aku masih inget.

pada saat itu tanggal 14 Februari tahun 2009. hari Sabtu. kelas 3 SMA. mata pelajaran TIK. mengenakan seragam pramuka, praja muda karana!

secara kebetulan, hari itu adalah hari Valentine – yangg tidak pernah kurayakan. dan secara kebetulan pula, hari itu hasil test iBT TOEFL ku bakal diumumkan.

 

apa sih iBT TOEFL? apa bedanya sama TOEFL biasa? buat apa aku ikut iBT TOEFL?

 

tenang, tenang, mari aku jelaskan satu satu.

 

teman-teman pasti paling gak pernah melakukan tes TOEFL satu kali . ternyata, tes TOEFL itu bentuknya macam-macam sekali, kawan-kawan. ada yang namanya Paper Based TOEFL (pBT) dan Internet Based TOEFL (iBT).

saat ini yang sering digunakan sebagai tes-tes di Indonesia adalah yang pBT karena tempat-tempat kursus bahasa Inggris di Indonesia sebagian besar sudah bisa menyediakan, selain itu pBT ini hanya berlaku bagi institusi yang menyelengarakan. misal, TOEFL untuk UGM, ya TOEFL ini cuma berlaku buat di UGM aja. nilai maksimum 677.

sementara iBT ini lisensi dan pendaftarannya KHUSUS dari tempat asal TOEFL yakni New Jersey, USA. dan berlaku di seluruuuh dunia selama 2 tahun. nilai maksimum 120.

sistem tesnya sendiri beda. pBT umumnya terdiri atas Reading, Structure, dan Listening. sementara iBT terdiri atas Reading, Listening, WRITING, dan SPEAKING.

 

yes, i’m talking about the real deal here.

 

pada saat itu, kelas 3 SMA merupakan saat-saat menentukan bagi kita semua dalam menyongsong masa depan yang (diharapkan) cerah bahagia indah sehat sentausa. sebelum mendaftar ke FKG UGM, aku mendaftar ke Monash Malaysia. persyaratan utama: TOEFL minimal 580. dikonversikan ke iBT TOEFL adalah 92-93.

 

what the heck?!

 

pertama, aku belum pernah mengikuti tes TOEFL dengan serius, jadi hasilnya juga gak pernah notog 550. lah ini, udah minimal 580, mana harus pake iBT yang tesnya jauuuh lebih susah.

sebelum menyanggupi persyaratan TOEFL ini, aku juga menjajal tes bahasa Inggris lain yang diterima di Malaysia yaitu IELTS. persyaratan untuk IELTS kalau gak salah minimal 7 (maksimalnya IELTS kalau gak salah 9).

ternyataaaaa IELTS yang based on English people malah lebih susah lagi daripada TOEFL. tau sendiri si heripoter kalau ngemeng gimana. lah Listening section nya IELTS ya gitu suaranya. wah mampus deh.

 

akhirnya diputuskan. les dalam rangka mengambil iBT TOEFL dengan target bulan Januari ambil tesnya dan mencapai hasil minimal 580.

 

hari-hari penuh cobaan buatku karena pada saat itu setiap kali ketemu papa yang ditanyai cuma masalah TOEFL. muak banget -__-

 

yang paling mengesankan dari iBT TOEFL itu adalah pada saat Speaking Section. dengan headset nyumpel kuping serta mic menjulur, seisi ruangan yang berisi kira-kira dua belas orang, jadi ngeciprit sendiri-sendiri semacam orang gila gitu. awalnya aku gak pede mesti ngomong keras-keras, sama mic, berasa blo’on banget. tapi toh semua orang gak peduli suara mereka bergaung jadinya yaaah battle speaking 😀

 

alhasil, pada saat tanggal 14 Februari 2009 itu, aku segera menghubungi tempat aku mengambil TOEFL untuk menanyakan id dan password ku. saat pelajaran TIK, aku menduduki satu komputer yang kuharapkan bisa digunakan untuk nge-net. ternyata yang aku duduki pol-pol-an cuma bisa buat main solitaire -____-

 

akhirnya minta tolong sama temenku kalau gak salah sih Topik, untuk mengurungkan niatnya main CS sebentar, dan aku segera mengecek hasil iBT TOEFL ku.

jeng jeng.

jeng jeng jeng.

dag dig dug.

hasil keluar. dan….

aku dapat skor 98!

wuoooh lupa daratan, aku lonjak-lonjak di kelas itu.

98 itu untuk pBT sama dengan 597!! melebihi ekspektasi!!

wah gembira gak ketulungan deh pas itu.

 

pada akhirnya toh aku gak jadi apply ke Monash karena satu dan lain hal. dan pada saat masa berlakunya habis, skor itu tidak aku pergunakan sama sekali. yaaah eman-eman sih duit $150 nya yang untuk melaksanakan tes iBT TOEFL. tapi paling gak aku tahu rasanya pernah punya TOEFL hampir menyentuh 600.

 

nah, lain cerita, kemarin-kemarin papa cerita tentang adikku yang saat ini kelas 2 SMA. di SMA nya, diadakan les TOEFL dan sebentar lagi les nya akan berakhir. ada satu orang tua yang mengeluh di forum:

“wah anak-anak kita ini banyak yang belum bisa mencapai 600 TOEFL-nya. bagaimana ini?”

 

aku naik pitam bercampur geli dan gak habis pikir.

 

orang tua ini gak tau apa ya skor 600 di TOEFL itu susahnya gimana?!

orang tua ini gak tau apa ya, bahkan persyaratan kuliah mau S1/S2/S3 juga gak bakal setinggi 600?!

 

terus adalagi nih berita yang aku dapet dari detik. silakan klik link ini

http://us.finance.detik.com/read/2012/01/02/081216/1804345/4/dpr-pns-wajib-toefl-600-jangan-buat-gaya-gaya-menterinya-tes-dulu?f990101mainnews

 

HELLOOOOOOOO MAU BIKIN KEPUTUSAN ITU MBOK DIPIKIR DULU!! DIJALANI DULU!!!

 

seenak jidat aja mewajibkan TOEFL minimal 600?!

ujian Bahasa Indonesia aja sukur-sukur dapet 80, ini bahasa orang luar malah harus 600 aja.

ih sumpah ya, bikin kesel gak sih? -,-

 

-aga-

Advertisements