siapa yang bilang bahwa GRAMMAR bahasa inggris membosankan dan njlimet setengah mampus?

ayo, ngaku aja, karena aku yakin ada banyak banget yang mengatakan hal ini.

yeah, aku pun mengakui bahwa Grammar membosankan dan susah dimengerti. kalau kita gak tahu bagaimana cara mengatasinya. sekarang aku menganggap Grammar sesuatu yang mengasyikkan. hahaha 😀

hal yang membuat unik dari bahasa Inggris dibandingkan dengan bahasa Indonesia adalah penggunaan waktu.

in English, time does matter.

dalam 16 tenses, keenambelasnya berkutat masalah waktu. misalnya, ada simple present tense dan simple past tense. keduanya hanya dibedakan oleh waktu, tapi prakteknya jadi berbeda sekali. contohnya.

Aku tidur jam 9 malam. –> i sleep at 9 p.m.

Aku kemarin tidur jam 9 malam –> i slept at 9 p.m. yesterday.

kelihatan, kan? belum lagi kalau dibandingkan dengan future tense.

ngomong-ngomong soal waktu, pernah membandingkan kehidupan kita di masa lalu, saat ini, dan masa datang?

yah, gak masa lalu banget, sih. ingat-ingat saja pada saat kita masih SD.

aku ingat dulu aku suka baca majalah Bobo dan pertama kali menemukan kesukaan mengisi TTS alias Teka Teki Silang dan didorong untuk mengirimkannya lewat kartu pos.

belakangan aku mulai membeli majalah Cinemags secara teratur setiap bulan. dan di salah satu edisi aku mengirimkan kuis-kuis yang ada di dalamnya – amazingly langsung menang hahaha.

pada saat itu, aku kebingungan. bingung apa?

bingung mendapatkan kartu pos.

bayangkan, aku ke kantor pos, dan di kantor pos sendiri kehabisan kartu pos. di kios depan kantor pos pun gak ada kartu pos barang sebiji.

WHAT THE HELL? post office doesn’t equip it with post card?

separah ini kah kemunduran dunia pos sampai-sampai mereka harus menghentikan produksi kartu pos?

saat SMP kelas 3, aku tiba pada saat getol-getolnya ke perpustakaan, hanya menghabiskan waktu untuk membuka-buka ensiklopedi, mencari informasi tentang Finlandia dan berkhayal tentang suatu saat aku akan  mengunjungi negara dengan jumlah danau terbanyak itu.

di SMA, aku memenuhi kartu perpustakaanku dengan judul novel Agatha Christie dan Alfred Hitchcock, dan terburu-buru menghabiskan novel-novel tersebut karena hanya diberikan waktu 2 hari untuk setiap novel.

entah mengapa, waktu kuliahan, aku jadi sangat malas menginjakkan kaki di perpustakaan. jangankan perpustakaan kampus, perpustakaan fakultas saja hanya asal lewat.

well, not to mention angry grandmother who usually sits and babbling things to us.

aku lebih mengandalkan internet daripada menelengkan kepala membaca judul buku-buku yang ada di rak perpustakaan.

kalau ditanya apa gak kangen duduk dan membaca-baca buku tebal, oke, aku kangen. tapi sepertinya sepanjang kuliah aku sudah cukup pusing dengan materi kuliah sehingga mengurangi minat untuk iseng-iseng membaca buku di perpustakaan.

dari dua hal yang aku ceritakan di atas, aku gak bisa membayangkan apa jadinya di masa depan nanti.

apakah kantor pos pada akhirnya bakal mangkrak dan bangunannya digantikan ruko yang memberikan servis blackberry?

apakah perpustakaan kehilangan khasiatnya sehingga digantikan oleh sekumpulan kursi dan meja dengan murid-murid atau mahasiswa yang memelototi laptop atau bahkan tablet karena hanya tersedia fasilitas wi-fi?

damn, even it’s just as thought, it already sounds terrible.

seharusnya hal-hal seperti ini gak berubah. berkembang, ya, tapi gak musnah di makan waktu.

seperti Grammar, memang waktu mempengaruhi, tapi toh struktur dan maknanya tak berubah.

seperti contoh ‘aku tidur jam 9 malam’ itu. aku masih tetap tidur jam 9 malam.

kantor pos akan berkembang menjadi electronic mail (e-mail), tapi apakah kita akan bisa mengirimkan paket lewat e-mail? enggak, kita masih butuh kantor pos.

dan, ayolah, berapa orang sih yang suka baca e-book? gak bisa diwarnai dengan stabilo, selain itu lama kelamaan mata juga jadi pedes.

kebiasaan membaca, terutama di Indonesia, sangat rendah, dibandingkan dengan negara lainnya. kalau dengan tingkat yang rendah saja kebiasaan membaca ini rendah, apa jadinya kalau tiba-tiba perpustakaan hilang dari peredaran? padahal gak semua orang mampu beli laptop. apalagi tablet. masyarakat Indonesia makin gak berpendidikan.

jadi apa kesimpulannya?

past, present, and future are always related to each other. they might change, but the main thing remains still.

-aga-

Advertisements