aku bukan tipe orang yang suka berkumpul ramai-ramai dengan orang-orang yang tidak (belum) aku kenal. well, katakanlah dengan orang-orang yang tidak akan pernah kukenal karena beberapa hal, seperti:

1) perbedaan umur terlalu jauh
2) perbedaan profesi yang amat mencolok
3) perbedaan prinsip yang paling mendasar
4) simply, i don’t like them.

aku lebih memilih menghabiskan waktu walaupun gak jelas tanpa arah tujuan dengan orang-orang yang sudah aku kenal, seperti keluarga dan teman-teman; atau sendirian meskipun juga gak jelas antara menonton ulang serial Spaced, main solitaire dan free cell, baca majalah Cinemags, dan tidur.

pathetic? yeah whatever you wanna call me. i love it this way. i’m not good at pretending.

ah, almost forgotten. Happy New Year all 🙂

HAHAHAHA yeah, right.
aku bukan tipe orang yang membesar-besarkan hari libur semacam tahun baru. mungkin dulu aku salah satu yang suka mengirimkan sms setiap ada perayaan semacam ini, tapi entah sejak kapan pola berpikirku jadi seperti ini:

what is so good about new year? it’s not like i’m gonna change into Taylor Swift or Emma Watson, right?

beberapa berkata: new year, new me.

why?

why bother changing your entire personality just because it’s a new year?

ada lagi yang cukup patut dipertanyakan. mengapa bersusah-susah keluar dan mencari spot untuk melewatkan malam tahun baru, melintasi jalanan yang macet, dan belum ada jaminan bisa kembali ke rumah karena kemacetan itu?

why so stoked in spending time through new year’s eve? wasn’t it just like any other eves?

pfffft.

yah, terdengar (terbaca) sangat sarkastik/sinis/pesimis/negatif (pick one, please). tapi logikanya benar begitu, ‘kan? ya, ‘kan? :p

anyway, i spent the most horrible NYE last year (yesterday).

salah satu kekurangan tinggal dengan orang tua adalah di saat-saat seperti NYE, rencana kita gak selalu sejalan dengan rencana mereka. aku ingin menghabiskan waktu dengan tidur, sementara sang ayah mendesak sekeluarga ikut untuk bertemu degn teman-temannya yang KATANYA mengundang seluruh keluarga untuk ikut.

cuma gathering sih, gathering kecil-kecilan di hotel, di kamar mereka (yang ternyata presidential suite which means they are rich). masalahnya, hotel mereka itu ada di sekitar Malioboro, which means, untuk ke sananya, harus menerjang keramaian lalu lintas luar biasa karena bisa ditebak, semua orang jogjakarta yang ingin merayakan tahun baru sebagian besar pasti pergi ke Malioboro atau alun-alun yang searah juga.

sumpah, kalau ada teroris yang mengebom Jogja saat malam tahun baru di sekitar Malioboro-alun-alun, jadi kota hantu deh jogja.

singkat cerita, setelah menghadapi pemblokiran jalan dimana-mana, kita sampai di hotelnya melewati jalan tikus. setelah itu bertemu dengan teman-temannya papa dan keluarganya di lobby, lalu naiklah kita ke suite mereka.

masih adem ayem. biasa-biasa saja.

chaotic muncul saat salah satu diantara mereka berujar: “aduh, pengen ngerokok aku.”

SIAL.

mereka ini goblok atau apa sih, ini di kamar ber-AC lho. mereka ini sudah bapak-bapak, lho. gak bisa, apa cukup dengan ngobrol aja? harus ngerokok juga?!

dan tiba-tiba, mereka mengeluarkan BIR. ya saudara-saudari sekalian. BIR.

lebih parah lagi, aku yang menutupi hidung dengan tisu, dipelototin habis-habisan sama mama, dibilangnya gak sopan.

WHAT THE HECK??

jadi aku yang harus menghormati mereka?!

mengapa bukan mereka yang menghormati orang yang gak merokok?!

pernah gak sih kalian berpikir seperti itu?!

mengapa harus yang gak merokok yang menghargai yang merokok?!

FOR GOD SAKE, WHY!!!???

aku gak bisa nafas di tengah kepungan asap rokok. aku nangis. awalnya karena efek dari gak bisa nafas itu. lama-lama karena aku kesal. kesal dengan sikap mereka. kesal karena sikap mama. kesal karena aku gak bisa menahan diri.

untung sepulangnya, tepat pukul 00:00, ada pesta kembang api yang bisa aku saksikan secara gratis lewat jalan depan rumah.

whatever. too many things pissed me off.

hell yeah, happy January 1st 2012, fellows 🙂

-aga-

Advertisements