orang bilang…

hidup ini bagaikan roda. terkadang kita terletak di atas, terkadang merasakan di bawah pula. semuanya berputar.

namun, pernahkah kalian berpikir bahwa kalian gak mau disamakan dengan roda?

bagaimana jika kalian, jika aku, gak mau di atas. aku gak mauu di bawah.

wait. don’t want to be up and don’t want to be down? then?

i want to be middle

oke, terlepas dari penggunaan grammar bahasa inggris yang kacau, aku hanya ingin mengatakan,

gak ada salahnya berada di tengah-tengah.

nobody wants to be in ‘down’.

siapa orang yang mendambakan segala sesuatunya kekurangan? inni pertanyaan retoris, tentu. kita hidup bukan untuk mencari kesengsaraan.

everybody wants to be in ‘up’. <but me>

banyak orang rela memakan harta orang lain, melakukan korupsi dan penipuan, menghancurkan orang yang sekiranya bisa menghalangi masa depan mereka yang cerah…

kurang lebih itu fenomena yang sedang terjadi di tengah-tengah kita saat ini. mereka berusaha menghentikan putaran roda kehidupan mereka agar tidak terlempar dari puncak tertinggi ke jurang terdalam.

berada di atas sama menakutkannya dengan berada di bawah.

sempat ayahku berkata, “pemain sepak bola dunia itu berat. dengan harta yang begitu berlimpah, mereka tidak perlu menghampiri ketenaran, wanita, dan kawan. ketiganya lah yang mencarinya. padahal baik ketenaran, wanita, maupun kawan, semuanya bisa berbalik 180 derajat menghancurkannya. pedang bermata dua.”

hei, siapa yang mau berada dalam posisi itu?

berada di atas dan di bawah sangat tidak menentu.

karenanya lah, aku ingin gak ingin terpaku pada konsep roda itu. aku menjalani kehidupan, berpatok pada garis  tengah jalan raya.

mungkin terkadang aku sedikit miring ke kiri. di lain waktu ke kanan. tapi aku tetap pada jalurku.

mungkin ada kalanya aku sedikit menonjol. kesempatan lainnya aku agak terpojok akibat kecerobohanku. tapi aku masih berjalan di tengah-tengah.

the best way to survive is keeping everything in balance.

karenanya, aku gak akan menyebut apa yang tengah kuhadapi ini sebagai RODA kehidupan, melainkan JALAN kehidupan.

sesekali aku berbelok kala menemui pertigaan. mungkin akan memutar balik beberapa kali. tapi semua itu menjagaku tetap di jalur dan semua rambu-rambu serta sinyal mengingatkanku untuk berhati-hati. terlebih, marka JALAN bisa membimbingku tetap di tengah.

i’m living life on the road.

-aga-

Advertisements