bahwa kita harus realistis.

suck? you bet. you, bet.

seperti para novelis. setipis apapun novelnya, seperti Narnia yang mungil atau Darren Shan yang dibaca semalam saja habis, toh pada saat filmnya diputar gak sedikit orang yang kecewa. mengapa gak sama dengan yang dideskripsikan di buku? mengapa adegan ini gak dimunculkan? mengapa bagian yang seru banget itu malah dihapus di film?

seperti para musisi. aku yakin, jauh di otak mereka, mereka ingin menciptakan lagu yang lebih liar dan dahsyat daripada yang sudah kita dengar. aku yakin, kalau mereka bisa menggabungkan semua alat musik, pasti mereka sudah melakukannya.

they’re musicians, for God’s sake. they turn 26 letters of alphabet and 7 basic tones into at least 2 verse, 1 bridge and 1 chorus.

….

-biar lebih dramatis ada titik-titiknya biar seakan-akan kita bisa berpikir :p-

entah kalian bisa menangkap maksud dan pikiranku atau tidak, yang jelas, yang ingin aku sampaikan di sini adalah Chris Evans bodinya nggemesin sekali sekarang.

eh bukan itu.

masih bagusan bodinya Hawkeye – om Jeremy Renner, bikin kejang-kejang to the max itu.

haha, oke, maksudku adalah… karena kita – paling tidak aku – sadar bahwa setiap mimpi dan cita-cita kita ada yang membatasi, gak ada salahnya bermimpi setinggi-tingginya 🙂

mengapa?

karena toh di atas langit masih ada langit.

kalau kita bisa bermimpi sampai langit ketujuh, dan walaupun hanya bisa mewujudkan impian kita di langit kedua…

that’s pretty awesome, right? 🙂

-aga-

Advertisements