well, posting ini bisa dikatakan adalah sambungan dari posting sebelumnya. yang ternyata sudah aku hapus…

aku tahu, kalian pasti bingung, kalian pasti bertanya-tanya, buat apa aku memasang posting yang begitu abstrak dan tanpa makna seperti itu?

jawabnya adalah karena rasa-rasanya aku harus menghadapi perpisahan yang cukup besar.

dengan rumah Malang.

dengan pianoku.

dengan teman-teman.

dengan kota Malang.

*********************************************************************

tanggal 12 mei 2010, pengumuman seleksi awal dari SMA Taruna Nusantara keluar. adikku, tommy, yang ngebet pengen masuk sana alhamdulillah lolos. sedikit lega dan sangat bahagia buat dia. aku tahu tahun lalu adalah cobaan berat buatnya dengan menjalani dua kali operasi patah tulang. yah, tanpa dia harus mengalami kecelakaan olahraga itu pun aku selalu senang dengan prestasi yang adikku buat.

apa artinya?

artinya, sebentar lagi tommy lulus SMP. dan akan masuk SMA.

bisa jadi, dia masuk ke Taruna Nusantara kalau di tes psikologi dia lolos juga (amin, amin… doakan ya…)

kemungkinan terburuknya, kalau dia gak ketrima?

tommy bakal daftar SMAN 3.

malang?

bukan. Yogyakarta.

*********************************************************************

yep, kami sekeluarga akan resmi pindah ke Jogja.

dan dengan berbagai pertimbangan, rumah di Malang akan dijual. bahkan saat ini kedua orangtuaku sedang dalam proses transaksi.

hal menyedihkan nomer satu:

pianoku gak akan dibawa ke jogja.

kenapa menyedihkan? karena kami sudah berjuang bersama-sama sejak aku kelas 3 SD. sejak ilmu bermain pianoku masih nol besar. sejak aku masih belum ada apa-apanya.

berkat piano yang bahkan belum aku beri nama itu, aku berhasil meraih beberapa piala kompetisi. paling tinggi juara 2, sayangnya aku lupa lomba di mana, tapi aku yakin pialanya masih ada.

piano itu tahu aku dulu pernah ngambek latihan karena tengah melewati titik terendah belajar. tapi aku yakin aku gak pernah benar-benar benci dia. malah aku sangat cinta piano itu. aku sangat-sangat-sangatt cinta piano itu.

dan sekarang kita harus berpisah.

hal menyedihkan nomer dua:

kalau gak ada rumah, berarti seandainya aku ke Malang, aku gak punya tempat untuk tidur. dengan fakta aku gak punya tempat untuk tidur, jadi aku gak akan sering-sering ke Malang. bahkan mungkin akan sangat jarang ke Malang.

jadi… aku harus rela berpisah dengan sahabat-sahabatku yang kebanyakan melanjutkan studi di Malang dan melewatkan banyak kumpul-kumpul dengan mereka saat libur semester karena aku gak lagi punya rumah di Malang.

ya, aku harus berpisah dengan kamarku yang ada di lantai dua. aku harus meninggalkan ruang tengah yang biasa aku buat niruin dance nya HSM, aku gak bisa lagi kasih makan ikan nila di kolam belakang, aku gak bisa lagi masak di dapur itu…

damn, it’s just sad, man.

hal menyedihkan nomer 3:

kemungkinan besar aku gak akan bisa mengatakan ‘selamat tinggal’ atau ‘dadah’ atau bahkan mengucurkan air mata langsung di depan kamarku, di halaman rumah, dan dalam rangkulan teman-teman.

hei, aku akan ada kuliah tanpa libur sampai bulan juni berakhir. sementara sebentar lagi si pemilik rumah yang baru sedang bersiap-siap menandatangani berbagai akte dan surat.

mana yang lebih menyedihkan?

mengalami a real goodbye atau hanya mengucapkan goodbye tanpa benar-benar melambaikan tangan pada objek yang bersangkutan?

aku belum sempat menunjukkan betapa cintanya aku pada pianoku.

aku belum bernarsis ria di dalam rumah.

aku belum cukup bermanja ria di dalam kamarku.

dan aku tidak akan pernah merasa cukup bertatap muka dengan teman-teman yang kini harus aku tinggalkan.

aku belum memberi tahu Oris, Siska dan Desty “mak’e” betapa beruntungnya aku memiliki mereka sebagai sahabatku sepanjang SMA.

aku belum sempat mengucapkan kata maaf yang sangat tulus pada nindita.

aku tidak sempat menuturkan pada terra kalau dia nggak bener-bener pendek.

aku pun tak sanggup memberitahu siapa iceman sebenarnya. padahal dulu ada dua tahun penuh kami sekelas.

sekarang kenyataan terhampar dan aku harus berdamai dengannya.

ada begitu banyak nama yang ingin aku sebut, tapi kedua mataku mengeluarkan air lebih cepat daripada kesepuluh jariku untuk mengetiknya.

tapi yakinlah, kalian semua ada pada tiap memori. tiap wajah kalian ada pada lembaran-lembaran foto yang kulekatkan di balik pintu kamarku di Jogja.

percayalah, aku sungguh berterima kasih atas semua yang telah kalian berikan padaku.

dan…

kuharap aku bisa kembali ke Malang dan bertemua dengan kalian semua.

piano.

rumah.

teman-teman.

dan Malang.

hope to see you on the finish line.

-aga-

Advertisements