belakangan semangatku kuliah menurun drastis. entah apa yang membuatku seperti ini, namun sepertinya hal ini dipicu oleh kekurangan tidur. bukan berarti aku orangnya cinta tidur dan susah dibangunkan, toh rata-rata aku juga cuma tidur 4 jam.

tapi semester ini aku hampir gak pernah tidur siang.

mungkin this-nap-time-thing yang mempengaruhi efektivitas kerjaku.

saat pulang jam 4 sore setelah praktikum, aku yakin, gak akan bisa tidur. gak ada cukup waktu untuk tidur. satu jam terdengar lama, tapi setelah dipraktekkan, bangun-bangun, hanya pusing dan rasa kesal karena sudah harus bangun.

padahal untuk semester ini aku sangat membutuhkan semangat serta energi untuk tegar dan tabah melakukan semua kegiatan. oh, satu lagi. aku butuh kesabaran ekstra.

pokoknya bagi yang tahu dimana tempat upgrade software bernama sabar.exe ini, tolong beritahukan padaku. sungguh, berusaha untuk sabar itu susah. bawaannya udah pengen marah marah doang.

oh, semester dua ini aku kaget banget. penglihatanku mendadak memburuk secara drastis. kalau di ruang kuliah dan ndangak memperhatikan presentasi dosen, wauw, proyektornya kaya’ digoyang-goyang. kabur.

meskipun aku tetap masih bisa membaca, hal ini tentu aja menggangguku. alhasil, mau gak mau, kacamata minus yang sebenernya sudah ada sejak aku SMA kelas 1 harus aku kenakan. walaupun… yah… masih aja mbandel. kadang-kadang ketinggalan.

yang paling bego adalah, aku bawa kotak kacamatanya, tapi gak ada isinya. sumpah. bego banget.

namun, recently, those double glassess sering aku pakai. alasannya sih…

untuk menutupi tanda kehitaman di bawah mata akibat kurang tidur.

living in this circle which keeps turning around and around really exhaust me. and it never cares. that circle turns around every single day. around and around and around…

well, memang aku tidak ditakdirkan untuk menjalani hidup penuh tantangan seperti para nelayan atau pendaki gunung. aku hanya terdampar di rutinitas ini. berangkat kuliah, praktikum, pulang, ngerjain laporan.

berat. harus kuakui, kali ini aku tak tahan untuk tidak mengeluh. these activities are getting heavier. semoga kedua pundak kurusku ini sanggup menahan semuanya.

namun seorang kakak kelas dari SMA, sempat mengatakan:

“ya semuanya memang berat. tapi anggap saja saat ini kamu tengah ada di puncak gunung. mengamati indahnya matahari terbit dan birunya langit di atas hamparan hijaunya hutan di antara bebunyian gunung. segala lelah yang kamu dapat sewaktu mendaki pun terlupa.”

-aga-

Advertisements