from the book i read – but unfortunately unfinished, yet – Why Men Don’t Listen &  Women Can’t Read Maps, men tend to have vocabulary more than women.

 

yah kalau gak salah inget juga sih. hahahaha 😀 #plak

 

oke oke, kemungkinan besar hal itu benar, karena aku ingat alasannya. yaitu karena laki-laki lebih suka mendeskripsikan sesuatu dengan singkat, padat, jelas – sebelas duabelas sama telegram yak? makanya, kosa kata mereka cenderung lebih banyak 🙂

 

yah, dalam hal English, aku mengakui kalau kosa kataku gak begitu banyak. sekalian belajar, makanya kalau download film selalu cari subtitle English dan – terlepas dari kualitas musik Indonesia yang gojag-gajeg – koleksi lagu dengan bahasa Inggris ku lebih banyak.

 

ah, tadi sore ada kejadian yang kalau dirangkum dalam satu kata adalah: annoying

 

sekitar pukul 3.30 sore waktu yogyakarta, ada suara tek-tek-tek pelan yang kontinyu tapi yang jelas terdengar hingga kamarku – continuous persistent annoying knocking voice.

 

semenit – dua menit oke lah ya.

 

imagine that voice lasts for fifteen minutes.

 

aku yang sedang (berusaha mengumpulkan mood untuk) belajar gak tahan. aku keluar rumah, memasang tampang berang, melihat siapa sih yang mengganggu kedamaian suasana.

 

ternyata benar, ada seorang perempuan berjilbab oranye mengetuk pagar rumah di sebelah barat laut rumahku dengan entah koin, entah kunci, yang menggaungkan bunyi menyebalkan tek-tek-tek itu. saat aku keluar, dia sadar kemudian menoleh.

 

lalu ia kembali ber-tek-tek seolah muka berangku tidak memberinya gambaran apa-apa atas perbuatan ‘kriminal’-nya.

 

for God’s sake!

 

 

if you’d been knocking for over 15min and nobody answered, there’re 2 possibilities: nobody’s home or you’re forbidden to step any closer.

 

lagipula, hellooo tahun 2012 ponsel kan sudah seperti kripik setan, populer dan ada di mana-mana. ditelpon kek yang punya rumah. lagipula, setahuku…

 

rumah itu memang gak ada isinya -___-

 

setelah itu aku kembali masuk, dan menyumpal telinga dengan headset.

 

end of story? not yet. wait for it.

 

jam 4 aku bersiap untuk pergi. you know what?

orang itu masih berdiri di pagar yang sama. melakukan hal yang sama.

 

dude, it’s been at least half an hour you’ve been knocking that fence. give it a rest. nobody lives there or maybe even deported.

 

pukul 4.30, aku, papa, mama sudah di mobil. orang itu MASIH berdiri di pagar yang sama. yang beda adalah dia sedang berteriak-teriak ria pada ponselnya. dari tadi napa?!

 

papa kemudian bercerita kalau ia tadi sudah bertanya pada si ibuk/embak nya itu. kira-kira begini percakapannya.

 

papa : buk, cari siapa?

ibuknya : ini orangnya ada di rumah gak ya?!! <nadanya agak ketus-ndeso gitu>

papa : <mungkin membatin, ‘kok malah bales nanya?’> wah ya kurang tahu. kenapa nggak ditelepon aja?

ibuknya : saya ini dateng dari jauh!! <tambah gak nyambung, gak mau cari masalah, papa pergi meninggalkan si ibuknya>.

 

-____________________-”

 

aneh baaangettt.

 

you know, there is a very thin wall between being naive and idotic.

 

naif dan idiot sendiri merupakan 2 hal yang berbeda. tapi kalau dijajarkan dalam suatu kondisi (seperti yang barusan aku ceritakan), keduanya jadi mirip banget.

 

jadi ngerasa lucu ya.

dua hal yang dirasa sama, bisa jadi berbeda. misal, perasaan suka dan cinta (bukan, bukan galau. ini murni contoh!). keduanya sama-sama mengindikasikan ketertarikan lebih pada sesuatu. namun keduanya berbeda.

dua hal yang dirasa berbeda, bisa jadi mirip. seperti idiot dan naif itu.

dua hal yang dirasa berbeda, bisa jadi sama. merpati dan penguin itu berbeda, tapi keduanya sama-sama burung. laki-laki dan wanita itu berbeda, tapi keduanya homo sapiens.

 

*terdiam*

 

entah kenapa sih aku sering mikir seperti ini. ini aku yang salah atau hal ini normal ya? hahahahaahahahaahahaha *ketawa bego

 

well, anyway, knock 3 times, if no one answers, leave the house otherwise people (at least I) will consider you as idiot instead of naivete.

 

-aga-

Advertisements