akhirnya… semester ini aku dipaksa untuk menjalani remed satu mata kuliah. biomaterial. dapet nilai apa? dapet C.

hm… sebenernya kalau dijumlah dengan nilai-nilai yang lain sih, IP ku masih 3 koma sekian, lah. terhitungnya – menurutku – udah lumayan banget, apalagi dengan usaha belajarku yang pas-pas-an. kalaupun seandainya gak ada fasilitas remed, aku juga gak akan kecewa berat. nah, berhubung disediakan, yaa kenapa enggak? lumayan kan kalau bisa diangkat jadi B. yah, agak tekor dikit lah, bayar 30ribu. tapi dibandingkan harus Semester Pendek seperti temen-temen di universitas lainnya, wauw, di tempatku itu sudah baik hati sekali 🙂

hm… ngomongin soal nilai dan kuliah, aku jadi ingat status FB yang pernah dibuat kakak tingkatku yang berbunyi “Nilai adalah cerminan usaha, bukan target belaka.”

*angguk angguk kepala*

well, mungkin bisa dijadikan target juga, biar kita lebih terpacu. tapi terlepas dari itu, bukannya gak salah kan, kalau nilai itu adalah cerminan usaha? kalau memang kita sudah berusaha keras, wajar kita berharap dapat A. kalau cuma setengah-setengah, yaa dapat B udah bersyukur.

anyway, menurut kalian, nilai 75 itu bagus gak?

oke, sebagian bilang bagus. sebagian bilang lumayan. dan mungkin ada juga yang bilang 75 itu kurang memuaskan.

memang, untuk bertanya hal seperti nilai ini kita perlu memandangnya bersama-sama dengan variabel yang lain seperti tingkat kesulitan mata kuliah dan lainnya. namun secara keseluruhan, 75 itu adalah nilai aman yang memberi kita sebuah huruf B di Kartu Hasil Studi.

mungkin, untuk yang terlahir sebagai murid yang yaaah bisa dikatakan gak terlalu pintar, nilai 75 itu uda sujud sukur.

TAPI, bagi yang super duper jenius, 75 adalah sebuah… kekecewaan.

dan aku sering melihat hal yang kedua.

bagaimana bisa terjadi?

jadi begini. sewaktu SD, selama 6 tahun studi itu, aku – alhamdulillah – selalu masuk di kelas unggulan. saat SMP kelas 1, aku pun masuk kelas pilihan. yah… harus jujur, selama itu aku termasuk golongan ’75 adalah kekecewaan’.

namun gak disangka, perpindahan dari SD ke SMP mungkin suatu tantangan tersendiri sehingga nilaiku agak jeblok dan gak mampu memasukkanku ke kelas pilihan lagi di kelas 2 SMP. aku masih ingat, teman-temanku kelas 1C rata-rata pindah ke kelas 2H – kelas unggulannya. sementara aku sendiri masuk ke 2E.

kaget? ohya pasti.

depresi? haha, gak usah ditanya.

eits, namun hal ini gak berlangsung lama! di kelas 2E ini aku menemukan banyak hal baru. seperti…

sahabat.

best friends who last forever

beneran lho, sampai sekarang kita masih kontak-kontakan. padahal aku di jogja, ada yang di jakarta, ada juga yang masih menetap di malang.

selain itu, aku juga belajar untuk bersenang-senang.

siapa sangka kalau bersenang-senang perlu belajar juga?

maksudku, secara gamblang, main ke dufan, timezone, jalan-jalan ke bonbin, itu jelas bersenang-senang. tapi siapa sangka hanya dengan bertahan di sekolah, pulang agak-agak telat dan cerita-cerita sama teman-teman juga menyenangkan?

dulu selama aku di kelas unggulan, yang aku tahu cuma sekolah-pulang-belajar. yah kalau jaman kuliah disebut mahasiswa Kupu-kupu lah *kuliah-pulang-kuliah-pulang*

there are actually many ways to have fun with limit budget as long as you know how

dan secara mengejutkan di kelas 2E ini aku bisa masuk ranking 3 kelas dan membawaku kembali ke kelas unggulan di 3C.

setelah ranking di kelas 2E, di kelas 3C aku pun jadi biasa-biasa aja. yaaa masih banyak yang jauuuh lebih pinter daripada aku. dan rajin.

hehe, aku mengakui kalau aku sedikit malas 😀

di SMA kelas 1, kelasnya acak. barulah waktu kelas 2 dan 3, dikelompokkan lagi. daaaan ya bagitulah aku masuk di kelas pilihan juga 😉 hehe

tapi kedudukanku sama seperti saat aku di kelas 3C. aku bisa bertahan, tapi gak begitu menonjol.

sehingga kalau boleh aku bilang…

i’m good at average, but i’m average at good.

bukannya apa-apa dengan mencetuskan sebaris kalimat itu.

aku malah senang. dan bahagia dengan kedudukanku yang seperti itu.

dengan begitu, aku jadi tahu bagaimana memperjuangkan apa yang benar-benar aku inginkan.

contohnya, aku gak begitu menonjol di pelajaran matematika. maka aku mencoba untuk lebih bagus di bahasa inggris. aku gak akan berusaha yang berlebihan untuk dikenal oleh semua guru, aku cuma ingin dikenal sebagai salah seorang murid yang suka bahasa inggris dan gak buruk-buruk amat. pelajaran yang lain? terserah. pokoknya nilaiku udah bagus, ya udah, alhamdulillah.

aku gak bisa memforsir otakku untuk hebat di segala bidang, kan?

selain itu, aku jadi belajar untuk bersyukur.

sudah aku bilang di atas, aku mencoba untuk menonjol di bahasa inggris. kenapa? karena memang yang paling aku kuasai ya bahasa inggris. maka, setiap kali ada ulangan matematika, biologi, kimia, pokoknya yang lainnya lah, saat mengetahui aku dapat 80, wowowowowowo sudah seneng banget.

sementara ada pula teman-temanku sekelas yang malah menutup-nutupi nilai itu karena satu alasan: MALU. nilainya jelek.

astaga.

for God sake, 80 isn’t that bad, is it?

dan waktu aku cuma dapet 60, oke, aku sedih. tapi buat apa disesali berlama-lama? mendingan dibuat belajar bab berikutnya biar bisa ngangkat nilai yang jelek itu. ya kan ya kan?

nah, aku jadi mikir deh, apa jadinya kalau teman-temanku yang terbiasa di atas itu yang dapat 60. nangis kali ya. wkwkwkwk who knows lah.

intinya, aku benar-benar bersyukur sempat merasakan jadi hebat saat ada di kelas yang biasa-biasa aja dan diciptakan untuk biasa-biasa aja di kelas yang hebat.

there are no wrong being average at good 🙂

at least…

hey, i still survive here 🙂

-aga-

Advertisements