sebelumnya, aku berpikir hidup sebagai seorang pendekar itu keren banget. pada bayangan zaman kecil, kalau jadi pendekar, pakai baju yang berlapis-lapis, berkibar-kibar, bawa buntelan yang dipasang di sebuah tongkat, terus naik kuda warna putih. oh, dan punya senjata. biasanya sih pedang di pinggang dan panah di punggung.

 

oke, aku akui waktu kecil kebanyakan nonton Kera Sakti dan sebangsanya.

 

pendekar-perndekar ini memang gak punya banyak uang, sehingga kalau ada di suatu desa biasanya pamer keahlian silat, terus banyak yang nonton, tepuk tangan, dan melemparkan uang. dapet duit deh.

 

wiiih kayaknya menantang banget. ya gak, ya gak?

 

belum lagi kalau ketemu musuh (yang namanya pendekar pasti punya musuh), terus menghunuskan pedang dan ciaaat ciaaat crang cring sat set hiaaaat wushhh. terjatuh, mengusap sedikit darah di ujung bibir, memberi pandangan kejam, lalu berdiri lagi dan ciat ciat lagi. akhirnya menang.

 

hahahahaha bener-bener kebanyakan nonton Kera Sakti :))

 

semakin lama, pemikiran jadi pendekar bergeser jadi backpacker.

 

yah walaupun tampangnya backpacker biasanya lusuh-lusuh dan tas gede di punggungnya itu kayaknya berat banget, aku suka ngeliat mereka jalan entah kemanapun mereka menuju.

 

pengen?

 

hehe yaaa pengen nyoba, tapi gak terlalu kepengen sih. secara kemampuanku untuk menalar arah payah dan kemungkinan besar gak akan direstui oleh kedua orangtua, mungkin disimpan dalam kotak pandora aja 😉

 

namun, hari ini aku merasakan bahwa hidup di jalan, dengan kondisi lapar, itu…

 

menyiksa.

 

saya merana kawan-kawan.

 

oke, itu udah sedikit lebay.

 

jadi, gimana ceritanya bisa luntang lantung?

 

semuanya bermula ketika…

 

aku pulang dari kampus, dan mendapati kedua mobil orangtuaku raib. pintu terkunci. dan ketika kuraba saku tas selempang hitamku gak berbunyi krincing-krincing.

 

gawat. aku gak bawa kunci rumah.

 

TIDAAAAAK!!!

 

sempat aku menghubungi mbak inggit yang beberapa waktu yang lalu mengajakku untuk makan bareng. siapa tau doi sedang kosong. jadi sambil menunggu salah satu dari papa atau mama pulang, aku bisa sekalian mengisi perut yang lapar.

 

kok bisa sampai kelaparan?

 

salahkan diri sendiri yang sarapan sedikit lantaran tengah berjuang mengembalikan berat badan menjadi 46 kg. ugh.

 

ternyata mbak inggit gak bisa. ah, yasudahlah, ke toko buku aja. itung-itung sambil cari novel Sherlock Holmes yang The Hound of the Baskervilles.

 

sesampainya di sana, dengan perut makin melilit, ternyata novel yang aku cari gak ada 😥

 

sambil iseng-iseng menyusuri deretan komik, aku menelepn mama. beliau ternyata ada di beringharjo, sedang cari seprai untuk kado. dan beliau baru saja sampai di beringharjo.

 

aaaaaaah. aku pulang terlambat sedikit kalau begitu.

 

kalau seperti ini ceritanya, rasa-rasanya aku bakalan jatuh pingsan kalau gak segera makan. masalahnya, dengan kondisi seorang diri, mau makan di sembarang tempat jadi agak agak… ehem gimana ya. gak enak.

 

putar akal putar akal putar akal.

 

kebetulan toko buku ini gedungnya bergabung dengan sebuah hypermarket dan di depan selalu ada gerobak-gerobak penjual makanan. oke, bungkus makanan, pergi ke warnet dekat rumah, dan tunggu mama pulang di sana. apalagi kalau di kabin warnet kan gak ada yang ngintip tuh, jadi lumayan nyaman makannya.

 

i am so genius. hahahaha

 

dan di sinilah saya, untuk satu jam ini. browsing gak jelas, sambil menghabiskan makanan, dan meratapi kesialan.

 

yeah, i’m just destined to be a normal typical ordinary girl 😀

 

-aga-

Advertisements