another history just written tonight

 

balap mobil paling bergengsi di dunia, Formula 1 alias F1 mendapatkan juara dunia baru untuk musim 2010 ini.

 

SEBASTIAN VETTEL, THE YOUNGEST F1 WORLD CHAMPION

 

yea yea yea, selamat untuk Vettel.

 

he is young

 

he is talented

 

he is cute

 

he is a champion

 

tunggu, apa kalian gak merasa bersalah?

 

honestly, i did feel guilty. for what?

 

untuk tidak menyaksikan Mark Webber di atas podium.

 

untuk tidak memberikan tepuk tangan bagi Mark Webber sebagai juara dunia.

 

for feeling the lost after a struggle for 9 years.

 

mungkin kalian akan bertanya-tanya, mengapa aku bisa segitu menyayangkan Webber gagal meraih gelar juara dunia.

 

akan kuceritakan satu per satu.

 

Mark Webber for RBR

MARK ALAN WEBBER

 

Lahir pada 27 Agustus 1976, memulai debut di F1 pada tahun 2002 di tim Minardi.

 

singkatnya, selama 9 tahun ini dia baru memperoleh Pole Position (start balapan dari nomer 1) sebanyak 6 kali saja.

 

dan naik podium 20 kali.

 

bandingkan dengan Kimi Raikkonen yang masa karirnya di F1 dari tahun 2001-2009 yang notabene juga 9 tahun.

 

Kimi meraih pole sebanyak 16 kali, dan naik podium sebanyak 18 kali. kalau perlu ditambahkan, pada tahun 2007, Kimi adalah seorang Juara Dunia F1.

 

Mark Webber, sekian lama berlaga di F1, baru dua tahun belakangan ini saja namanya melambung tinggi. sebelum-sebelumnya?

 

tahu Mark Webber berkenegaraan Australia saja sudah bagus.

 

tahun 2010 ini, karir Webber ada di puncaknya. Ya, dengan umur 34 tahun yang sudah gak bisa dibilang muda, namanya melejit.

 

meskipun gak melalui 19 race dengan sukses, Webber merebut hati banyak orang.

 

setelah berjuang mati-matian agar gak dibuang dari F1 selama 9 tahun, ini saatnya dia meraih gelar impian. rasanya, sudah hampir gak mungkin disangkal kalau musim 2010 ini adalah momen yang pas bagi Webber untuk ada di puncak karir.

 

namun, apa mau dikata, jalan untuk menuju sebuah kesuksesan bukan tanpa hambatan.

 

kali inilah sebuah kedewasaan seseorang diuji. kedewasaan seorang Mark Webber.

 

ironisnya, hambatan itu paling besar justru datang dari dalam timnya sendiri. ya si Vettel itu.

 

main logika aja deh ya. Vettel itu muda, berenergi, dan dia rendah hati. karir di F1 masih panjang dan diprediksi akan cerah. siapa yang gak tertarik?

 

namun Webber terima dia hanya dijadikan pembalap kedua, bukan pembalap pertama. dia tetap balapan dengan sepenuh hati.

 

Webber gak urakan saat Vettel menabraknya di suatu race (sori aku lupa dan males gugling).

 

terlebih lagi, di saat poin Webber lebih unggul dari Vettel, Red Bull Racing tetap gak menerapkan Team Order seperti halnya Ferrari. hal ini malah membuat Vettel sembarangan dalam balapan. berkali-kali Webber dibahayakan keberadaannya di lintasan.

 

akhirnya, tiba balapan terakhir.

 

Abu Dabhi.

 

kondisi sebelum balapan.

 

1. Alonso 246

2. Webber 238

3. Vettel 231

 

seharusnya, Vettel tahu diri. dia seharusnya sebisa mungkin membantu Webber jadi juara dunia.

 

yeah, the perfect scenario would be like that. but fate said the opposite.

 

Webber melakukan babak Kualifikasi dengan buruk. dia cuma bisa start dari urutan ke-5, sementara Vettel meraih Pole Position.

 

di tengah-tengah balapan, Vettel masih berapa di puncak klasemen, sementara Webber terpuruk di nomor 11.

 

dan muncul isu.

 

“tampaknya, kali ini Webber yang membantu Vettel untuk menahan laju Alonso dan menjadikan Vettel juara dunia”.

 

miris

 

ironic

 

bayangkan.

 

penantian serta perjuangan untuk jadi yang terbaik, direbut oleh teman satu tim mu yang jauuuuh lebih junior dan pernah dengan sembrono menabrakmu.

 

hal yang kamu impikan sudah ada di depan mata, tinggal kamu raih, tapi ternyata takdir berkata lain.

 

isn’t that hurt?

 

don’t you think it’s not fair?

 

tapi dari sinilah kita mendapat pelajaran tentang kedewasaan.

 

dari kejadian seperti inilah tingkat maturitas kita diuji.

 

seandainya kita yang ada di posisi Webber, bisakah kita menghadapinya dengan sabar?

 

bisakah kita melanjutkan hidup tanpa ada rasa dendam?

 

atau kita malah ngambek dan memberikan berita bohong pada media tentang rival kita karena ia sudah menggagalkan cita-cita kita?

 

Webber is such a role model for being mature.

 

what for we’re living in this world for a long time if we still act, think and behave like a child?

 

well, sebagai seorang penonton F1, aku cuma bisa berharap satu hal.

 

next year…

 

it’s your time, Webber.

 

-aga-

Advertisements