lagi-lagi aku bikin posting tengah malam. bedanya kali ini aku memang masih terjaga, bukannya terbangun karena sebuah missed call seperti malam sebelumnya.

malam ini ada LEG 1 piala AFF, yang kebetulan merupakan konfrontasi antara Indonesia vs Malaysia. sesuatu yang sangat… mengerikan.

hahaha kenapa aku bilang mengerikan?

 

well, two neighbors, side by side, recently confusing about who’s grass whose, now face to face and fighting over A BALL.

 

yah mau gimana lagi. dari sisi masyarakat Indonesia, kita memang jengkel Malaysia sudah mengklaim banyak hal, mulai pulau sampai kebudayaan. dan saat ada kesempatan untuk ber’duel’, gak ada kata lain yang bisa diucapkan selain MENANG.

 

then, why so hard pushing 11 men to win?

 

karena kita yang gak bisa mewakili sementara kita sangat cinta pada negeri ini sehingga ingin membuktikan bahwa kita hebat. paling gak hebat dalam sepakbola. asia. tenggara.

 

jujur, aku tadi gak nonton pertandingannya. kalau boleh jujur lagi, aku gak minat, sih. apapun yang media katakan tentang Bachdim yang ganteng, atau siapalah, semuanya gak begitu menarik perhatianku.

 

loh, berarti aku gak cinta Indonesia?

 

ehm, kalau boleh membela diri, rasa cinta gak harus ditampakkan dengan kita nonton sepak bola, teriak-teriak, lalu mengumpat ketika suporter lawan melambai-lambaikan sinar laser sementara jelas-jelas ada sesuatu yang harus dikerjakan, ‘kan?

 

ayolah, aku akan menghadapi rentetan ujian 3 minggu non-stop dan aku mengesampingkan sepak bola, ini cuma masalah prioritas. toh, aku masih bisa meng-update berita lewat twitter.

 

dan dari semua tweet yang terakumulasi, aku menyimpulkan bahwa Indonesia kalah karena diperlakukan gak adil sama suporter Malaysia.

 

put it on pause. can we just evaluate a failure from inside instead of from outside?

 

jangan-jangan, kegagalan ada pada timnas Indonesia. bukan karena sinar laser suporter Malaysia.

 

just a loser that throws a failure to other.

 

memang lebih mudah menyalahkan orang lain. tapi kalau kita gak menyadari dan mengakui kesalahan diri sendiri, kita gak akan jadi lebih baik. kita gak akan bisa mengevaluasi diri sendiri.

 

kemampuan kita hanya ada di batas yang sama, pada setiap pertandingan. mengapa? karena kalaupun ada kesalahan yang terjadi selalu kita timpakan pada orang lain.

 

yah, aku sadar hal ini susah untuk dilakukan.

 

but that’s what hero does.

 

jika saat ini para pahlawan kita belum bisa menang, mungkin mereka akan belajar dari kesalahan, dan menggunakannya untuk membalikkan hasil di LEG 2.

 

dan sebagai masyarakat Indonesia yang cinta akan negara kita, kita gak boleh hanya menyanjung saat timnas menang. hadapi pula saat timnas kalah. dan hadapi kekalahan itu dengan legawa, santai, dan tetap mempertahankan harga diri kita.

 

kalau kalah, ya sudah, memang kalah. gak usah diperpanjang dengan umpatan-umpatan kasar yang bisa memicu pertengkaran, baik luar maupun dalam. gak usah pakai menyinggung unsur SARA juga.

 

silence is gold.

 

ingat quote itu? diam itu emas.

 

after all, heroes always win on every battle 🙂

 

-aga-

Advertisements