sebenarnya aku gak mau dibilang galau. toh aku gak punya alasan untuk galau. namun, kata yg mungkin saat ini paling tepat dan gampang untuk mendeskripsikan situasiku adalah… Galau.

definitely i need to widen my vocab even in my own language. sigh.

seperti biasa as usual, setiap hari selasa siang mulai jam setengah satu aku nongkrong di lab serbaguna kampus untuk mengawasi jalannya praktikum biokimia. gak disangka, tadi adalah praktikum terakhir.

whew time flies so fast.

belum mengecek jadwal, ternyata jatahku untuk memberi asistensi masih shift ke-2 dan ke-3. which means, di shift ke-1 aku (masih) bebas. uye uye. setelah mengurusi laporan-laporan, ini itu yang bikin pusing, akhirnya aku duduk di sebelah Prizti. teman seangkatan dan sekelas juga.

awalnya cuma ngobrol ngalor ngidul sih, mendadak… Prizti malah curhat – yang gak akan aku muat di sini karena aku gak punya hak buat menyebarluaskannya 😉

eh, ujung-ujungnya malah aku ikutan curhat. ah, kalian pasti tahu curhat tentang apa. atau… tentang siapa.

dimulai dengan pertanyaan dari Prizti – yang kesannya remeh tapi dalam dan memiliki banyak jawaban…

“how do you know that you’re in love?”

“gimana caranya kita tahu bahwa kita sedang jatuh cinta?”

apakah kalau kita jatuh cinta pada seseorang lalu setiap kita bertemu jantung langsung meloncat keluar dan menari hula-hula?

apakah kalau kita jatuh cinta pada seseorang lantas pipi bersemu merah bak udang rebus dan lidah kelu?

apakah kalau kita jatuh cinta pada seseorang kemudian kita gak bisa berhenti memikirkan dirinya?

honestly, how do you know?

menurutku. kita gak bisa tahu dalam sekejap mata.

salah kalau aku bilang bahwa ada hal yang disebut dengan “love at first sight”.

kalau dalam bahasa kedokteran gigi, aku menyebutnya sebagai ‘jatuh cinta seperti terbentuknya karies. keduanya membutuhkan waktu…’

mungkin memang kita merasa bahwa dia adalah jodoh kita saat pertama kali berpandangan. namun “love at first sight” gak akan berhasil kalau gak diikuti dengan “witing tresno jalaran saka kulino”.

percuma bertemu dengan Justin Bieber dan dapat tanda tangannya bahkan foto bareng kalau setelah itu Justin Bieber balik lagi ke USA.

gak ada gunanya melihat cowok ganteng berbaju merah setelah praktikum kalau si cowok ternyata mahasiswa fakultas lain.

bisa apa kita bila lelaki yang menurut kita paling sempurna gak akan bisa berinteraksi dengan kita sehari-hari?

bahkan kalau menilik lebih lanjut, “love at first sight” jadi gak penting kalau bisa “witing tresno jalaran saka kulino”.

unfortunately, this is where love puts its trap.

karena terbiasa bertemu, berinteraksi, kita gak benar-benar tahu apakah kita sedang jatuh cinta. hal berikut yang kita sadari adalah orang itu gak bisa lepas dari pikiran kita karena kita gak tergila-gila padanya.

that’s why, saying ‘i love you’ should be one of the most difficult things to do.

itu sebabnya, mengungkapkan ‘aku mencintaimu’ jadi sangat susah. hal ini menjadikan kata ‘cinta’ (seharusnya) sakral.

kita baru bisa sungguh-sungguh mengakui ‘cinta’ kalau memang kita yakin bahwa kita ‘cinta’.

seperti film Transformers 2. Sam berkali-kali menghindar untuk mengucapkan ‘i love you’. dan ketika pada akhirnya Mikayla yang mengucapkannya, kita yang hanya penonton pun tahu bahwa Mikayla dan Sam saling mencintai.

rumit?

memusingkan?

we will never call this love if it isn’t.

-aga-

Advertisements