“cut-cut-cut!!! mana ekspresinyaaaaaaaaaaaaa?!?!?!”

weits, inget gak sama iklan itu? secara pribadi, aku sukkaa banget sama iklannya, hanya

menyayangkan iklan se-inovatif itu mesti dipakai untuk barang yang sangat aku benci. bagi

para perokok, hati-hati kalian semua!! 97% kalian masuk black-list ku!! mhuahahahahahaha!!

eniwei, sekarang ini untuk anak-anak SMA adalah saatnya menentukan pilihan hidup dan mati.

apakah itu?

memilih universitas, fakultas, serta jurusan yang benar-benar diminati.

pada awalnya, sepertinya mau gak mau aku harus mau masuk Fakultas kedokteran. dikarenakan

tiga hal:

1. hampir semua keluargaku adalah dokter. kakek-kakek dan om-om adalah dokter. spesialis

pula. nah, berhubung papa dan mama bukan dokter, mereka sepertinya amat berharap aku masuk

kedokteran.

2. SMA ku dikenal sebagai ‘pencetak dokter’. entah kenapa, sepertinya gak afdol aja kalau

gak daftar kedokteran.

3. aku payah banget dalam pelajaran F I S I K A. kalau aku masuk teknik sama aja cari

mati. bagaikan membaringkan badan di tengah rel kereta api atau mengikat diri di

baling-baling pesawat terbang.

namun, dalam perjalanan mencari kitab suci <kera sakti banget>, akhirnya kuputuskan untuk

mengambil fakultas kedokteran gigi. dan tahu nggak kenapa aku milih masuk Fakultas

Kedokteran Gigi? karena salah satu temanku di SMA, namanya grady, punya kakak lulusan FKG

dan dari sudut pandangku dia kelihatan sangat hebat.

aku masih inget, pertanyaanku pada grady tentang kakaknya yang aku ajukan lewat short

message service alias sms.

‘lho, kalo fkg berarti harus kedokteran dulu baru spesialis gigi gtu?’

dan jawaban yang diberikan grady amatlah menggoda iman dan takwa.

‘eh, ya gak lah, ga. fkg tuh uda jurusan sendiri. fk ya fk, fkg ya fkg.’

wa wa wa wa wa wa wa wa mantabachan. lalu aku mendekati mama dan bertanya pelan.

“mah, boleh masuk fkg?”

“fkg? gigi?”

“*ngangguk*”

“ya gak pa-pa sih, kalau kamu seneng.”

“insya Allah, mah. gigi adalah benda favoritku.”

akhirnya…

di sinilah saya berada. semester dua di FKG UGM.

sudah cukup jauh jalan yang kulalui hingga semester dua ini. anehnya, sampai detik ini aku

masih merasa bahwa berada di FKG marupakan mimpi dan aku terperangkap di dalamnya, gak

bisa membuka mata dan bangun. masih saja aku berpikir, saat aku sadar nanti, ternyata aku

baru akan menghadapi ujian nasional dan masih berbingung-bingung ria mencari sekolah

bersama dengan teman yang lainnya.

rasanya, badanku memang setiap hari duduk di bangku fakultas kedokteran gigi UGM dan

mengerjakan makalah serta memulai praktikum membengkokkan kawat. namun nyawaku? mungkin

tengah menikmati semangkok bakso di malang. bisa jadi malah berada di ‘mimpi’ lain.

nah, pertanyaannya, ‘mimpi’ apa?

‘mimpi’ ini adalah apa yang orang-orang sebut dengan obsesi. oh ya, setiap orang punya

obsesi. sama seperti iklan yang aku contohkan di awal sekali. kalaupun ada yang berkata,

“apa yang kukerjakan saat ini sudah merupakan obsesiku sejak kecil.”, maaf saja, rasanya

dia salah.

obsesi itu biasanya timbul di alam bawah sadar dan muncul secara refleks dan spontan. yah,

balik-balik lagi seperti contoh iklan itu. dan, ya, rasanya aku memiliki beberapa obsesi

di balik ‘keseriusan’ meraih gelar drg ini.

mau tahu?

ada dua obsesi terbesar. mungkin dari kebiasaanku nge-blog udah ketebak ya. bener banget,

aku pengen jadi penulis. novelis lah. terutama novelis untuk remaja. mengapa sasarannya

remaja?

karena menurutku, bacaan remaja saat ini kurang variatif. hayo, tebak-tebak-an deh, isi

teenlit itu tentang cinta. cewek suka cowok, tapi si cowok gak suka, si cewek berusaha

me-make over dirinya, tapi tetep gak bisa menarik perhatian si cowok, dan akhirnya malah

jadian sama sahabatnya.

ough, such cliche.

klise, tapi kurang rasional.

malah menurutku, aspek persahabatan kurang diangkat. padahal, dalam masa-masa labil itu,

ketika remaja mencari jati diri, dengan siapa kita berteman sangat mempengaruhi

perkembangan psikis. jika beruntung, jalan kita bakalan mulus. teman-teman di sekitar kita

bisa jadi pemacu sehingga kita menjadi sosok yang lebih baik setiap hari. lah, kalau

salah? jangan-jangan kaya’ si vokalis yang nyabu atau artis pilm yang baru keluar dari

penjara terus melahirkan itu.

kasian orang tua, oy. mereka udah susah-susah nyekolahin, eh, kita malah main-main.

sungguh, kasihan papa mama.

terus, obsesi kedua?

ehem. balik lagi nih. aku pengen jadi sutradara film. ya, sama seperti yang ‘mana

ekspresinyaaaaaa?!’ itu. apalagi menyutradarai film yang diadaptasi dari novel buatanku.

waaaah dreams come true banget 😀

sempat nih mengkhayal konyol.

nanti, saat sudah buka praktik sendiri, ada pasien giginya goyang dan perlu dicabut

sementara ternyata ada shooting…

bayangkan tangan kanan memegang tang, sedangkan tangan kiri menggenggam megaphone raksasa.

malah mirip robot power ranger yang baru.

well, however ini cuma obsesi. bagi kalian yang dapat mewujudkan obsesi terbesar kalian,

aku ucapkan selamat… gak semua orang seberuntung kalian… huhuhuhuhu

never stop struggling cause what we’re doing always get payback.

-aga-

Advertisements