kata siluman babi cupatkai di fil kera sakti, “derita cinta tiada akhir”

mau gak mau, harus setuju. mau gak mau, aku menganggukkan kepala. dan mau gak mau, aku terperangkap di dalamnya.

sebagai seorang cewek, aku gak pernah terang-terangan menunjukkan perasaanku pada cowok yang aku suka. terlebih, yang sangat sangat sangat aku suka. yang aku sayang.

“sekarang zaman modern. gak ada salahnya cewek nembak duluan.”

maaf, aku harus mengatakan tidak dengan lantang. ya, katakan aku kolot dan old-fashioned, tapi dari sisiku, seorang cewek harus punya dignity dan pride yang tinggi. jangan mau jadi cewek murahan yang gonta-ganti cowok. tapi juga jangan jadi cewek yang selalu terjebak dalam masa lalu.

dan dalam memegang komitmen itu tidak mudah.

satu jam menuju pergantian hari ke tanggal 27 februari, seraya menyalin catatan kuliah Teknologi Kedokteran Gigi, aku mendengarkan mp3 buatanku sendiri. folder pertama adalah lagu dari Boys Like Girls album pertama tahun 2005. tak terasa, melangkah pada folder ke-3 yaitu kumpulan lagu band dalam negeri favoritku: Sheila On 7 (SO7).

entah lagu apa saja, dari tahun berapa saja semua tumplek blek di folder itu.

mendadak kegiatan menulisku tertahan oleh sebuah sms yang masuk ke ponselku. aku pikir yang mengirimnya adalah salah seorang adik kelas yang tengah menunggu hasil ujian tulis masuk UGM yang diadakan minggu lalu.

ternyata aku salah besar.

sms itu datang dari cowok yang kutolak sebulan yang lalu. cowok yang kuinisialkan dengan nama tudgeman. hatiku mencelos. seperti ada gigi palsu menggigit lambungku. ada apa ini?

hi? km msk kpn? alhamdulillah q ud g sakit lg u/ bcr ma km. qt bs ttp jd tmn kan?

sebenarnya isi sms itu sangat sederhana. namun kata-kata ‘aku sudah gak sakit lagi untuk bicara sama kamu’ terus berulang.

apakah sesakit itu rasanya ditolak?

nyatanya, kita terus berkirim pesan, saling membalas walaupun isinya sangat gak penting. well, salah satu sms nya ada pula, sih, yang lagi-lagi membenturku. ia bilang,

emang km sk somay? wadoh aneh y q suka km tp gtw sukaanmu ap…

for God sake, jujur, aku speechless. gak bisa berkomentar apa-apa. yang jelas, ditambah dengan kalimat yang ini, lambungku terasa makin janggal. mungkin ada dua pasang gigi palsu sekarang yang menggantung di sana.

masih mendengarkan folder SO7, dan karena aku gak tahu urutan lagu berikutnya, terputarlah lagu berjudul Seberapa Pantas.

seberapa pantaskah kau untuk kutunggu?
cukup indahkan dirimu untuk selalu kunantikan?
mampukah kau hadir dalam setiap mimpi burukku?
mampukah kau bertahan di saat kita jauh…
seberapa hebat kau tuk kubanggakan?
cukup tangguhkan dirimu untuk selalu kuandalkan?
mampukah kau bertahan dengan hidupku yang malang?
sanggupkan kau meyakinkan di saat aku bimbang…

celakanya, hanya kaulah yang benar-benar aku tunggu
hanya kaulah yang benar-benar memahamiku
kau pergi dan hilang kemanapun kau suka
celakanya, hanya kaulah yang pantas untuk kubanggakan
hanya kaulah yang sanggup untuk kuandalkan
di antara pedih aku slalu menantimu…’

lebih karena dorongan hati, aku mengetik di layar ponsel,

‘aq lagi dengerin seberapa pantasnya sheila on7. kok jdi brasa mellow ya?

dan dia bales,

‘gpp. jauhin lagu2 kaya’ gtu yg bikin km ragu. ku doain bs jadi ya… jd inget waktu abis km tolak aq sering nyetel dear god…

dan tahukah kalian, setelah Seberapa Pantas, lagu berikutnya adalah Tanyaku by Sheila on 7
dari album Pejantan Tangguh (silakan klik judul lagunya untuk sekedar dengerin atau mau donlot). entah kali ini apa yang terjadi, aku mengeluarkan air mata. bukan hanya genangan air mata, tapi cucuran air mata. gak bisa berhenti.

‘tak pernahku merasa hawa sehangat ini di dalam hidupku
kau beri dan kau bagi semua marah dan candamu
kuharap hanya untukku
tak pernah ku dihinggapi bahagia seperti ini
jatuh hati

tumbuhkan nyaliku tuk nyanyikan kepadamu
“aku cinta”
sesaat tersenyum, dan kaupun terdiam
dan berpaling, biaskan laguku

seolah tak tahu, hanya engkau yang kutuju
akan kunantikan hatimu mengiyakanku
kumau kau tahu tiap tetes tatapmu iringi tanyaku, “kapan kau jadi milikku?”

saat kau meratap, saat kau bahagia
ku ingin ada di sana
saat ku melangkah, saat ku berpijak
adakah kau bersamaku?’

ada satu bayangan dalam benakku saat itu. siapa lagi kalau bukan iceman? teman sekelasku sejak kelas 2 SMA, dan baru belakangan aku sadar bahwa aku menyukainya. seketika aku pun sadar, aku terlambat.

aku sangat terlambat.

aku merenung lagi apa yang menjadi pertanyaanku di awal tadi, sepanjang lagu ini yang akhirnya ku repeat beberapa kali. sesakit apakah perasaan tudgeman saat aku tolak? apakah sesakit ini saat aku secara-tidak-langsung telah tertolak oleh iceman? apakah pada akhirnya aku harus menyerah pada komitmenku dan membiarkan aku mengatakan yang sebenarnya pada iceman?

leherku tercekat saat menulis blog ini.

aku pernah menyerah terhadap situasiku ini pada iceman. dan tak lama bangkit lagi. lalu angkat tangan. namun kembali kuturunkan tanganku. sempat kukibarkan bendera putih, ah akhirnya kulipat dan kusimpan secarik kain itu.

kali ini, apakah aku akan jatuh? lagi? seperti sebelumnya?

kalau iya, apakah aku akan bangkit (lagi) seperti sebelumnya pula?

bagaimanakah aku bisa bangkit (lagi)?

ah, terlalu banyak pertanyaan yang bahkan tak sanggup kujawab. mungkin memang harus mengikuti arus.

water always ends in sea. what can a tiny rock do to a steady flow?

rasa-rasanya, kali ini aku terjatuh. ke dalam lubang yang sedikit lebih dalam.

-aga-

Advertisements