Akhir-akhir ini kita sering sekali merasa bahwa udara dan hawa sekitar makin panas, gerah, dan tak nyaman. Belum lagi kekesalan karena mendadak turun hujan, padahal seharusnya sudah memasuki musim kemarau. Tentu saja, sebagian besar dari kita sudah mengerti bahwa hal ini disinyalir oleh fenomena alam Global Warming atau pemanasan global. Emisi bahan bakar kendaraan dan pabrik, penebangan hutan secara serampangan, penggunaan air berlebih, semuanya dan ribuan hal lainnya menyebabkan Global Warming. Hm… seharusnya dibuat satu hari di mana kita bisa belajar untuk menyelamatkan bumi ini.

Tunggu, kita memang memiliki hari itu. Berapa banyak di antara kita yang sadar bahwa setiap tanggal 22 April diperingati Earth Day alias Hari Bumi? Atau, sebelum menginjak ke sana lebih jauh lagi, berapa banyakkah yang mengerti bahwa ada yang dinamakan dengan Earth Day dan sesungguhnya pada tahun ini telah memasuki tahun ke-40 nya?

Ya, Earth Day, atau hari Bumi, memang jika ditilik di kalender tidak ditandai secara khusus dengan libur nasional. Namun, sesungguhnya hari yang didedikasikan untuk keselamatan bumi ini diselenggarakan secara semarak di berbagai negara. Dicetuskan pertama kali oleh Senator Amerika Serikat dari Wisconsin, Gaylord Nelson, beliau merasa bahwa masalah seperti ini adalah sebuah permasalahan yang ‘dianggap’ di mata politik di Amerika. Para penduduk cemas, tapi tidak dengan para politikus. Akhirnya, Senator Nelson memiliki sebuah ide untuk memanfaatkan dorongan kecemasan warga untuk membuat sebuah demonstrasi sehingga permasalahan ini kemudian diangkat menjadi agenda politik. Dan, benar saja, akhirnya secara tidak langung terbentuklah sebuah forum raksasa di antara para penduduk Amerika yang mengkhawatirkan keselamatan tanah, sungai, danau, dan udara mereka. Sampai di 40 tahun kemudian, begitu banyak event diselenggarakan untuk memperingati Earth Day ini seperti open house untuk mengajarkan masyarakat menggunakan solar cell dan membagikan tanaman gratis.

Sayangnya, gerakan semacam ini belum begitu tampak di Indonesia. Padahal, sebenarnya Indonesia memiliki peranan yang sangat penting dengan terbentangnya hutan hujan tropisnya. Ironisnya, bukannya menyumbangkan suatu pasokan oksigen, pepohonan malah ditebangi secara serampangan tanpa dilakukannya reboisasi.

As we know, we’ve only got one earth to live on, so learn to take care of it.

-aga-

Advertisements