ola, como esta semuanya 🙂

bagaimana kabar kalian di hadapan layar kompi atau laptop atau hape masing-masing? baik,

baik?? oh, saya sangat sehat, fantastis terima kasih sudah bertanya 😀

sebelum masuk topik, tebak-tebakan dulu ya. menurut kalian, setelah membaca judul post

baru ini, akan seperti apakah isinya?

A. cinta-cintaan antara aga, iceman, dan tudgeman

B. lagunya kahitna

C. ah, paling si aga juga becanda doang, moodnya sedang konyol

ayo ayo, dipilih dipilih dipiliiihh… siapkan jawaban, ya.

udah, udah??

ayo di review satu-satu…

yang jawab A, TET TOOOT!!! maaf kawan, anda salah. begini, ya, aku udah menganggap gak ada

lagi julukan iceman, secara aku sudah putus asa menghadapi cueknya doi. mudah-mudahan

ikhlas… 🙂 tudgeman? ah, kita juga sudah cukup berteman saja. haahaha

terus, yang jawab B, TET TOOOOT!!! aku suka lagu ini, cuman gak kuat nyanyinya, jadinya

sudah bisa dipastikan lagu ini dicoret dari ‘sing-list’.

kemudian, jawaban C… TRRIIIING!! selamat, selamat…kalian benar sekali. yang jawabnya

bener, silakan tulis di kolom komen di bawah, nanti ada ucapan selamat dariku dan piring

cantik selama persediaan masih ada, hihihi

jadi begini kawan-kawan senegara setanah air Indonesia pusaka,

aku melambangkan aku sendiri, seorang aga yang… yah begini lah. nekat-konyol-moody.

dirimu melambangkan si mio, sepeda motor yang sehari-hari kukendarai pulang pergi dari

rumah ke kampus yang jaraknya cuman satu kilo-an. ckckck, kasian amat kamu, jarak

tempuhnya pendek sekali.

sednagkan dirinya melambangkan teman-teman di kampus yang sudah menjadi korban aku

boncengi. oh, ya, benar sekali. korban.

selama di malang, motor yang ada adalah honda supra-x, lah waktu pindah jogja, papa

mengusulkan untuk beli motor aja. si supra ditinggal, dan diduakan dengan yamaha mio.

awalnya, aku aagak gak setuju papa beli motor matik. kenapa??

karena eh karena, aku pribadi merasa naik motor semi-manual (masih ceklik-ceklik gigi)

jauh lebih aman dan terkontrol. yah, walaupun gak seribet motor manual yang berkopling,

tapi paling enggak aku lebih pede aja. namun, ada satu kekurangannya.

si supra-x itu berat sekaleeee. akhirnya, setujulah aku buat menebus si mio putih. selamat

datang, mio. meoong meooong.

eh, gak berapa lama, aku menemukan keasyikan sendiri mengendarai mio. pasti buat yang

awalnya naik semi-manual terus pindah ke matik juga merasakan hal yang sama. tanya apa?

ngebuuuut!!! naik mio jadi lupa daratan, bawaannya pengen nge-gaaaass terus!!

ngooeeeenggg!!! ada polisi tidur? cueekk!! terabassss!

pokoknya, pewe banget lah, naik ngebut sama si mio 🙂

nah, di sinilah petaka dimulai. korban pertama: si rambut gila Reina Parardhya Nadiawati.

temen-temen bisa juga klik link reina di samping, cari blog dia yang judulnya kalo gak

salah ‘petaka baju baru’ atau apa gitu pokoknya ada baju baru nya lah. jadi ceritanya, dia

sebelum bawa mobil aku tebengi naik motor. suatu hari, gak ada angin gak ada ujan, reina

memutuskan untuk mengenakan ROK dan duduk MIRING di sepeda motor.

“aku naik ya, ga.”

“oke.”

“*bluk* udah.”

“beneran udah, rei? *gak yakin*”

“iya, udah.”

“beneran, ya?”

“iyaaaa *nada meyakinkan*.”

mesin dinyalakan, TANCAP GASSS. polisi tidur satu, lewat. polisi tidur dua… lew—

“eh-eh-eh, GA!!! AGA!!!”

“lho-lho-lho?eh-eh-eh, REI!! REINAAAA!!”

si reina udah ngelesot di bawah, di gang rumah dia, tepat setelah polisi kedua terlewati.

“ya ampun, ya ampun, ya ampun, gapapa, rei? ya ampun, maaafff maaffff banget. sori soriii”

“iya, gapapa, ga.” sumpah, baik hati sekali reina.

“ada yang berdarah?”

“ugh… iya, ini berdarah.” dan aku pun mengantarkan reina kembali ke rumah. dia berjalan

tertatih-tatih, sebelah tangan mengangkan roknya sedikit, dan reina pun berhasil tidak

masuk kuliah hari itu.

korban kedua: mbak kos ku, mbak inggit yang sering kupanggil mbak gigit. hari itu aku

minta ditemeni nyari harddisk external sampai ke salah satu jalan paling ramai di jogja.

daerah gejayan alias jalan affandi.

*ngeeeeng, ngobrol sambil nyetir motor*

“kok kayaknya gak ada toko komputer yang buka, ya, mbak?” NB. itu hari minggu.

“eh, iya, ya, ga…”

“eh, itu coba, deh” aku ngelihat ada toko kompi di depan dan ngegas pol. tahu-tahu mbak

inggit udah teriak-teriak dan ada bunyi klakson panjang. TIIIIN!!!

“lho, kenapa e mbak?”

“astaga, aga!! tadi kamu itu nyelonong jalannya si mobil item, dia udah separo jalan

nyeberang!!”

“*speechless*”

“alhamdulillahh….”

“maaf ya mbak. *tanpa ekspresi*”

“ya ampun, kaget aku gaaaa.”

“sori banget ya mbak. *masih tanpa ekspresi*” mbak inggit ngelus-ngelus thorax, kelihatan

legaaaa banget.

korban ketiga yang masih layak diceritakan: sari, temen happy kids, asli jogja, mantan

murid Teladan. Teladan ini julukan SMA 1 jogja, ya 🙂 kali ini ceritanya kita sedang

nyasar muter-muter jogja, nyari jalan ke galeria. nah, si sari ini ngajak aku bareng dia

aja, biar satu motor aja yang keluar. harusnya yang ngajak yang nyupiri, kan?? lahh si

sari malah minta disupiri, tapi pake motornya. by the way, motor sari adalah honda supra

fit yang notabene adalah motor SEMI-MANUAL.

masalahnya, sudah cukup lama aku gak bawa motor jenis ini. dan terakhir kali, ehm… aku

mengendarai dengan lumayan brutal.

“sar, yakin kamu mau aku supiri?”

“iya, deh, ga. kamu aja.”

“meregang nyawa nih sar.”

“bismillah, deh.”

“nanti aku tanggung jawab sama bapakibu mu, gimana?”

“sudahlah, ga. bismillah.”

dannn, siang ini, lagi-lagi aku memotong jalan sebuah mobil gara-gara belum kenal sama

daerahnya. lagi, klakson berbunyi kencang dan panjang. TIIIINNN!!!!! dan mungkin pula

sumpah serapah si empunya mobil.

“gaaa! itu kan mestinya nunggu lampu merahh!!”

“haaah?!”

“iyaaa.”

“emang ada lampu merah, sar?”

“ya ada lahh!!”

“huhuhuhu maaaf paaak, saya mahasiswa tahun pertamaaa!!” sisa perjalanan pun aku

teriak-teriak gak jelas, padahal gak mungkin juga si pengendara mobil denger aku minta

maaf.

yah, paling enggak ada satu hal yang penting : MEREKA BERTIGA SAMPAI SAAT INI MASIH HIDUP.

tante, om, maafkan teman anak-anak Anda yang seperti ini…

ah, tapi naik mio ada satu kekurangannya nih. bannya gampang bocor… entah ini hanya

terjadi padaku atau pada semua pengendara mio, yang jelas, gak sampai setengah tahun, udah

ditambal 3 kali ini motor. ban belakang 2 kali, ban depan 1 kali.

sumpah, ya, ini yang bego sebetulnya motornya atau pemiliknya???

-aga-

Advertisements