Alis nekuk, mata menyipit, bibir melengkung ke bawah, diem melulu, ditanya jawabannya sarkastik. Dari apa yang aku sebutkan tadi sudah jelas kalau semuanya adalahh tampang orang sedang suntuk. Sedang bete alias BT yang kepajangannya Bad Tempered. Bahasa gaulnya Bad Mood. Yahh siapa sih yang gak pernah bad mood? Bad mood adalah salah satu bawaan kita kalau suasana hati sedang gak enak, kepikiran sama tugas misalnya. Wajar, kok, kalau kita bad mood.

Pada tanggal 23 februari 2010, manusia bernama ayu fresno argadianti, yang biasanya dipanggil aga dan menolak mentah-mentah dipanggil ayu ini mengalami bad mood. Salah satu yang terparah yang pernah aku alami. Pemicunya ditengarai adalah karena kebiasaan burukku. Apakah itu?

Begadang.

Rhoma irama emang nyanyiin, “begadang jangan begadaaang, kalau tiada artinyaaa…” tapi namanya juga “darah muda, darahnya anak remaja…”.

Yaak, ndangdut mode ON.

Entah kenapa, belakangan hobi begadangku kumat. Jangan tanya ngapain, karena aku pun gak ingat kemaren-kemaren begadang ngapain aja. Seakan-akan saat ini aku tengah berada dalam masa ‘the hangover’ setelah mabuk-begadang – dan sedang kecanduan film The Hangover juga, hahaha. Film ini bagus, menghibur banget J

Sejak balik ke jogja, tanggal 13 februari, mata ini ogah banget disuruh nutup. Baru bisa tidur jam 12, jam 1 pagi, jam 2 pagi… ada 3 hari berturut-turut aku tidur jam setengah 2 terus. Dan sekali lagi, JANGAN TANYA NGAPAIN. Nah, hangover-nya begadang apa?

Bad mood besar-besar-an. Ucapkan selamat tinggal pada seorang aga yang biasanya ngakak dan cerewet. Letuskan confetti untuk sosok bertaring dan sinis yang sensitif sekali. Oh, yeah. It’s  been a long time since i have this kinda bad mood. Dan selama kuliah, rasanya baru sekali ini pula aku menampakkan sisi lainku ini.

Apalagi, selain dampak begadang, ada praktikum perdana di semester dua kedokteran gigi ini. Mata kuliah Teknologi Kedokteran Gigi dengan beban 2 sks. The damn 2 sks.

Praktikum perdana hari selasa itu adalah membengkokkan kawat.

Silakan, silakan ketawa. Remeh temeh banget ya, mbengkokin kawat aja dibesar-besar-in.

Ough, you guys never know what you’re dealing with. Kawat klamer berdiameter 0.7 mm bukanlah seorang sahabat yang bisa diajak kerja sama. Kalau dikitik-kitik gak ketawa. Kalau diajak ngobrol gak nyaut. Kalau ditraktir bakso gak dimakan sama sekali. Giliran kalau dibuang aja ilang.

Oh, for God sake, hari itu sangat membuat capek. Menguras tenaga lahir batin. Parahnya, banyak temen-temen di kampus yang menanyakan hal yang sama. Apakah itu?

‘aga, untuk praktikum nanti yang dibawa apa aja?’

Dan ada pula yang paling ngeselin, udah tahu kegiatan kita kemaren Cuma bengkok’in kawat, masihh aja tanya, ‘spatula, rubber bowl, sama kuvet perlu dibawa gak, ga?’

GRRRRRR, for crying out loud, to bend a wire, all we need is pliers! *tarik nafas dalam-dalam… hembuskan… ulang 7 kali*

Ohkaay, setelah menghadapi orang-orang sejenis, saatnya benar-benar menghadapi praktikum. Pakai jas lab, yo olo sumpah panas banget. mana 140 mahasiswa/i disumpelin ke dalam sebuah ruang praktikum tanpa AC, bawa-bawa tang dan model cetakan gigi, God, thank’s You still keep my life inside. Untungnya, praktikumku ini berhasil, sukses di ACC 30 detik sebelum praktikum diumumkan berakhir.

Namun bad mood ku belum berakhir. Hari masih panjaaaang.

Setelah 3 jam dikalengin kaya’ ikan sarden – yang juga merupakan lauk hari senin – dan baru rebahan di kasur, masuk sms. Dari temen kuliah juga, dia tanya,

‘aga, agenda untuk besok apa?’

Bujuhhh, kaya’ udah keburu-buru pengen hari rabu. Udah gitu bahasanya pula, ‘agenda’. Bilang jadwal aja napa??? Ugh, semua-mua kerasa gak enak banget di hari selasa ini.

Sayangnya, sampai saat ini sifat bad mood masih seperti jelangkung. Datang tak diantar, pulang tak dijemput.

Eh, kebalik ya. Datang tak dijemput, pulang tak diantar.

Ya, bad mood itu nongolnya gak bilang-bilang. Hilangnya pun gak kerasa. Dan bagaikan HIV/AIDS, bad mood belum ada obatnya. Sesuka apapun kita sama cokelat, kalau pas bad mood dihujani coklat setinggi everest pun gak ada gunanya. Salah-salah coklat segunung itu langsung dibuang gitu aja ke grand canyon.

Dalam menghadapi orang bad mood, Begini salah, begono salah. Yep, bener banget. kalau mau minta maaf, lha emang salah kita apa? Mau dibiarin aja, juga kerasanya gak enak. Mau diajak ngobrol, tanggapannya dingin. Diajak ketawa, malah dibales sindiran. Contohnya gini, nih.

Peralatan praktikumku dan teman-teman seangkatan belum semuanya datang. Salah satu yang belum datang adalah bunsen burner. Itu tuh, botol bentuk labu-labu-an yang bisa diisi spiritus. Nah, waktu disuruh bawa alat ini, jelas aja aku gak bisa bawa. Mau gimana lagi? Lha emang belum dibagiin!

‘aga, udah beli spiritus?’

‘belum.’

‘nanti bawa bunsen burner?’

‘kalau bisa, malah pengennya bawa kompor.’

‘………’

Nah, serba salah banget, ‘kan? JADI, tips aja nih, untuk temen-temen yang sering menghadapi orang bad mood.

Tinggalin aja. Biarin aja. Pokoknya jaga jarak aja, deh. Gak usah tanya-tanya, ‘kenapa, sih? Kenapa, sih?’ Trust me, itu hanya membuat taring memanjang dan menumbuhkan ekor serta sayap, ditambah bisa mengeluarkan api dari mulut.  Tenang aja, kalau yang bersangkutan sudah tenang – dan merasa kesepian, dia pasti bakal menghampiri kalian sendiri. Okok?

-aga-

Advertisements