wah,tulisanku gaya banget. ada part-part nya segala 😀 hahahaha

mengapa dibuat part 2?

lebih karena ingin menumpahkan segala keluh kesah. yahh tahu sendiri lah, aku orangnya ekspresif. karena di rumah gak ada yang bisa dicurhati, mending ditumpahkan di blog ini. ya gak ya gak? *angkat-angkat alis*

daaan lagi-lagi dengan judul yang maksa ini.

biarin lah, biar maksa yang penting nulis! yang penting aku apa yang aku pikirkan gak mampet! gak buntu!

hufhh… tarik nafas… hembuskan…

JADI kenapa aku esmosianal begini?

karena lagi-lagi aku merasa kreativitasku terganggu. privasiku diobrak-abrik. dan tak lagi bebas berbicara.

hei ada apa dengan UUD 1945 pasal 28E ayat 3 yang intinya menyebutkan bahwa rakyat Indonesia bebas berpendapat baik lisan maupun tulisan??

jujur kacang ijo, aku sebal. aku kesal. sungguh, meskipun aku hanya seorang mahasiswi yang belum begitu paham dengan dunia politik yang njlimet bin amburadul,untuk yang satu ini membuat ubun-ubunku serasa pecah.

kenapa sih harus takut dengan apa yang orang lain utarakan?

kenapa mesti membungkam mulut orang lain agar tidak mengatakan hal yang kita takutkan akan mereka umbar?

bukankah semuanya itu mengindikasikan satu hal?

bahwa kita memang MEMILIKI AIB YANG HARUS DISEMBUNYIKAN!

contoh, aku kentut kentut. udah keras, bau, di dalem perpustakaan lagi. udah gak bisa disembunyikan lagi, kan? nah, demi memperbaiki nama baik yang tercoreng moreng, aku melarang orang-orang dalem perpus untuk menyebarluaskan. akan aku ancam sedemikian hingga sampai membakar perpustakaan. DEMI menjaga nama baik.

kalau kita merasa gak ada apa-apa, tapi ternyata masih aja ada orang yang – misal – pasang status seperti :

‘yo olo si aga anaknya gak jelas banget. udah ngentut bau banget, habis ketawa, nangis, marah-marah sendiri. orgil tu anak’

[ya udah, mau apa lagi? emang orang nya gitu 🙂 ]

nah, jadikan hal itu sebagai sebuah kritik yang membangun sehingga kelak kalau mau kentut udah siap-siap bawa pewangi ruangan satu kardus. kalau mau gila ke rumah sakit jiwa dulu. kita kan jadi bisa introspeksi diri.

gak semua yang ‘tampaknya’ buruk bagi kita selalu membawa kehancuran. yakin, bahwa dibalik semua cercaan, ada hikmah bagi kita.

karenanya, tolong. jangan biarkan orde baru kembali melanda demokrasi ini. hidup sudah susah, jangan dipersusah lagi dengan mengekang kami untuk berani berbicara.

apa gunanya mengumbar kita negara demokrasi kalau bukan DARI rakyat dan UNTUK rakyat??

it’s such a structural lie which is covered behind sweet words.

-aga-

Advertisements