“KUTANG!! kupass bintangg!!”

mendadak aja mamah ngomong sendiri pas kita berdua lagi nonton tv. what the heck in the world made my mom said that, eh??? menoleh, dan aku mendapati mamah nyengir.

“kutang, mah?”

“iya, kutang.”

“kutang?”

“iya, nduk.” astaga. semakin lama semakin gak ngerti aja.

“kutang apa, sih?”

“itu lho, acara gosip dulu waktu kamu masih kecil. namanya kutang, singkatannya kupas bintang.”

“acara gosip?”

“iya, gosip. yang bawain acaranya cowok, rambutnyya gondrong. duh, namanya siapa, ya?”

setelah meninggalkan mamah bernostalgi(l)a mengingat-ingat si rambut gondrong, aku masih terpukau dengan nama acara gosip itu. simply one word. kutang. wow.

hm… kutang, sebuah kata benda. bisa dong diutak-atik dengan menambahkan prefiks dan sufiks.  seperti kata kopi.

coba deh prefiks me + kopi = mengopi. artinya jadi membuat kopi. ditambahi sufiks ya. me + kopi + kan = mengopikan. artinya membuatkan seseorang kopi. kopi apa sih ini? bukan kopi item yang bikin melek itu, lho ya. di sini kopi itu salinan, diserap dari bahas inggris copy. okok??

nah, mari bereksperimen dengan kata kutang. me + kutang = mengutang. artinya membuat kutang. me + kutang + kan = mengutangkan. artinya membuatkan seseorang kutang.

oh bapak dan ibu guru bahasa indonesia, tolong cek keabsahan ijazah saya. sumpah, yang di atas barusan tolol banget. ngaco sama sekali. tak cocok untuk konsumsi pelajar yang mau unas.

tahu gak kenapa aku jadi tambah gila gini? gara-garanya satu hal. males ngambil duit.

berawal dari kemalasan itu, akhirnya menimbulkan efek domino. jadi begini urutannya:

males ambil duit –> gak punya duit –> padahal banyak yang harus dibeli –> ngutang.

dan perhatian di sini, kata dasar dari ngutang di sini bukanlah kutang yang diberi prefiks ng-, melainkan hutang. yang bermakna, aku berhutang. bukan berkutang. yaaa sebenernya gak salah juga, sih, tapi… *awkward*

ah, sudahlah, kalian sudah tahu apa yang aku maksud ahahaha

ya, kawan-kawan semua, saya telah berhutang di sana-sini huhuhu.
sebut saja, sari yang dengan rela membayari fotokopian laporan biokimia sebesar 25rebu rupiah. terus ada pula ratna yang dengan baik hati menanggung biaya tang ortho universal beserta resin akrilik dan juga mata bur sejumlah 64rebu rupiah – tapi yang ini udah lunas kok :). nah, baru-baru ini aku juga membebani gita dengan memintanya untuk membelikan tang ortho bulat seharga 45rebu rupiah. oh, belum lagi luky yang fotokopian nya juga belum kutebus, entah berapa jumlahnya. reina… oh, untunglah si rambut gila satu ini tidak menjadi korban.

maafkan teman kalian satu ini ya, hahahaha.

yakin, deh, sesungguhnya ngutang bukanlah suatu hal yang sering kulakukan. gak seperti ngopi – yang artinya bikin kopi ya. ngutang ini lebih karena – seperti yang sudah kukatakan, malas ngambil duit di atm.

tanya kenapa?

karena atm bank terdekat tempat aku menabung terletak di seberang jalan. dan bukan sekadar jalan, tapi jalan raya. dan lagi-lagi, bukan sekadar jalan raya, melainkan JALAN KALIURANG YOGYAKARTA yang terkenal dengan keramaiannya dan kebrutalan para pengemudi kendaraan bermotornya.

ya, percayalah, tanpa kenekatan, kalian gak akan bisa ngapa-ngapain di jalan kaliurang. para pengemudi motor dan mobil serta kendaraan lainnya gak akan kasih kalian jalan, kecuali:

1. kalian bawa kendaraan mobil atau yang lebih besar. bison, misalnya, dan gak nge-dim. nyalain lampu untuk minta jalan itu lho. ctik-ctik-ctik. tahu gak, cara ini pun nyatanya jarang berhasil.

2. kalian punya klakson sekeras klakson truk. DOOOONG!!!! namun, pada prakteknya, yang membunyikan klakson itu malah pingsan sendiri, gak jadi nyeberang.

3. kembali lagi pada asas NEKAT, dan oportunis. ambillah kesempatan dalam kesempatan, kombinasikan dengan kenekatan, dan ta-da!! sarjana dalam hal menyeberang jalan kaliurang.

jadi, kesimpulannya, untuk sari, gita, dan luky, mohon kesabarannya yaaa.. hihihihi 😀

-aga-

Advertisements