dulu aku ngeeebeeeet banget punya yang namanya walkman.

iya, benda kotak ukuran kira-kira 15 cm x 10 cm x 3 cm yang bisa buat muter kaset dan dengerin radio dan bisa didengarkan lewat earphone alias headset. oh men, aku merengek-rengek pingin benda  itu.

lambat laun.. muncul mp3 atau mp4 yang bisa buat dengerin lagu dan liat video dan masih bisa untuk nge-radio pula. bagaimana kabar walkman? xixixi oke, tersingkir.

tapi intinya bukan di bagaimana perkembangan music player portabel yang bisa ditenteng ke mana-mana.

apa yang ingin aku bicarakan di sini adalah kesamaan di ketiga benda itu. apakah itu?

ketiganya didengarkan melalui sepasang earphone.

benda kecil yang disumpel di telinga itu kadang-kadang bikin orang di sekitar kita jengkel. dipikirnya kita dengerin apa yang dia ceritain ternyata setelah disentil, kita malah dengan santainya membuka earphone dan tanya dengan tampang melongo, “hoh? ada apa?”

belum lagi kalau keseringan dengerin lewat earphone telinga jadi berdenging dan pegel.

hm.. oke lah, dari sisi itu dengan adanya earphone jadi masuk ke daftar negatif. mari kita netralkan dengan sisi positifnya.

hei, kita bisa dengerin musik-musik pengiring dan instrumen tambahan yang gak kedengeran lewat telinga telanjang.

oh jadi sekarang telinga perlu dipakaikan baju juga -__-” hahaha

bahkan jika diresapi, justru musik pengiring itu yang bikin hati seeerrr… terhanyut dan menimbulkan sensasi berbeda. hanya dengan sedikit gesekan biola yang khas, kita bisa ikut berapi-api. cuma dengan variasi petikan gitar, kadang-kadang jadi penasaran, sebenarnya bagaimana si pemain memainkannya? ada berapa gitar yang ia gunakan?

belum lagi kalau yang didengarkan adalah boyband atau girlband yang jenis suaranya berbeda-beda. lama-kelamaan dengan sekali denger kita bisa nebak, oh bagian ini yang nyanyi ini. wah suaranya ini seksi ya.  oh, aku gak bisa mencapai range si artis ini, berarti kalau karaoke harus nyanyi satu nada lebih rendah.

hey, ternyata banyak banget yang bisa dipelajari secara otodidak tanpa harus mendengarkan apa kata orang lain di luar earphone itu.

sama seperti mempercayai suara hati kita.

terkadang seperti ada yang berbisik, “belok kanan, belok kanan, jangan belok kiri!”

padahal secara rasional kalau aku belok kanan, malah lebih jauh dan makan waktu lebih lama. tapi ternyata…

waktu belok kanan ketemu sama kakak tingkat ganteng dan papasan dan bisa tuker-tukeran senyum segala.

aaaaawwwww what a lucky day!!

atau, sewaktu menghadapi VCD obralan yang bertumpuk acakadut, tepat saat aku sudah putus asa untuk meneliti satu per satu, ada dorongan untuk merogoh salah satu celah dan terambillah Sweeney Todd, tepat seperti yang aku inginkan.

hey, suara hati itu dahsyat sekali ya. dan cara mempertajam suara hati itu hampir sama dengan mempertajam pendengaran kita.

sesekali kita perlu menjadi keras kepala dan mempercayai dorongan pertama yang timbul dari diri kita. sama seperti mengacuhkan orang sekitar untuk menghayati lagu yang kita dengarkan.

sharpening your heart is like sharpening your ears through earphones.

-aga-

Advertisements