wow, judulnya panjang ya 😀 haha

itu sebenarnya adalah sebaris dari lagu Ashley Tisdale yang judulnya ‘What If’.

oke, kali ini aku gak akan ber-menye-menye masalah cinta atau kegalauan dan kelabilan seorang aga. posting kali ini tentang persahabatan.

 

how do you get into a bond with some girls or boys?

 

hm… kalau dipikir-pikir, bagaimana bisa kita sekarang bisa mengatakan, si A, B, C, D itu sahabat-sahabatku, lho, di kuliahan ini.

 

beberapa terjaid karena… yah, memang terjadi.

karena kesamaan sifat mungkin.

 

bisa jadi kesamaan hal yang disukai.

 

atau malah perbedaan yang akhirnya menyatukan beberapa orang menjadi sebuah kempok atau grup yang solid.

 

oke, itu abstrak banget. langsung ke contoh nyata yang gak jauh-jauh. diriku sendiri.

 

truthfully, i don’t really remember it.

 

aku dan kelima orang teman lainnya saat ini menjadi sangat dekat, bahkan kami menamai diri sebagai Happy Kids. awalnya, mereka berlima sudah akrab terlebih dahulu karena mereka berada pada satu kelompok ospek kampus yang sama. sementara aku dekat dengan Reina, karena NIM kami berurutan sehingga dosen pembimbing kami sama, dan kami sama-sama menyukai serial Narnia.

 

oh, ya, kami penggemar berat Skandar Keynes 😀

 

tunggu. jadi, aku sebenarnya adalah seorang intruder? penyusup dalam sebuah grup dan akhirnya malah jadi bagiannya?

 

yep. aku gak keberatan disimpilkan seperti itu.

 

hey, gak masalah dengan apa masa lalumu. yang terpenting adalah bagaimana kamu menyikapi masa lalumu untuk kebaikan masa depanmu!

 

buat apa berlarut-larut menyesali yang sudah lewat?

 

satu-satunya cara saat seluruh jalan di belakang kita hancur adalah dengan berjalan ke depan dan membuat alur yang baru.

 

dengan kata lain, kami berenam menjadi sangat akrab hanya karena waktu dan adaptasi.

 

bagaimana dengan contoh yang lain?

 

berkebalikan dengan bagaimana aku dan kawan-kawanku bersatu, ada pula orang yang berusaha mati-matian untuk diterima di salah satu kubu.

 

gak usah ditanya lagi, sepertinya sudah cukup jelas kubu apa yang aku maksud.

 

tentu saja kubu anak populer.

 

oh, ya, siapa sih yang gak mau ngetop? kalau ngetop, dikenal orang banyak. terus bisa gonta-ganti pacar. hang out di cafe berkelas. belanja asesoris untuk baju kuliah. orang terakhir yang meninggalkan kampus.

 

you’re right, sell your soul to receive such things as a popular kid.

 

aku mengamati. ada seseorang yang rela mengubah cara ia berbicara, gaya hidupnya, dan sifatnya, hanya untuk dianggap anak populer.

 

ia sengaja menyetir mobil ke kampus. padahal dulunya ia nyaman dengan kendaraan roda dua (baca= motor).

 

ia kini ber loe-gue karena dianggapnya loe-gue akan memudahkannya untuk beradaptasi. menurutku, itu tergantung ia beradaptasi dengan apa.

 

beradaptasi dengan lingkungan. atau beradaptasi dengan golongan orang yang ingin ia masuki.

 

oh, such a hypocrite.

 

dan lebih parahnya lagi, ia menjadi memandang teman-teman lainnya, yang tidak masuk jajaran anak top, sebelah mata. padahal, sikapnya di SMP atau SMA dahulu gak kayak gitu.

 

sungguh, aku merasa kasihan pada orang seperti itu.

 

dia gak pernah bisa menjadi dirinya sendiri. selalu ada ketakutan, “bagaimana kalau aku gak seperti yang mereka harapkan? apakah aku akan jadi mahasiswa yang terkucil?”

 

karenanya, ia berusaha sekuat tenaga untuk memenuhi keinginan kelompok itu. persahabatan seperti ini agak tidak murni karena bukannya memahami sifat mereka, kita malah meminta mereka untuk memahami sifatmu. (dan tentu aja makanan enak-enak)

 

aduh aku ketiduran loh waktu bikin posting ini. hehehe

 

emang udah malem juga sih waktu aku mengetik post ini.

 

oke, pamit deh ya.. ciao!

 

i am what i am, what can i say?

 

-aga-

Advertisements