seminggu yang lalu, hari sabtu malam, aku sendirian di rumah. duduk termenung di depan TV

dan merasa goblok banget. ada TV kok gak dimanfaatin?

alhasil, dengan suka cita aku menonton sebuah film berjudul Wild Child untuk kesekian

kalinya. yang main Emma Roberts dan cowok inggris tampan rupawan, Alex Pettyfer. bukannya

film ini worth to watch banget, cuma aja Wild Child adalah tipe film ringan yang gak akan

bosen ditonton berkali-kali.

dan, baru saat nonton itu aku merasa sangat tersentuh dengan salah satu original

soundtrack-nya, yaitu Chasing Pavements by Adele. lagu ini tahun 2009 meraih grammy award

sebagai best new comer, mengalahkan Jonas Brothers. sekali lagi, baru pada malam itu aku

meresapi makna lagu tersebut.

‘should i give up, or should i just keep chasing pavements? even if it leads nowhere’

seriously, saat ini kata-kata itu sangaaat dalam. begitu mengena dan menyangkut banyak

aspek.

aspek pertama : love life.

okay, katakan bahwa aku sangat plin plan. berapa kali aku sudah katakan aku putus asa

mengharapkan iceman? berkali-kali. berapa kali pula aku kembali berharap padanya lagi?

berkali-kali, sama kalinya dengan jumlah aku putus asa.

hei, mencoba untuk ikhlas itu susah sekali.

kali terakhir, aku sudah menguatkan hati untuk melepasnya. sekarang? astaga, entahlah.

seakan-akan apa yang telah kuucapkan ada di ambang batas. tak tenggelam, tak juga

terapung. layaknya percobaan zaman SD dulu, telur dalam air garam, telur ‘tekad’ ku ini

melayang.

sungguh, bukan ini yang aku mau. aku pun enggan melayang-layang, terkatung-katung. namun

untuk menyerah, untuk give up, pun rasanya bukan ‘aku’.

‘should i give up, or should i just keep chasing pavements? even if it leads nowhere’

aspek kedua : cita-cita.

sejak pertamaaaaa kali berkenalan dengan harry potter, gosh i’m dying to be one of JK

Rowling-wanna-be. aku pengen menciptakan sebuah novel fiksi se-dahsyat harry potter. aku

ingin menciptakan dunia sendiri dan menarik orang untuk tinggal di dalamnya.

nyatanya? saya terjebak di dunia per-gigi-an. bukan berarti aku gak suka di fakultas

kedokteran gigi, tapi aku gak boleh nyerah. sebesar apapun aku ingin jadi penulis. halooo

ini orang tua sudah susah payah membiayai masuk FKG masa’ semudah itu aku melepasnya hanya

untuk menuntaskan hasrat menulis dan itu pun belum pasti tulisanku bakal ada yang beli

atau gak.

sounds really pesimistic, but this is reality. we often have to let go what we’ve been

dreaming of to survive. and it’s not once, or twice, but many times.

menyakitkan. menyedihkan. tragis.

masalahnya, ‘pavements’ ini sangat abstrak.

gak ada yang tahu, pada akhirnya, ‘pavements’ seperti apa yang akan jadi tujuan akhir

kita. yang pasti, dan harus kita percayai,

we are leading somewhere.

-aga-

Advertisements