apa yang bakal kalian harapkan kalau suatu saat kalian reuni dengan teman SD, SMP, atau SMA?

 

nostalgia.

 

pengalaman selama kita gak ketemu.

 

sedikit cerita tentang apa yang sedang kita lakukan dan apa yang kira-kira sudah bisa kita tunjukkan.

 

semua hal positif yang membuat kita bangga dan bahagia pada teman-teman kita.

 

bukannya kemunduran, cerita miring, atau malah hal-hal negatif yang sama sekali di luar pemikiran kita yang mungkin bisa terjadi.

 

sedikit flashback ke masa SMP.

 

aku kenal anak ini, dia lucu, tomboy, sedikit di luar aturan… tapi yang jelas dari cerita-cerita yang ia utarakan padaku, secara gak langsung dia memberiku dorongan untuk berani melakukan hal-hal baru. seakan-akan dia mengajarkanku buat gak takut menghadapi hal-hal gak terduga di dunia ini.

 

sayang seribu sayang.

 

akibat nila setitik, rusak susu sebelanga.

 

karena gesekan kecil batu, terbakarlah hutan.

 

kami bertengkar. aku lupa apa yang kami pertengkarkan, tapi yang jelas kami tengkar agak lama, saling mendiamkan.

 

sampai… suatu ketika beberapa teman mendamaikan kami.

 

ya, kami memang akhirnya berdamai, kembali mengobrol, kembali bercerita… namun segalanya gak sama seperti dulu lagi…

 

seakan sudah ada dinding solid impermeabel yang membatasi kami.

 

dan parahnya, hubungan kamu makin rapuh saja. sedikit senggolan sudah menyakiti perasaanku. perbuatan melenceng sekecil apapun meledakkannya.

 

kelulusan SMP? ah jangan tanya bagaimana aku dan dia berakhir.

 

aku masuk ke SMA ini, dia masuk ke SMA itu.

 

3 tahun berlalu, sama sekali tak terdengar kabar berita tentangnya dan aku pun gak berusaha mencari meskipun di hari kedua, bulan terakhir, tiap tahun aku tahu dia merayakan ulangtahunnya.

 

sampai akhirnya seminggu yang lalu aku pulang dan berkumpul dengan beberapa teman SMP. baru saat itulah aku mendengar kabarnya.

 

kabar yang sebenarnya gak akan aku percayai jika itu datang dari mulut orang lain.

 

cerita yang akan aku tentang habis-habisan seandainya aku punya bukti.

 

dalam hati, jauh di lubuk ini, entah mengapa aku merasa sangat, sangat, sangat bersalah.

 

aku merasa, Tuhan sudah melihat dia akan menjadi seperti ini dan memberiku kesempatan untuk sedikit mengubah dia di masa SMP itu. namun bukannya memberi – paling tidak – masa SMP yang menyenangkan, aku malah menghiasinya dengan lecutan permusuhan.

 

“salahkah kalau aku merasa bersalah?”

“gak salah, tapi buat apa kamu merasa bersalah? ”

“KALAU kami gak ada masalah. KALAU dulu kita semua adem ayem… apa bakal mengubah dia yang sekarang?”

“ternyata kamu peduli sama dia, ya… namun sepertinya gak akan mengubah banyak. toh dia seperti ini karena dia memang seperti itu. lingkungannya gak tepat yang menjadikan dia sekarang ini…”

 

dear old friend.

 

aku harap semua yang aku dengar itu salah. aku harap kamu selalu ada dalam lindungan-Nya. aku harapkan yang terbaik untukmu, dimanapun kamu berada.

 

:’)

 

-aga-

Advertisements