tertera, 25 maret 2010. hari kamis. 10.48 pm.

pada hari ini, aku baru merasakan jadi wanita karir. eits, bukan nggaya atau sarkasme,

tapi hari kamis ini aku beraktifitas bagaikan tanpa istirahat. berangkat pagi, pulang

malam.

mari review kegiatanku hari ini.

aku terbangun dengan kaget jam 4 pagi. langsung loncat dari kasur. tanya kenapa? karena eh

karena, outline yang rencananya akan aku dan kelompokku bawa pada dosen biomat belum

selesai. gyaaa padahal mau menghadap jam sepuluh. langsung kebuuuuut. selesai sekitar jam

setengah enam.

setelah itu, melihat di meja belajar, ada sekotak pensil warna berantakan. ah, terima

kasih, aku diingatkan masih punya tugas menggambar histologi. kapan dikumpulkan? hari ini.

pukul 12 siang. jadi? kebuuuuuuut juga. jam tujuh kurang seperempat selesai. tapi entahlah

apakah gambar yang aku buat sudah sesuai dengan standar asistenku atau belum.

sedikit terlambat, jam delapan kurang seperempat aku berangkat kuliah. dan aku teruuus

kuliah sampai jam setengah empat sore. sudah lega?

BELUM.

masih ada rapat akhir tentang kegiataan UM UGM – SMANTI MALANG yang akan diselenggarakan

akhir minggu ini. berhubung aku ketuanya, maka mau gak mau harus datang. dan kemudian kita

rapat sampai jam setengah enam. sudah selesai?

lagi-lagi, BELUM.

ada kerja kelompok di kos-kos-an temanku, seusai isya’. dan hasilnya pun masih acakadut.

aduhhh, pulang ke rumah, akhirnya bisa leha-leha sejenak juga.

eh, tv nyala. papah tengah mengerjakan sebuah paper dengan kondisi tv menyala. yaa sudah,

aku pakai benda kotak itu. sembari menunggu iklan selesai, aku melangkah ke dapur. menekan

tombol ‘hot’ pada dispenser.

entah mengapa, malam ini tiba-tiba aku ingin sekali minum segelas teh. jenuh dengan si

kafein kopi – meski sebenarnya teh pun ada kandungan kafeinnya walaupun sedikit.

merebahkan badan di kursi, mug teh di hadapan.

menghela nafas panjang.

hhhaaaaaaaahhhh.

aku capek.

ya, agak seharusnya aku mengeluh capek.

semua orang capek. gak hanya aku seorang. sesungguhnya malu juga mengeluh capek, but

somehow it just slipped out from my mouth.

benar. semua orang capek. aku, kamu, teman-temanku, dosen-dosenku, orang tuaku,

tetanggaku, anak kos depan. yakin. semuuaa capek.

sruupuuut, menghirup teh. ahhhh, segar.

hari kamis segera berakhir. belum berakhir, tapi akan. dan pasti berakhir. digantikan

dengan hari jumat.

mengaduk sendok, sepertinya ada gula yang belum tercampur seluruhnya di dasar mug. tik

itik itik itik.

srupuuuut, ahhhhh.

lambat laun, kesempatan kita untuk mengeluh makin sedikit. mau tahu kenapa?

karena makin lama kita makin jauh dari orang tua, terutama mamah.

pantaskah aku mengeluh pada teman kuliah yang beraktivitas sama sepertiku? padahal aku

belum tahu pasti apakah dia memiliki pekerjaan lebih banyak dariku. jangan-jangan, setelah

kuliah dia masih harus menyapu, mengepel, mencuci piring, upik abu banget lah. siapa tahu,

setelah kuliah dia ada kerja sambilan di toko buku. siapa tahu, setelah kuliah dia harus

menunggui anggota keluarganya yang tergolek di rumah sakit?

siapa yang tahu?

hey, i really don’t deserve to do that. aku tak sebegitu berhak untuk mengeluh pada

temanku.

meskipun aku di jogja hidup dengan papah, tapi apakah aku juga dengan leluasa mengeluh

pada beliau? ha-ha-ha. mari tertaw garing.

siapa yang selama ini menjaga stabilitas rumah tangga selain papah? siapa yang menghidupi,

mencari uang, menjaga keutuhan rumah tangga?

papah. ayah. bapak.

jadi sangat amat tidak berhaklah aku untuk tiba-tiba duduk di hadapannya dan berkata,

“pah, aku capek banget. cuaaapeeek.”

meskipun papah diam saja, mungkin dalam hati, papah akan membalas,

“memangnya kamu pikir papah gak capek, mbak?”

srupuuut. teh mulai mendingin. srupuuut. cepat-cepat menghabiskan.

hari ini aku banyak merenung. dan berpikir. berkorban. berjuang.

srupuuuut-put-put. teh habis. mata setengah terpejam.

everyday we fight. start another phase after the phase before. and we never give up.

percayalah, meskipun ada yang berkata, “aku nyerah! aku gak kuat lagi!”

tidak berarti ia benar-benar menyerah.

apa buktinya?

hey, we still alive. we still move on. and carry on.

hanya ada satu jenis orang yang totally give up.

siapa?

orang yang bunuh diri.

tanpa ditilik dari berbagai aspek, terlihat orang bunuh diri

tidak-bisa-bertahan-melawan-seleksi-alam.

maka berbahagialah orang-orang. kita masih bisa bangun keesokan harinya. atau lebih

tepatnya, masih dihidupkan keesokan harinya. itu adalah bingkisan, karena kita masih

berusaha, we’re still fighting, melawan kejamnya seleksi alam.

-aga-

Advertisements