hm… have i told you guys that i happen to be a… discount and sale freak?

 

yah, pasti sudah pernah kan? hahaha.

gila diskon dan sale ini terutama untuk buku dan komik karena biasanya keduanya dijual dengan harga yang cukup mencekik. diskon 15% sudah lumayan membantu. syukur-syukur ada yang sebiji seribu 😛

 

tapi… ternyata sakit hati juga lihat buku kesayangan diobral sampai 50% di antara tumpukan buku-buku gak jelas. apalagi kalau diobral sampai satu bijinya sepuluh ribu saja -___-”

 

yeah, i’m talking about Narnia’s and Darren Shan‘s

 

masak yah, kira-kira sejak dua tahun yang lalu aku mulai mengoleksi ketujuh novel The Chronicles of Narnia, satunya berkisar antara Rp 30.000,- sampai Rp 35.000,-. tadi sore aku ke acara obralan toko buku Gram*edia pusat di Yogyakarta, dan mendapati ketujuh novel itu bertumpuk, satunya dijual Rp 10.000,0 AJA.

 

-____________________________________-”

 

long straight speechless emotionless face

 

terus, serial Demonata nya Darren Shan yang baru keluar setahunan yang lalu, kok ya tiba-tiba nongol dengan tulisan diskon 50%.

 

-____________________________________-”

 

another long straight speechless emotionless face

 

maksudku, puhlease deh, itu novel-novel bagus dan keren masak semacam direndahkan gitu sih -___-”

 

anyway

 

dulu sewaktu SMP-SMA aku merasa aku bisa membaca semua jenis buku. Harry Potter, Darren Shan, Chicken Soup, Go Ask Alice, Sheila, Hercule Poirot dan novel-novel Agatha Christie yang lain, Sherlock Holmes, dan banyak lagi.

Namun, ketika aku melewati rak-rak buku dan memandangi begitu banyak novel keluaran terbaru mulai Percy Jackson hingga The Vampire’s Diaries, aku mulai merasa ragu untuk meraihnya. Anehnya lagi, novel-novel metropop sebangsa karangan Ika Natassa mulai merayu untuk disentuh, dibeli, dibaca, dan dihayati.

 

lama aku terpaku di depan rak metropop. beberapa kali hampir memeluk sebuah buku dan membawanya ke kasir. namun buku itu kembali kuletakkan di barisannya. kemudian aku menoleh, menatap novel Freefall, Tunnel, Deeper dan sebangsanya. sekali lagi, hampir kupindahkan dari rak toko buku ke rak kamarku, tapi ada sesuatu yang menghalangi.

 

rasanya di umur dua puluh tahun ini, sedikit kekanakan masih meyakini fantasi dan fiksi. rasanya, buku-buku ini tidak mempunyai daya tarik seperti saat aku dulu menemukan buku Darren Shan. rasanya…

weird

 

aku terus meyakini dalam hati bahwa umur tidak boleh menghetikanku untuk berimajinasi. umur bukan batasan seseorang berkhayal tentang sebuah dunia di mana terdapat makhluk mistis bernama Vampir atau sebatang dahan yang bila diayunkan dapat menghasilkan api. tidak ada yang salah bila kita masih mendambakan Neverland yang membuat Peter Pan tidak tumbuh dewasa.

 

sekali lagi. Namun…

 

entah mengapa, dengan berakhirnya Harry Potter dan Darren Shan seolah memberi sinyal bahwa aku harus beralih dari masa satu ke masa yang lain.

mencari sesuatu yang lebih dewasa.

lebih kompleks.

dan lebih… nyata

 

bagaimanapun aku, kita, tinggal di dunia nyata di mana pertikaian bukanlah baku hantam berdarah dan penghisapan darah. kita menjejakkan kaki di bumi tempat tumbuhnya pohon apel bukannya Whomping Willow. selama apapun kita berkhayal, tidak akan pernah lukisan di dinding bergerak dan membawa kita terapung di lautan negeri Narnia.

 

i am honestly kinda scared

 

aku merasa belum siap untuk memasuki fase ini.

aku belum mau merelakan khayalan dan imajinasi ini luntur.

aku masih ingin berandai-andai bisa mencuri kilat dari Zeus dan mengembalikannya bersama Percy Jackson.

aku ingin sesekali bisa lepas dari pahitnya realita dan membayangkan segalanya akan baik-baik saja di dunia khayalan hanya dengan sekali tunjuk.

 

because in imagination, bad day is a delayed perfect day. but in reality, bad day IS bad day. suck.
-aga-

 

Advertisements